
"Lepas ih, Ki!"
Derren menggerutu, dia mengusap telinganya yang memerah efek jeweran dari tangan Kiki. Kurang ajar sekali Kiki! Mana ada dalam sejarah, Dokter umum dianiaya anak koas? Memang Kiki ini lain daripada yang lain!
"Lagian Mas, sih! Ngapain pakai nguping pembicaraan mereka?" Jujur Kiki sebenarnya juga kepo tentang apa saja yang hendak mereka bicarakan. Dokter Rachel mantan Dokter Gavin, tentu saja Kiki begitu kepo dan penasaran. Terlebih para perawat sudah banyak yang taruhan bahwa Dokter Gavin akan balikan dengan mantannya ini.
Dan ternyata, baru Kiki tahu bahwa sosok itu tengah berselisih paham dengan mantan suaminya. Sebuah perselisihan yang tadi dia dan Derren dengar dengan jelas di IGD. Ah, memang dasar perempuan nggak benar! Rasanya sekarang Kiki tidak perlu takut lagi Dokter Gavin berpaling dan meninggalkan Diandra.
Hanya lelaki gila yang mau kembali pada masa lalu yang track record nya segila Dokter Rachel ini! Dan Kiki bisa pastikan bahwa Dokter Gavin masih waras! Suami Diandra itu belum gila!
"Gimana nggak kepo? Di IGD heboh banget tadi, Ki!" Derren tentu saja kepo, bukan sembarang kepo karena dia sendiri pun sudah mendengar desas-desus bahwa Dokter itu adalah mantan dari suami Diandra!
"Ah udah ah, aku mau balik!" Ujar Kiki kemudian.
"Mas mau balik nggak? Kalo nggak aku order ojek nih!"
"Iya ah ayo!" Derren meraih tangan Kiki, menarik tangan itu tanpa melepaskannya.
Kiki tersentak. Dia pasrah saja di tarik Derren menuju parkiran. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Kenapa tiap kali dekat dengan Derren selalu banyak sekali kejutan yang dibuat lelaki itu? Termasuk genggaman tangan ini
Kenapa rasanya begitu lain?
#########
Sony melangkah masuk, dia tertegun sejenak ketika melihat Aliya nampak asik mengobrol dengan istri dari lelaki yang dulu pernah Sony sakiti. Entah apa yang mereka obrolkan yang jelas sesekali tawa mereka tergelak. Sudah tidak terlihat lagi wajah sedih, shock dan kecewa di wajah putri kesayangannya.
Senyum Sony merekah, dia menghela napas panjang. Tidak pernah dia duga Aliya akan berteman baik dengan istri mantan kekasih Mamanya. Sony juga tidak menduga bahwa Gavin, lelaki yang dulu dia sakiti kini menikahi gadis sebelia itu.
Tapi apa salahnya? Gavin lelaki baik. Sony tahu betul itu. Dia bukan tipe lelaki kurang ajar, terbukti dengan masih utuhnya Rachel ketika dia menyentuh tubuhnya dulu. Padahal bisa saja Gavin memaksa Rachel melakukannya, bukan? Toh mereka pacaran sudah cukup lama dan jangan lupa, mudah sekali untuk merayu Rachel menyerahkan diri sepenuhnya. Sony sudah buktikan itu!
__ADS_1
Tapi Gavin tidak melakukan itu! Dia jaga baik-baik Rachel sampai kemudian Sony menyentuhnya. Dia bahkan tidak main kasar ketika mendatangi Rachel di tempat internship dulu. Tetap tenang, tidak emosi meskipun Sony tahu Gavin begitu marah dan terluka dengan apa yang sudah dia dan Rachel perbuat.
Sony tersenyum, dia melangkah mendekati mereka, berdehem lirih sampai atensi dua gadis itu tertuju padanya.
"Papa!"
Sony tersenyum, merentangkan tangan dan membiarkan Aliya menjatuhkan diri ke dalam pelukannya. Mata Sony memerah. Dia begitu merindukan gadis kecil yang menjadi kado terindah dalam seumur hidupnya kala itu. Masih jelas dalam ingatan Sony ketika pertama kali dia membawa Aliya dalam gendongannya. Begitu kecil, rapuh dan merah. Tapi sekarang? Dia sudah menjelma tidak hanya menjadi gadis yang cantik, tetapi cerdas walaupun dia di paksa Rachel untuk melompat lebih tinggi dari dunianya seharusnya.
