Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Ngapain sih di sana?


__ADS_3

"Kau balik duluan aja deh, Dian. Ini sohib abang kau benar benar sengaja pengen nyiksa aku!"


Kiki memijit pelipisnya perlahan-lahan, ini sudah waktunya pulang, tetapi Derren dengan begitu rese menahannya dengan dalih dia harus menemani sosok itu visiting bangsal! Jangan lupa Dokter Una pun memberinya tugas yang sama, ah.... kenapa masa kepaniteraan klinik yang sudah dia bayangkan akan begitu indah malah jadi seperti ini sih?


Bukannya prihatin, terdengar suara gelak tawa dari seberang. Kiki sontak membelalak, rasanya kalau Diandra ada di hadapan dia atau berada tidak jauh darinya, Kiki ingin mencekik Diandra sampai dia memohon ampun. Sebodoh amat suaminya dosen, Kiki tidak peduli!


"Dian... please jangan rese, oke?" desis Kiki yang sudah tidak mau lagi ribut- ribut. Dia sudah lelah seharian ribut dengan lelaki tengil yang bernama Derren itu.


"Tanda-tanda nih, jodoh!"


Mendengar kata itu kembali terucap dari mulut Diandra, membuat Kiki rasanya ingin menonyor jidat Diandra dengan gemas. Kenapa dia bernafsu sekali sih ingin melihat Kiki bersanding dengan lelaki macam Derren itu? Impian Kiki tentu ingin mendapat suami yang sudah spesialis macam Diandra, bukan Dokter umum. Ah... sebenarnya dapat Dokter umum pun tidak masalah, asal jangan Derren!


"Dian... bisa nggak sih kamu nggak bahas-bahas itu? Jodoh apaan model begini?" Kiki mendesah perlahan, seandainya Bapak Kiki direktur rumah sakit ini, Kiki pasti sudah merengek-rengek di kaki Bapaknya supaya menendang Derren jauh-jauh.


"Ya jodoh. Kau lupa bagaimana aku sama Mas Gavin kemudian bisa nikah? Siapa tahu kalian sama kayak aku dan Mas Gavin,"


Mendadak mata Kiki membulat. Benar juga! Tentu Kiki masih ingat betul bagaimana hubungan keduanya ketika belum sama-sama bucin maksimal seperti sekarang ini. Bagaimana Diandra yang begitu frontal selalu menentang dan mencari gara-gara dengan dosen paling di idolakan mahasiswi di kampus itu dan jangan lupa bagaimana Dokter Gavin yang seolah selalu membuat Diandra menderita di kelasnya. Tapi antara dia dan Derren... masa iya sih akan berakhir macam kisah mereka?


"Ah... jangan suka menyamaratakan keadaan, Dian. Pegang omonganku, aku sama dia nggak bakalan ada hubungan lebih dari partner dan rival di rumah sakit!" wajah tengil itu kembali terngiang di dalam pikiran Kiki.


Ganteng, memang Derren itu ganteng. Tetapi semakin kenal dengan lelaki itu, membuat Kiki makin kesal setengah mati padanya. Terlebih bagaimana perilaku Derren yang nampak sangat senang sekali merepotkan dirinya. Cukuplah mereka satu rumah sakit, jangan satu rumah atau bahkan satu kamar. Horor!


"Oke, kita taruhan!" desis Diandra tegas dan penuh percaya diri.


Kiki mendesah panjang, satu tangannya menepuk-nepuk jidat dengan gemas.


"Taruhan apa lagi sih, Dian? Kemarin kau sudah buat taruhan nggak jelas dan aku sudah memilih untuk hamil dan melahirkan lima kali daripada harus berjodoh dengan dia. Sekarang mau bikin taruhan apa lagi?" tentu Kiki masih ingat taruhan tempo hari.


Kalau sampai mereka jadian, maka Diandra akan menuruti permintaan sang suami yang sudah request lima orang anak. Dan kalau tidak, Kiki yang harus punya lima anak, begitu, kan? Meskipun lima kali hamil dan melahirkan itu berat, agaknya Kiki lebih memilih ini daripada harus memiliki hubungan dengan Derren, NO WAY!

__ADS_1


"Nggak ada! Nggak bisa milih kayak gitu!" tukas Diandra nampak kesal.


"Boleh aja, pokoknya aku lebih milih punya anak lima, titik!" Kiki tidak mau kalah, biar saja anak banyak asal Bapaknya sejak nikah dengan Kiki sudah spesialis!


"Pokoknya nggak ada! Kita lihat nanti, biar waktu yang jawab." Sanggah Diandra dengan sangat menyebalkan.


