
"Jadi Ibu ngomong apa aja tadi sayang?" tanya Gavin.
Operasi sudah usai, Gavin dan Diandra tengah mencuci tangan bersih-bersih, ini kali pertama Diandra masuk OK, padahal dia belum mulai koas, bisa begitu karena jangan lupa bahwa suaminya yang memimpin operasi tadi, jadilah Diandra bisa menyusup ke dalam, kalau tidak? mana bisa?
"Kita ngobrol banyak tadi Mas," jawab Diandra sambil mengeringkan tangan.
"Ada obrolan aneh-aneh?" kejar Gavin, pasti Ibunya sudah mulai membuat istrinya sakit kepala.
"Mas..." desis Diandra lirih.
"Ibu kayaknya udah pengen banget cucu dari kamu," ucap Diandra.
Sudah Gavin duga, Gavin tersenyum, dia menarik tangan sang istri membawanya keluar dari sana, ada obrolan penting dan agak privasi yang tidak bisa mereka bahas di sini, tentu tempat paling tepat adalah ruangan Gavin sendiri bukan?
"Balik ke ruangan Mas, kita belum makan kan tadi?" ucap Gavin.
############
Kiki mencebik, seharian ini moodnya anjlok, selain memar, lecet dan nyeri yang dia rasakan di beberapa bagian tubuh, obrolannya dengan Diandra tadi membuatnya keki setengah mati.
Dia berjodoh dengan Dokter somplak itu? jangan sampai!
"Gila apa?" Kiki merubah posisi tidurnya.
"Aku jodoh sama dia? nikah sama dia? bisa edan aku!"
Baru duduk dan mengobrol dengan lelaki itu barang sebentar saja Kiki sudah sakit kepala apalagi menikah dengan lelaki model somplak begitu, amit-amit!
Kiki tertegun, mendadak dia teringat kisah Diandra dengan Gavin, bagaimana dulu kisah mereka bermula tentang Diandra yang juga merasakan apa yang sekarang Kiki rasakan.
'Aku nikah sama dia? please jadi mahasiswi dia aja aku hampir gila dia buat, apa lagi jadi istrinya!'
Tentu Kiki masih ingat hal itu, hal yang rasanya kini Kiki alami, apakah benar apa yang Diandra katakan? dia berjodoh dengan lelaki tadi?
Ah agaknya tidak!
Dia dan lelaki asing yang tidak Kiki kenal siapa namanya itu hanya sekali tadi bertemu dan agaknya mereka tidak akan bertemu lagi, cukup tadi sajalah, Kiki sudah tidak mau lagi.
__ADS_1
"Ayolah masa iya jodoh aku lelaki model tadi sih? nggak mau please!" Kiki mengusap wajahnya dengan tangan, membayangkan harus tinggal dan hidup bersama dengan lelaki itu.
Menikah dan harus...
Wajah Kiki sontak memerah, bayangan itu berkelebat dalam pikirannya, dia kontan menggelengkan kepala cepat-cepat.
"Tidak... tidak... tidak," racaunya panik.
"Apa ini karena dulu suka ngeledek Diandra? tapi kan mereka beneran cocok jadi couple!" ucap Kiki lagi.
Kiki memeluk guling, kembali wajah ganteng tadi terbayang, ya... memang ganteng hanya saja sikapnya...
"Nggak! nggak mungkin Tuhan jodoh aku lelaki macam tadi, nggak mungkin!"
#########
"Sudah Mas duga, Ibu ke sini buat itu sayang," ucap Gavin.
Mereka sudah duduk berdua di ruangan itu masing-masing fokus dengan kotak Tupperware yang tadi Mira bawakan, tidak pernah ada dalam bayangan Gavin bahwa makan siang di ruang prakteknya akan semanis ini, ya biasanya Gavin makan sendiri di sini pas dia malas jalan keluar tinggal pesan ojol suruh antar sampai ruangannya dan sebagai ganti dia beri tip maka selesai sudah masalah perutnya, tapi kali ini semua lain dan berbeda.
"Kok malah tanya ke Mas? tanya coba ke kamu sendiri sayang, kamu sudah siap atau belum?" jelas Gavin dengan sabar.
Diandra menjatuhkan kepala di bahu Gavin, membuat semua acara makan siang itu terhenti seketika, Gavin meletakkan sendok mengelus lembut kepala yang bersandar manja di bahunya.
