
"Ki ayolah tolong Ki," terdengar suara itu memohon di iringi isak tangis yang jujur malah membuat Kiki tertawa terbahak-bahak daripada prihatin dengan kondisi sahabatnya.
Tawa Kiki pecah menertawakan tingkah Diandra yang baginya begitu absurd.
"Ki, tega amat sih malah ngakak begitu? tolongin aku napa, horor banget di sini Ki," tegas suara itu nampak kesal.
Tawa Kiki belum mau berhenti, sungguh dia tidak tahu dan tidak paham dengan apa yang ada di dalam pikiran Diandra saat ini.
"Dian, yang kau nikah itu Dokter Gavin bukan vampir, zombie atau genderuwo, jadi horor macam apa yang kamu maksud?" goda Kiki sambil bersandar santai di kasur kamar hotel yang disewakan Diandra khusus untuknya.
Katanya sih karena Kiki adalah best friend Diandra, tapi kini Kiki tahu tujuan Diandra menyewakan satu kamar untuknya di hotel yang sama dengan dirinya itu untuk apa! untuk bisa kabur dari Dokter Gavin kan? seperti apa yang sekarang ini Diandra minta, dasar bocah gemblung memang Diandra itu.
"Kamu nggak ngalamin sih," bentak suara itu masih berpadu dengan isak tangis.
"Gimana rasanya ada di dekat dia dalam satu kamar kayak gini, merinding terus tahu," ucap Diandra.
Mata Kiki membulat, senyum itu masih bertengger di wajah Kiki, nggak dosa kan kalau dia tertawa bahagia macam ini di atas penderitaan Diandra? lagian dia absurd banget sih! salah sendiri kan?
"Ntar deh," Kiki memperbaiki posisi duduk, kantuk yang tadi menderanya mendadak hilang.
"Itu merindingnya karena takut atau merinding karena..."
"Kiki please," kembali tawa Kiki pecah, padahal dia sudah membayangkan bagaimana sensualnya mereka melaksanakan ibadah malam mereka yang pertama kali, Diandra yang mungil, pasrah dibawah tubuh atletis Dokter Gavin, ah... kenapa jadi Kiki yang begitu antusias sih?
"Udahlah Dian, kalian udah sah loh, batalin aja perjanjian gila kalian itu," tentu hal ini yang kembali Kiki sarankan.
__ADS_1
"Buka baju, mapan tuh di atas kasur, buka kaki lebar-lebar dan jangan lupa buat bi..."
"Kiki," suara itu kembali berteriak membuat tawa Kiki kembali pecah dan dia terpingkal-pingkal heboh, kenapa mendadak dia pengen cepetan nikah juga?
"Loh benar kan? perlu contoh buat belajar? ada nih video dari grup SMA aku, mau aku kirim?" tanya Kiki.
Tuttttt....
Sambungan telepon mendadak terputus, membuat tawa Kiki makin keras, jujur dia tidak bermaksud tidak simpatik atau jahat pada Diandra, hanya saja Kiki tidak setuju dengan perjanjian gila antara keduanya, kurangnya Dokter Gavin apa sih? dia perfect dan Diandra itu hendak cari suami yang kayak gimana lagi memangnya? Kiki meletakkan ponselnya di nakas, sedetik kemudian dia teringat sesuatu kembali meraih ponsel itu membuka room chatnya bersama Diandra, dicarinya video tidak senonoh yang teman SMA nya kirim ke grup alumni, video berdurasi dua puluh menit itu agaknya cocok untuk bahan belajar Diandra. Tidak meluluhkan bahan pelajaran mereka, buku-buku super tebal, diktat-diktat kedokteran dan jurnal? sekali-kali bolehlah belajar dari video kayak gini, sekali-sekali aja tapi jangan keterusan!
Begitu video asal Jepang itu terkirim, Kiki otomatis mematikan data ponsel, meletakkan kembali ponsel itu di nakas dan bergegas tidur. Dia berdoa agar malam ini semuanya terjadi, perjanjian itu batal dan dia akan punya ponakan lucu yang sudah dia bayangkan betapa ganteng dan cantik anak Diandra nanti, bibitnya unggul semua, jadi apalagi yang kurang?