"Terserah!" Kiki pasrah. Kepalanya jadi makin pusing. Koas yang sudah berat jadi makin berat dengan kenyataan Derren menjadi Dokter umum di rumah sakit ini dan jangan lupa, ajakan berjudi tidak jelas dan tidak bermutu yang selalu Diandra tawarkan kepadanya.


Hal yang bodohnya tidak coba Kiki tolak.


"Nah... gitu, kan, fair."


"Fair gundul mu!" ucap Kiki galak. Heran dia, Dokter Dina dulu ngidam apa sih pas hamil Diandra? Kenapa anak gadis satu-satunya yang beliau miliki bisa segila ini kelakukannya?


Terdengar suara tawa dari seberang, membuat Kiki mendesah panjang dan mencoba memejamkan mata. Di ruang jaga para Dokter ini hanya Kiki yang duduk sendirian di lantai bersandarkan tembok. Waktu visit nya masih beberapa menit lagi. Dan waktu istirahat Kiki yang begitu singkat harus terbuang sia-sia untuk mengobrol hal tidak berfaedah bersama Diandra.


"Dan sekarang, aku bertaruh kalau ucapanmu barusan tidak akan pernah jadi kenyataan." Nah, kan? Mulai?


"Entah, firasatku mengatakan sebaliknya. Dan kalau benar sampai kamu sama dia nggak bakalan sampai jadian, iPhone baru deh ntar kubeliin." Gumam Diandra dengan mantab.


Mata Kiki langsung berbinar mendengar kata 'iPhone baru', dia langsung duduk tegak dan tersenyum lebar. Siapa yang tidak mau iPhone baru gratis?


"Serius?" tanya Kiki tidak percaya.


"Serius!" suara Diandra begitu tegas, menandakan kalau gadis itu serius dengan apa yang dia ucapakan.


"Tapi Kalau sampai kalian jadian...." Diandra nampak sengaja memotong pembicaraanya, membuat alis Kiki bertaut, apakah dia harus membelikan Diandra iPhone baru juga?


"Apa? Aku yang beliin kamu iPhone baru gitu?" tentu Kiki was-was, harga ponsel baru itu cukup lumayan! Dan selama koas, mereka masih perlu keluar banyak uang untuk ini-itu.

__ADS_1


"No, aku nggak bilang gitu!" tegas Diandra yang semakin membuat Kiki penasaran.


"Terus?" apa yang hendak Diandra minta kalau begitu?


"Kalau sampai kalian jadian, aku batal ya lima anak! Gimana?"


Kiki sontak terngangga, kenapa dua taruhan mereka seperti hanya menguntungkan Diandra saja? Taruhan pertama kalau Kiki sampai jadian dengan Derren, Diandra akan menuruti suaminya untuk punya lima anak. Dan sekarang di taruhan ke dua, kalau apa yang Kiki ucapkan tadi tidak terwujud dan dia lantas jadian dengan Derren, Diandra batal punya punya anak lima. Ini maksudnya apa?


Tunggu!


Muka Kiki berubah masam, "Please ya, Dian ini kenapa ujung-ujungnya cuma enak di kamu?" rasanya Kiki benar- benar akan mencekik Diandra kalau mereka bertemu nanti.


"Dah lah, nggak ada taruhan-taruhan!" Kiki menghirup udara banyak-banyak, melepaskan perlahan-lahan dan dia lakukan berulang kali


"Intinya taruhan kita ba-tal! Kau mau punya anak lima kek, sepuluh kek, bebas! Terserah!" Kiki sudah cukup pening menghadapi Diandra.


"Loh, kita udah deal, Ki!" Diandra setengah berteriak.


"Pokoknya nanti ka..."


"Aku bilang batal ya batal!" potong Kiki cepat.


"Dah lah, aku mo visit! Sana balik, pulang dandan cantik biar ntar suami balik tinggal gas bikin anak!"


Tut!


Kiki menutup telepon sepihak. Tidak peduli Diandra akan mengomel panjang lebar, yang jelas dia sudah cukup pusing dengan pembicaraan mereka barusan. Kiki kembali bersandar di tembok. Taruhan? Gila aja! Itu namanya bukan taruhan, tapi sengaja mengerjai Kiki. Mana ada taruhan kok ujungnya berpihak di satu orang saja?


Kiki baru saja hendak mengendurkan saraf otaknya ketika pintu jaga terhempas dan sosok itu sudah berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Ki, ngapain sih di sana? Ayo!"


__ADS_2