"Jujur belum siap sih Mas, bayangan bagaimana berat masa koas nanti masih menghantui," ucap Diandra.
Gavin tersenyum, mau bagaimana lagi Diandra belum siap dan Gavin tentu tidak bisa memaksakan dia, bukan? Gavin mah enak, dia keluarnya enak, nggak harus mual-mual, nggak harus kontraksi dan melahirkan, semua Diandra yang akan mengalami dan menjalani tentu Gavin tidak bisa memaksakan kemauannya.
"Ya udah dong, nggak usah terlalu dipikirin," ucap Gavin.
Diandra mengangkat kepalanya, menatap Gavin yang tersenyum manis di depan wajahnya.
"Tapi nanti Ibu..."
"Biar Mas yang urus," ujar Gavin tegas.
"Dah, yuk balik makan, Mas setengah jam lagi ada operasi, mau ikut?" tanya Gavin.
__ADS_1
Diandra melotot, ikut? lagi?
"NO, aku mau balik aja Mas,"
##########
"Yakin nggak mau ikut?" Gavin mengantarkan sang istri ke depan sampai parkiran, tidak akan dia biarkan istrinya melangkah sendiri kecuali nanti ketika dia koas, Gavin tidak mungkin mengikut di belakang istrinya, keliling bangsal, poli rawat jalan dan IGD kan?
"Mas! koas di bagian bedah nanti aku udah bakalan keluar masuk ke sana, dan ini belum saatnya," tolak Diandra tegas.
Dia tidak takut darah, scalpel, atau apapun itu, hanya rasanya kurang kerjaan sekali dia belum wajib ikut asistensi tapi sudah curi start duluan, ya meskipun Diandra tahu banyak ilmu dan pengalaman yang dia dapatkan dari ikut suaminya masuk ke dalam.
Gavin terkekeh, dia mengacak rambut sang istri dengan gemas, langkah mereka kompak beriringan menyusuri koridor nampak sangat manis dan mesra meskipun tangan mereka tidak saling bergandengan.
"Oh ya tadi pagi Kiki keserempet mobil Mas, boleh main ke kos dia sekalian lihat kondisinya?" Diandra ingat dia ingin mengunjungi Kiki guna melihat seberapa parah lecet yang Kiki derita dan jangan lupa dia gantian mau menggoda gadis itu.
"Eh! subuh-subuh emang mau ke mana? bisa-bisanya terus keseruduk mobil?" Gavin melirik istrinya yang tersenyum geli, kenapa malah tersenyum?
"Cari jodoh dia Mas dan alhamdulillah sih langsung dapat," jawab Diandra.
Alis Gavin berkerut, mulutnya setengah terbuka tidak paham dengan apa yang istrinya ini katakan, subuh-subuh keserempet mobil dan Diandra bilang dia hendak cari jodoh? cari jodoh model bagaimana memangnya? harus gitu keserempet mobil dulu mana subuh-subuh lagi?
"Wait! aku nggak paham sayang," tentu Gavin tidak paham, bagaimana bisa?
"Ya kayaknya dia berjodoh sama yang nabrak dia tadi," jelas Diandra dengan bahasa yang lebih simpel.
Kontan tawa Gavin pecah, dia terbahak sambil kembali mengacak rambut sang istri, anak-anak zaman sekarang jadi seperti itu cara cari jodohnya termasuk Diandra pakai bersumpah segala waktu itu kenapa jadi absurd sekali?
"Ya sudah boleh ke tempat Kiki, tapi hati-hati yah! kabari kalau mau ke mana aja sama jangan sore-sore baliknya sayang, tahu sendiri Ibu di rumah," ucap Gavin.
Diandra menghentikan langkah membalikkan badan guna menatap sosok tinggi menjulang yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya.
"Pasti! Mas juga semangat buat hari ini oke, aku tunggu di rumah," senyum Diandra merekah, rasanya dia begitu betah menatap sang suami, wajahnya tidak membosankan di mata Diandra.
Gavin hanya mengangguk dan tersenyum, terkejut ketika Diandra mengulurkan tangan, namun dia langsung paham maksud uluran tangan itu, dibalasnya tangan yang terulur dan bisa Gavin lihat betapa manis Diandra yang mencium punggung telapak tangannya macam ini.
Ahh... menikah itu ternyata sungguh manis sekali!
__ADS_1