"Tuhan biarkan mereka ***-*** malam ini Tuhan, kalau perlu jangan berhenti sampai besok pagi, Aamiin," ucap Kiki.
###########
Bisa saja Gavin melakukan itu kalau dia mau, cuma menangani Diandra yang kecil dan mungil itu, apa susahnya sih! kalau perlu ikat tangan kakinya selesai, dia tidak akan bisa melawan dan Gavin bisa lakukan apapun yang dia mau dengan Diandra.
Tapi konsepnya bukan seperti itu!
Dengan memaksakan diri pada Diandra membuat Gavin takut Diandra malah akan semakin membencinya, Gavin tidak mau kehilangan Diandra, bukankah dia ingin tetap bersamanya? jadi melakukan tindakan pemerkosaan itu tidaklah benar, yang ada malah Diandra akan trauma berat dan semuanya akan berantakan.
"Kalau buat dapetin hati kamu bisa semudah itu, cuma dengan beliin kamu coklat sama boba, bakalan aku belikan setukang coklat sama boba nya sekalian, Dian," desis Gavin sambil tersenyum kecut.
Namun ternyata tidak semudah itu, bayangan Diandra begitu ketakutan dengan dirinya tadi membuat hati Gavin begitu perih.
__ADS_1
Gavin berharap suatu ketika nanti, Diandra akan bisa begitu mesra bersikap padanya, dengan tangan terbuka menyambut dan memenuhi segala macam apa yang Gavin inginkan dari Diandra, ya suatu saat nanti semua itu akan terjadi bukan?
Gavin mengacak rambutnya yang basah, menikmati air yang cukup membantunya menenangkan diri, yang jadi pertanyaan Gavin tentu saja kapan hari indah itu akan terjadi? kapan Gavin akan mendapatkan Diandra seutuhnya?
###############
Diandra melempar ponselnya ke kasur, tubuhnya meremang hebat melihat video apa yang dikirim Kiki ke ponselnya, rupanya karena video itu otak Kiki jadi mesum! Astaga kembali Diandra bergidik, adegan-adegan di video itu kenapa begitu...
Mendadak bayangan itu terlintas ke dalam otak Diandra, bayangan mimpi erotisnya beberapa bulan yang lalu membuat dia tidak bisa tidur, bayangan bagaimana tubuh kekar yang tadi memepetnya itu lantas me...
"Tidak! Tidak! Tidak," Diandra mengacak rambutnya, wajahnya memanas dan dia terkejut luar biasa ketika suara itu terdengar begitu dekat dengan dirinya.
"Apa yang tidak?" tanya Gavin.
Diandra mengangkat wajah dan nampak Gavin yang bertelanjang dada itu terlihat begitu segar dan wangi dengan rambut setengah basah, mata lelaki itu sontak tertuju pada ponsel Diandra yang mengeluarkan suara-suara erotis, membuat Diandra buru-buru hendak meraih ponsel yang masih memutar video asusila kiriman Kiki.
"Dokter jangan!" sayang sekali tangan Gavin lebih gesit, dia mengangkat tinggi-tinggi ponsel itu hingga tubuh Diandra yang pendek tidak bisa meraih ponsel itu. Wajah Diandra sontak merah padam dan dia berusaha sekuat tenaga meraih kembali ponsel dari tangan Gavin.
"Kembalikan," Diandra berteriak namun Gavin tidak menggubris. Matanya menatap layar ponsel dengan gambar tidak senonoh yang memenuhi ponsel lengkap dengan suara erotis nan sensual yang terdengar dari sana.
"Sejak kapan kamu suka nonton beginian, Dian?" tanya Gavin yang belum mau menurunkan ponsel itu.
"Bukan begitu Dok, itu tadi Ki..." Diandra hampir berteriak ketika tubuhnya di dorong jatuh ke atas kasur, mata mereka bertemu dengan jarak cukup dekat, ketika tubuh Gavin lantas menindihnya, hal yang membuat Diandra panik dan takut luar biasa.
"Daripada lihat kayak gini, kenapa nggak praktek langsung aja sekalian, saya bisa jadi partner kamu kok, bisa bikin kamu kayak cewek di video itu, gimana?" ucap Gavin.
__ADS_1