
"Mau ke mana?" Diandra sudah berbaring di atas ranjang sontak melompat dan menarik tangan Gavin yang hendak keluar dari kamar.
Mereka sudah selesai membersihkan diri, sudah berganti pakaian dan semua acara sudah selesai kecuali acara kumpul bapak-bapak di depan rumah, acara yang biasa ada selepas warga punya acara hajatan misal pernikahan atau apapun itu.
"Keluar dong, Dian. Di depan masih banyak orang," Gavin menatap Diandra yang masih mencebik kesal tentu saja karena insiden tadi.
"Nggak boleh!" Diandra menggeleng cepat membuat alis Gavin berkerut.
"Kenapa?" tentu itu yang Gavin tanyakan, bisa jadi perbincangan bapak-bapak dia nanti kalau sampai tidak keluar menampakkan diri.
"Ada Tati pasti, nggak boleh!" ucap Diandra.
Gavin melongo! kenapa jadi posesif begini sih? tapi bukan Gavin namanya kalau tidak mencari kesempatan dalam kesempitan, nampak senyum Gavin tersungging menatap wajah masam Diandra yang masih memegang tangannya erat-erat.
"Terus kalau nggak keluar nanti digibahin bapak-bapak gimana?" hampir Gavin terbahak, tapi sekuat tenaga dia tahan.
"Ya kan harusnya mereka paham namanya juga pengantin baru," nampak wajah Diandra berubah memerah, ketika beres mengatakan hal tadi, membuat senyum Gavin kembali merekah sempurna.
Diandra nampak salah tingkah, Gavin melepaskan tangan Diandra menarik dagunya agar dia bisa melihat wajah Diandra yang memerah, benar saja wajah itu begitu menggemaskan sekali sekarang.
"Apa kompensasi yang saya dapat kalau saya tetap di sini?" tantang Gavin mencoba mencari celah.
"Harus ada kompensasi?" mata itu membulat makin membuat wajah Diandra begitu menggemaskan.
"Iya dong! jadi saya dapat apa?" tanya Gavin.
Gavin melipat dua tangan di dada, berdiri menatap Diandra yang nampak salah tingkah dengan wajah memerah, sampai beberapa saat menanti Diandra tidak kunjung buka suara membuat Gavin akhirnya menyerah.
"Ya udah izin ke depan sebentar yah, Di..."
__ADS_1
"Jangan!" Diandra kembali menarik tangan Gavin, nampak wajah itu terlihat tidak rela Gavin keluar dari kamar.
"Memang Dokter minta kompensasi apa?" tanya Diandra.
Sebuah pertanyaan yang jujur sangat Gavin nantikan! Gavin kembali tersenyum! akhirnya dia punya kesempatan juga!
"Ada banyak! saya rasa kamu nggak akan sanggup jadi lebih baik saya..."
"Jangan keluar," kembali Diandra merengek, matanya memerah.
"Kalau Dokter keluar saya kunci pintunya, tidur di luar sana!" ancam Diandra sambil mengerucutkan bibir.
Gavin mendelik! lah kenapa jadi over posesif macam ini sih? tapi bukankah itu bagus itu artinya Diandra benar-benar menyimpan sebuah rasa untuknya bukan? kembali pada kompensasi saat Gavin memanfaatkan keadaan bukan?
"Oke kalau gitu saya minta beberapa hal," Gavin pura-pura berpikir keras, membuat Diandra berkeringat dingin.
"Satu stop panggil saya Dokter, saya ini suami kamu, aneh aja panggil suami sendiri dengan sebutan itu," ucap Gavin.
"Itu yang pertama, yang kedua saya mau perjanjian kita batal! sampai kapanpun saya nggak ingin kita cerai," ucap Gavin.
Diandra tersentak, dia menatap Gavin dengan tatapan terkejut, Gavin tahu pasti Diandra terkejut dengan permintaan yang sudah dia perhitungan matang-matang semuanya, sekaligus segala resiko yang akan timbul, Diandra masih diam membisu hingga Gavin kemudian kembali bersuara.
"Apakah mencintaimu masuk dalam sebuah kesalahan, Dian? tak apa aku siap dihukum asal aku lantas bisa mencintaimu" Gavin meraih tangan Diandra, meremas tangan itu dengan begitu lembut.
