
"Ka... kamu hamil, Sayang?"
Diandra mengangguk pelan, hal yang sontak membuat Gavin kembali meraih tubuh itu ke dalam pelukannya. Air mata Gavin menitik. Dia terlampau bahagia sampai menitikkan air mata. Sementara sang istri, bisa Gavin dengar isak tangis Diandra kembali pecah.
"Koas ku gimana, Mas? Jujur aku belum siap."
Sebuah rintihan yang membuat hati Gavin mencelos. Bukankah sejak awal Diandra sudah mengatakan hal itu? Mengatakan bahwa dia sama sekali belum siap untuk hamil buah cinta mereka? Gavin merasakan hatinya pedih. Dia mempererat pelukan itu sambil menjatuhkan kecupan berkali-kali di puncak kepala Diandra.
"Mas ngerti, Mas minta maaf nggak hati- hati," desis Gavin dengan penuh rasa penyesalan.
Ingatan Gavin memutar memori saat dimana mereka saling memadu kasih. Kapan hal ini terjadi? Maksudnya, di momen yang mana hingga kemudian ****** Gavin bisa tumpah dan membuahi sel telur Diandra?
Gavin ingat betul bahwa mereka selalu menghitung masa subur Diandra dengan baik. Ketika hasrat Gavin sama sekali tidak bisa dibendung ketika Diandra sedang subur, Gavin akan dengan suka rela mengenakan pengaman untuk melindungi Diandra. Melindungi dia dari kehamilan yang belum dia inginkan untuk saat ini.
"Sudah telat berapa minggu, Sayang?" kembali Gavin bersuara setelah sepersekian menit Diandra membisu dan hanya terdengar isak tangisnya saja.
"Se-sembilan minggu, Mas," jawab suara itu lemah.
Gavin memutar memorinya. Ah! iya, pasti malam itu awal semua ini terjadi! Gavin masih ingat betul dan semua itu memang murni kesalahannya.
"Maafin Mas, Dian. Mas benar-benar minta maaf nggak bisa nepatin janji. Nggak bisa jagain kamu. Ini semua kesalahan Mas." Gavin kembali meminta maaf.
"Tolong, pertahanankan dia, ya, Sayang! Aku mohon!"
Diandra melepaskan pelukan itu dengan kasar. Nampak wajahnya memerah dengan bercucuran air mata. Sorot itu begitu tajam, sebuah kode bahwa Diandra tengah marah saat ini.
"Mas pikir aku setega itu? Punya pikiran picik dari mana sampai-sampai Mas kira aku bakal singkirin anak kita?" ucap Diandra galak.
"Bu-bukan begitu, Sayang!" Gavin langsung mengklarifikasi, dia tahu kalau dia sudah salah bicara.
__ADS_1
"Aku nggak ber..."
"Aku emang syok, kaget dan belum bisa terima kondisi ini. Tapi demi apapun aku nggak pernah ada pikiran seperti apa yang ada dalam pikiranmu, Mas! Sama sekali nggak ada!" suara Diandra begitu ketus, sorot matanya masih begitu tajam, hal yang membuat Gavin sadar dia sudah melakukan kesalahan fatal.
"Iya. Mas minta maaf. Sungguh Mas nggak bermaksud begitu, Dian! Serius." Gavin berusaha meraih tangan istrinya. Hal yang langsung ditangkis Diandra dengan kasar.
Tanpa mengucap sepatah kata apapun Diandra membalikkan badan. Segera melangkah keluar dari ruangan itu dan sengaja membanting pintu dengan sedikit keras. Jujur hatinya sakit. Apakah Gavin pikir dia akan sekejam itu pada darah dagingnya sendiri hanya karena hamil di saat yang belum dia ingini?
Diandra setengah mati menahan air matanya. Berusaha mengabaikan beberapa perawat di nurse station yang melongo melihat bagaimana merah wajah Diandra. Melangkah dengan tergesa, terpaksa tersenyum menyapa yang malah makin membuat matanya bengkak dan berkaca-kaca.