"Aku mau ikut papa, aku mau sama Papa!" Rintih suara itu bercampur air mata.
Sony menengadahkan kepalanya, dia sudah tidak bisa lagi membendung air mata. Dibiarkan nya air mata menitik membasahi wajah.
"Papa juga tidak akan tega biarin Aliya di sini, Sayang! Ayo nanti kita pulang sama saudara mu juga, ya? Nanti biar orang suruhan Papa yang bereskan dokumen sekolah mu"
Gadis itu melepaskan pelukannya menatap Sony dengan anggukan kepala cepat. Bisa Sony lihat binar bahagia itu terpancar dari wajahnya. Sony mengelus pipi lembut Aliya, menyeka air mata yang membasahi wajah cantik kesayangan Sony itu.
"Dian, habis ini pulang, ya?"
"Saya bisa minta waktunya sebentar untuk bicara, Dokter?" Sony hampir pangling dengan sosok ini. Wajahnya memang tidak banyak berubah dan nampak masih awet muda, tapi tubuhnya berubah banyak. Tidak lagi kurus kering macam dulu.
Ah mungkin efek masih jadi Dokter internship yang BHD rendah, bukan? Sony pernah mengalaminya dulu.
"Oh tentu bisa, Dokter. Mau bicara di mana?" Sekali lagi sosok itu tidak berubah, tetap tenang dan tidak menunjukkan emosi berlebihan.
"Bagaimana kalau di luar?" Sony memalingkan pandangan ke arah Aliya.
"Sayang tunggu di sini dulu, bisa? Papa mau bicara penting sama Dokter Yudha."
Dinda mengangguk cepat. Dia kembali melangkah mendekati brankar, duduk di kursi yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Saya titip anak saya sebentar ya, Mbak?" Gumam Sony sambil tersenyum menatap sosok cantik yang terbaring di atas brankar.
"Jangan khawatir, Dok. Aliya aman bersama istri saya." Jawab Gavin sambil menepuk bahu Sony dengan lembut.
Sony menghela napas panjang. Baik sekali Gavin ini! Untung saja calon bayi mereka tidak apa-apa. Kalau sampai kenapa-kenapa, Sony tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri!
"Saya percaya, Dokter. Mari kita keluar sebentar "
Mereka melangkah menuju pintu IGD, di depan pintu nampak Rachel hendak melangkah masuk. Membuat langkah Sony terhenti.
"Aku mau ketemu Aliya." Ujar Rachel sebelum Sony lebih dulu bertanya.
"Silahkan! Aku tidak akan pernah menghalangi kamu ketemu anak-anak. Selama kamu tidak berusaha merebut dan membawa mereka jauh dariku."
Gavin nampak sedikit menjauh membuat Sony sadar bahwa ada yang harus dia bicarakan berdua dengan sosok itu.
"Mungkin aku bukan orang yang bisa dipercaya, tapi tolong kali ini saja, percayalah bahwa aku tidak akan melakukan hal itu."
Sony mengangguk, melangkah keluar mengejar langkah Gavin. Sementara Rachel tertegun di tempatnya berdiri. Apa yang sudah dia lakukan? Dia sebenarnya selalu diberi Tuhan lelaki pendamping yang begitu baik, tapi kenapa dia baru menyadarinya setelah dia membuat kesalahan dan mereka pergi dari hidup Rachel?
Rachel mendesah panjang. Mungkin dia memang bodoh. Goblok atau apalah namanya.
Samar-samar dia kembali teringat perkataan Sony tadi. Bisakah dia tidak lagi untuk ke tiga kalinya mengulang kesalahan yang sama? Atau dia akan kembali melakukan hal bodoh dan kehilangan lelaki yang begitu tulus mencintai dirinya?
############
Mampir ke novel baru ku yah..
"Pria Pilihan Kakek"
__ADS_1
mksh sebelumnya😊🙏