"Apakah jatuh cinta pada mahasiswi super rese yang pernah aku punya adalah kesalahan? tidak masalah aku siap menanggung segala hukuman asal kemudian aku diizinkan mencintaimu, jadi bagian dari hidupmu!" ucap Gavin lagi.
Diandra nampak masih begitu shock, matanya memerah dan nafasnya naik turun, membuat Gavin lantas *******-***** tangan itu, berharap remasan tangannya bisa menenangkan ketegangan yang nampak di wajah sang istrinya.
"Apakah mengingkari janji yang pernah aku buat karena aku tidak mau kehilangan kamu juga masuk dalam sebuah kesalahan? aku akan melakukan apapun Dian, apapun itu untuk bisa menebus semua dosa itu, asal aku bisa tetap bersamamu," ucap Gavin.
__ADS_1
Tidak ada kalimat yang meluncur keluar dari mulut Diandra, dia masih tertegun dengan mulut setengah terbuka, menatap Gavin dengan tatapan tidak berkedip.
"Aku tidak tahu sejak kapan, hanya saja kini tiap bersamamu aku merasakan ada hal lain yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata, Dian. Aku bahagia, tenang, damai dan nyaman, sebuah perasaan yang aku sendiri tidak tahu kenapa bisa jadi begitu," Gavin menarik tangan Diandra mendekati wajah, sebuah aksi yang sama sekali tidak mendapatkan penolakan dari si pemilik tangan.
"Aku tidak memaksamu menjawab sekarang, tidak memaksamu memiliki perasaan yang sama dengan yang aku punya, karena aku sadar perasaan itu nggak bisa dipaksakan bukan?" Gavin menunduk, mengecup punggung telapak tangan Diandra dengan begitu lembut.
"Membalas atau tidak itu hak kamu, tapi sebelumnya boleh aku tanya, Dian?" tanya Gavin.
Diandra hanya mengangguk pelan masih menatap Gavin tanpa berkedip dengan nafas tidak beraturan.
"Tolong jelaskan apa yang kamu rasakan ketika kita hanya berdua seperti ini? tolong jelaskan perasaan bencimu pada Tati? bisakah kau jelaskan padaku, Dian?" ucap Gavin.
#############
Diandra membisu, lidahnya terasa begitu kelu, sejak tadi dia sama sekali tidak lepas dari mata Gavin, terus menatap mata itu sambil berusaha mencari dusta di sana, namun sayang Diandra sama sekali tidak menemukan dusta di dalam mata itu, membuat matanya memanas dan berurai air mata.
Kini dia mematung, Gavin meminta dia menjelaskan beberapa hal, hal yang jujur Diandra sendiri tidak bisa menjelaskan, karena dia sendiri tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi.
"Dian aku masih nunggu jawaban kamu," desis suara itu begitu lembut.
"A... aku," Diandra benar-benar kehilangan kemampuannya bicara, dia harus menjelaskan apa kalau dia sendiri tidak tahu dengan apa yang dia rasakan.
"Kenapa?" Gavin tersenyum mengelus lembut pipi itu.
"A..aku," sekali lagi Diandra buka suara, sama sekali otaknya tidak bisa merangkai kata yang kemudian diteruskan ke lidah untuk diucapkan, semuanya mendadak blank.
"Akan aku bantu, Dian. Akan aku bantu meringkas semuanya," Gavin menengadahkan wajah Diandra membuat mata mereka kembali bertemu.
Diandra terjaga secara garis besarnya tahu apa yang Gavin akan lakukan, bukankah mereka sudah melakukan ini beberapa kali semalam? bisa Diandra lihat wajah itu mendekat, dia bisa menampar wajah itu, mendorongnya atau apapun tapi kenapa sekarang Diandra tidak melakukan itu.
__ADS_1
Tidak perlu waktu lama, Diandra merasakan benda kenyal itu menyapa bibirnya, mencium bibirnya dengan begitu lembut sangat lembut hingga kemudian lidah itu mulai menerobos masuk ke dalam rongga mulut.
Kenapa Diandra diam? kenapa dia nampak begitu suka dengan aktivitas ini sekarang, apakah benar bukan hanya Gavin yang sudah jatuh cinta tetapi juga dirinya sendiri, dia jatuh cinta dengan Gavin.