
"Edan! mana berani aku!" Gavin melotot kesal tidak tahu saja mereka Diandra baru mau dia pegang dan bermanis-manis ria kepadanya setelah bertemu rival. Sebelumnya tiap mereka bertemu selalu berselisih dan saling adu mulut. Baru juga bermanis-manis ehh mereka sudah datang menganggu, tapi Gavin tidak bisa salahkan juga karena memang ini sudah waktunya mereka datang, kapan lagi akan memberikan selamat kalau bukan sekarang, karena Gavin tentu tidak akan lama di kampung, dia pasti akan segera balik.
"Ya udah kalau gitu, pelan-pelan Vin, nggak kau gas aja ntar," ucap salah satu teman Gavin.
Wajah Diandra sontak memerah begitu mendengar ucapan salah satu teman Gavin, pikiran Diandra sudah kemana-mana saja, membayangkan adegan demi adegan tidak senonoh yang tadi hampir saja mereka lakukan, membuat jantung Diandra berdegup tidak karuan! benarkah akan begitu sakit seperti kebanyakan kata orang yang selalu Diandra dengar?
"Pamit dulu ya Mbak, selamat berbahagia dari kami semua," ucap salah seorang pria lagi.
"Iya makasih banyak Mas," jawab Diandra sambil menjabat satu persatu tangan-tangan mereka.
Benar Diandra panggil Mas kan? atau malah harusnya Om? mereka seumuran dengan Gavin, selisih umur mereka cukup jauh, Diandra nyengir lebar menyalami tamu-tamu yang kedatangan mereka sungguh tidak tepat momen!
Diandra menatap kepergian tamu-tamu sang suami, ketika tiba-tiba sosok itu muncul di depan Diandra dan nampak begitu centil menagih foto bersama Gavin.
"Mas Gavin tadi kan belum jadi foto kalau minta fotonya sekarang boleh kan?" tampak sosok itu begitu centil dan sok imut membuat Diandra merasa sontak mencebik dan segera memasang wajah garangnya melihat wanita itu.
__ADS_1
"Lebay amat sih! foto sama suami orang segitu pentingnya yah?" sindir Diandra sambil pura-pura sibuk memperhatikan nail art nya.
"Ya suka-suka akulah, yang mau fotokan aku," tampak gadis itu tidak terima membuat Diandra mengangkat wajah dan membalas tatapan sengit Tati yang ditujukan kepadanya.
"Eh sorry yah, masalahnya yang mau kau ajak foto itu suami aku! tentu jadi masalah dong!" Diandra sedikit menekankan kalimatnya, menegaskan bahwa dia yang lebih berhak atas Gavin.
"Dan kata aku nggak ada foto-fotoan,, apaan sih mau foto kok sama suami orang, mana centil banget lagi, wajah dan leher mu tuh perbaiki dulu agar warnanya sama," ucap Diandra.
Diandra segera menarik Gavin pergi, di ruang tamu sudah tidak banyak orang kalau di teras jangan ditanya! mungkin karena itu juga Tati jadi begitu berani dan tidak tahu malu sungguh menyebalkan sekali gadis itu. Ingin sekali Diandra kucek-kucek si Tati itu.
Sungguh menjadi rebutan di antara dua wanita itu ternyata begini ya? Gavid boleh besar kepala kan? ya walaupun satu dari dua wanita itu modelnya macam Tati yang penting dia wanita tulen, dan istrinya cemburu pada wanita modelan Tati, padahal Gavin sama sekali tidak akan mungkin tergoda pada Tati. Mati-matian Gavin menolak di jodohkan dengan Tati, jadi mana mungkin dia akan suka pada Tati.
"Heran aku ngapain sih dia malam-malam juga masih di sini? mau kongkow sama bapak-bapak sambil ngopi apa?" gerutu Diandra sambil terus menarik tangan sang suami.
"Lagian ibu sama bapak kenapa nggak ngusir dia sih? bikin kesel aja tau lihat lama-lama dia disini,, apa dia juga tidak ada niatan pulang apa? pulang mandi apa kek?" ucap Diandra.
__ADS_1
Diandra segera melepaskan tangan Gavin begitu masuk ke dalam kamar, menjatuhkan tubuhnya di kasur, tengkurap sambil memeluk guling, Gavin menghela napas panjang, pikirannya sudah jauh membayangkan bagaimana nanti jadinya kalau dia ajak Diandra mudik pas mereka cuti, yang ada istrinya itu akan terus uring-uringan macam ini kalau ketemu Tati! baru dia tahu kalau Diandra ternyata bisa over cemburu macam ini!
"Ya masa mau diusir sih, banyak yang datang ke sini, masa iya dia sendiri yang diusir?" Gavin terkekeh ikut menjatuhkan diri tepat di sisi Diandra, satu tangannya mengelus lembut kepala Diandra yang ditopang guling miliknya.
"Khusus dia nggak boleh," ucap Diandra kesal.
Tentu Diandra paham tinggal di lingkungan yang sosialnya masih begitu kental memang seperti ini, kalau ada acara hajatan, kemungkinan bahkan sampai nanti subuh rumah mertuanya ini masih ada beberapa orang tetangga, Diandra tidak masalah toh dia cuma tamu, tapi yang jadi masalah si Tati itu yang selalu tidak tahu malu mendekati dan centil-centil pada suaminya.
Diandra begitu sangat tidak suka dengannya, mana dia begitu caper di depan Gavin, bikin keki setengah mati, Gavin tersenyum tidak menjawab atau mengomentari, terus mengelus lembut kepala itu, lantas menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.
"Udah ah sebelnya! masa mau manyun gitu terus sih sayang?" ucap Gavin.
Diandra menoleh kenapa rasanya jadi lain ketika Gavin memanggilnya dengan panggilan itu, ketika kepalanya disadarkan di bahu Diandra kenapa rasanya begitu lain? terlebih sorot mata dan senyum itu...
"Gimana kalau kita lanjut aja yang tadi? udah sampai mana kita tadi? mulai dari awal atau bagaimana enaknya?" ucap Gavin sambil tersenyum melihat Diandra.
__ADS_1