
Diandra menggeliat, mencoba menyingkirkan tubuh besar sang suami dari atas tubuhnya. Peluh membanjiri tubuh mereka berdua, dengan napas yang masih tersengal-sengal, Diandra menyeka peluh, melirik suaminya yang nampak memejamkan mata dengan wajah memerah dan napas terengah.
"Mas" Diandra mencolek lengan Gavin, ada hal penting yang perlu Diandra katakan pada suaminya ini.
"Mau nambah? Ayolah!" Gavin hendak kembali naik ke atas tubuh istrinya ketika Diandra menyodorkan tangan ke depan wajah Gavin, sebuah penolakan yang lantas membuat Gavin tersenyum masam.
"Bukan itu!" Diandra membelalak, menatap suaminya dengan tatapan gemas.
"Lah terus? mau ngajak mandi bareng?" entah mengapa pikiran Gavin selalu tertuju pada hal tersebut. Tidak ada hal yang lebih mengasikan untuk dilakukan bersama Diandra kecuali aktivitas intim yang menggairahkan itu.
"Mas!" Diandra mencebik, menggebuk lengan Gavin dengan begitu gemas. Bagaimana cara mengenyahkan pikiran mesum itu? Dasar mantan bujang lapuk!
"Please aku serius!"
Gavin terkekeh, merangkul tubuh bersimbah peluh itu dengan penuh kasih sayang.
"Terus apa, Sayang? Pengen ngomong apa?"
"Aku lapar, Mas!" Desis Diandra kesal.
Bukankan sejak satu setengah jam yang lalu Diandra mengeluh lapar?
Mata Gavin membulat, dia tertawa terbahak-bahak lantas bangkit dan meraih baju-bajunya yang Gavin letakkan di ujung kasur. Tanpa bicara, Gavin memakai pakaian lalu menatap Diandra yang masih terbaring di atas ranjang.
"Yuk gas, Ke MCD atau mau ke KFC? Cari yang buka dua puluh empat jam" Gavin tersenyum, menarik tangan sang istri agar bangun dari posisinya.
"Malam-malam makan begituan?" Diandra membelalak, makan fastfood di tengah malam? Ini sebuah dosa!
"Why not? Sekali-kali nggak apa-apa, kan? Yang penting kamu nggak kelaparan, Sayang." Gavin tersenyum, menyodorkan pakaian sang istri ke pangkuan.
"Aku mau cuci muka, kamu Jangan lupa sisiran, oke?"
Gavin melangkah menuju kamar mandi, sementara Diandra tersenyum dan mulai memakai kembali pakaiannya. Manis sekali suaminya ini, bukan? Bagaimana Diandra nggak klepek-klepek kalau begini?
Diandra sudah selesai memakai bajunya meraih sisir dan merapikan rambut yang sudah tidak karuan bentuk dan rupanya itu. Rambut yang membuat Diandra kembali mengingat bagaimana panasnya pergumulan mereka tadi.
__ADS_1
Tak perlu waktu lama, Gavin sudah keluar dari kamar mandi. Rambut bagian depan dan wajahnya nampak basah, membuat sosok itu nampak segar dan ganteng maksimal di mata Diandra.
"Udah?" Gavin nampak menarik tisu, menyeka bulir air yang membasahi wajahnya. Wajah itu jadi terlihat begitu bersih dan kesat. Ah... Mau bagaimana pun wajah itu tetap terlihat ganteng maksimal di mata Diandra!
"Udah. Yuk berangkat!" Diandra mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Bergegas bangkit lalu melangkah kalau saja Gavin tidak menarik lengannya dengan cepat.
"Kenapa lagi?"
Gavin menghela napas panjang, menarik Diandra lalu menyeretnya ke kamar mandi. Membuat Diandra lantas panik dan mencoba berontak.
"Eh! Apaan, Mas? Katanya mau makan?" Teriak Diandra sambil mencoba melepaskan tangan Gavin yang menariknya ke kamar mandi.
Gavin menghentikan langkah, menoleh dan menatap Diandra dengan gemas.
"Kau mau ke restoran dengan wajah kuyu begitu, Sayang? Cuci muka dulu lah biar segar!" Wajah Diandra nampak begitu kuyu, kelihatan sekali kalau dia habis selesai bercinta. Tentu Gavin tidak akan membiarkan Diandra pergi dengan penampilan macam ini?
Diandra sontak nyengir, dia segera melepaskan tangan Gavin, melangkah sendiri masuk ke kamar mandi. Sementara Gavin hanya menggeleng perlahan, meraih dompet, kunci dan membawanya ke dalam genggaman
Apapun yang akan Diandra minta untuk makan malam yang kelewat malam ini, pasti akan Gavin berikan. Ya selama yang jual masih buka dan daganganya masih ada.
########
"Mas lapar juga ya ternyata." Diandra terkekeh ketika melihat Gavin membawa nampan berisi burger dan kentang goreng.
Gavin melirik istrinya sekilas, lalu menggigit burger di tangan
"Kamu pikir olahraga ***-*** dengan kamu tadi nggak capek?"
"Nggak nguras tenaga gitu?"
Hampir Diandra tersedak nasi dan ayam yang ada di dalam mulutnya. Dengan susah payah Diandra menelan makanan di dalam mulut, lalu tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat yang keluar dari mulut sang suami.
"Kenapa ketawa?" Gavin nampak tidak suka, dia mengunyah burger di mulutnya dengan gemas.
"Kamu mah enak, cuma tinggal terima enaknya, suamimu ini tadi yang nguras tenaga buat ngenakin!"
__ADS_1
Bukannya berhenti, tawa Diandra makin menjadi. Untung sepi, kalau tidak mereka sudah jadi pusat perhatian pasti. Gavin menendang gemas kaki Diandra di bawah meja, membuat Diandra lantas menutup mulut dengan tangan dan berusaha menghentikan tawanya.
"Bentar!" Gumam Diandra lalu meneguk sodanya.
"Mas emang nggak dapet enaknya? Heh?" Tentu Diandra tidak terima! Bukan cuma dia yang merasakan enaknya, Gavin juga!
Diandra lihat betul bagaimana tadi ekspresi wajah suaminya. Mendengar dengan jelas segala macam lenguhan dan ******* Gavin yang terdengar sangat indah dan merdu di telinga Diandra. Dan jangan Jupakan erangan panjang Gavin sebelum kemudian Diandra merasakan rahimnya penuh dengan cairan hangat milik sang suami.
"Nggak! Nggak enak kalau cuma sekali! Habis ini gas pokoknya lanjut nyodok lagi!
Diandra tersedak soda yang memenuhi mulutnya. Dia lantas balas menendang kaki Gavin dengan gemas. Matanya melotot gemas menatap Gavin yang memasang wajah sok cool nya.
"Nggak ada!" Tegas Diandra sambil menggeleng.
"Dengkul aku rasanya udah nggak ada daya, Mas! Jadi pupus harapanmu buat nambah malam ini, oke? "
Gavin mendesah, menatap istrinya yang tengah melotot tajam ke arahnya. Wajah itu bukannya membuat Gavin takut, malah membuat Gavin rasanya ingin tertawa terbahak-bahak melihat wajah itu.
"Sayangnya malam ini kamu tidak punya pilihan, Sayangku!" Gumam Gavin lirih dan tegas.
"Habiskan makananmu, kau butuh banyak tenaga setelah ini, oke?"
Sebuah seringai tajam tergambar di wajah Gavin, membuat mata Diandra makin membulat dan nampak begitu kesal.
"Mas! Nggak kasihan istri apa?" Rasanya Diandra ingin berteriak, tapi dia tahu, ini bukan tempat yang tepat.
"Justru ini mau nyenengin istri. Jangan banyak protes begitu lah!" Gavin nampak tidak peduli, kembali dia asik dengan burger di tangan.
Diandra menghela napas panjang, memang sejak akhirnya mereka menyerah dan memutuskan untuk saling menikmati satu sama lain, Gavin memang terlihat begitu menggebu dalam urusan ini! Sebuah kenyataan yang jujur membuat Diandra kadang kewalahan.
Segala macam ayam, perkedel dan beberapa makanan lain yang tergeletak di meja jadi tidak terlihat menarik di mata Diandra. Tubuhnya mendadak lemas membayangkan dia harus kembali pasrah 'di bajak' suaminya setelah sampai di rumah nanti.
Gavin tidak pernah main-main dengan ucapannya, apalagi menyangkut hal seperti ini. Jadi bisa Diandra pastikan segala ancaman yang Gavin katakan barusan akan benar-benar dia lakukan.
"Harus habis, ya! Aku nggak mau alasan apapun nanti, aku masih 'lapar' Sayang"
__ADS_1