Semua saling pandang, kompak mengangkat bahu ketika Diandra sudah menghilang dari pandangan mereka. Belum sempat mereka buka mulut, muncul Gavin yang nampak setengah berlari dengan wajah panik. Berbeda dengan sang istri yang masih berusaha menyapa walau dengan menahan tangis, Gavin melenggang begitu saja tanpa menyapa mereka.
"Kenapa sih mereka?" tanya salah satu dari mereka.
"Entah!" jawab seorang yang lain.
"Masalah rumah tangga mungkin!"
Sementara Gavin mati-matian mengejar langkah istrinya. Langsung mencekal tangan Diandra begitu jarak mereka sudah dekat.
"Sayang, please jangan kayak gini." rintih Gavin setengah memohon.
"Apa? Terus mau Mas aku harus bagaimana?" tanya suara itu sengit.
"Aku pikir aku bakalan dapat support, hati aku bakal dikuatkan oleh suami yang katanya sayang dan cinta sama aku. Nyatanya? Dia malah berpikir istrinya ini sesosok makhluk tidak bermoral yang punya pikiran keji hendak membunuh anaknya sendiri! Mikir nggak gimana sakit dan hancurnya aku sekarang, Mas?"
Gavin tertegun, dia mengangguk berusaha mempertahankan tangan Diandra yang sejak tadi berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Gavin.
"Mas benar-benar minta maaf. Tolong maafin aku, Sayang!" air mata Gavin menitik. Dia benar-benar tidak bermaksud seperti apa yang ada dalam pikiran Diandra. Dia sendiri tidak tahu, darimana dia bisa punya pikiran dan tega mengatakan kalimat itu tadi.
__ADS_1
Diandra tampak mengeram, masih berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Gavin. Di saat yang sama, suara itu menyapa. Membuat tangan Gavin mengendur dan Diandra gunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri.
"Vin, lima menit lagi, kan, mulainya?" Matthew muncul, tepat di saat yang sama Diandra segera melesat pergi tanpa bisa Gavin cegah lagi.
"Dian!" Gavin sontak lemas. Jangankan menghampiri, menoleh pun Diandra tidak lakukan sama sekali.
Matthew mengerutkan dahi.
"Kalian lagi ada masalah?" tentu dia bisa lihat mata dan wajah istri dari sejawatnya itu memerah. Bahkan jejak air mata itu masih tergambar di wajah Diandra, koas cantik jelita yang begitu beruntung bisa Gavin nikahi.
Gavin menghela napas panjang. Mengangguk pelan sambil menjambak rambutnya.
"Aduh, sorry banget! Aku nggak tau kalau kalian lagi..."
"Santai, Matthew. Dia lagi super sensitif. Aku juga yang salah." Gavin hendak mengejar, namun tanggung jawabnya sudah memanggil. Ada tanggung jawab yang sudah menanti Gavin di ruangan dingin favoritnya.
"Lagi PMS bini kau? Atau gimana?" mereka lantas melangkah menuju lift. hendak pergi ke lantai dua di mana OK berada.
"Enggak juga." jawab Gavin yang jujur hatinya masih risau.
"Lah? Terus kenapa? Kau nggak selingkuh, kan, Vin?" wajah Matthew tampak menatap Gavin dengan saksama. Sebuah pertanyaan yang lantas membuat mata Gavin melotot tak suka.
"Demi Allah, aku nggak akan pernah sia-siakan istri kayak Diandra itu, Matthew! Sampai kapanpun!" tegas Gavin serius.
"Ya sorry. Soalnya tadi istrimu nampak kayak tersakiti banget, Vin!" jelas Matthew yang otomatis membuat Gavin tertegun.
Nampak sangat tersakiti?
Ah! Kenapa rasanya Gavin ingin membalikkan badan dan mengejar sang istri? Tapi bagaimana dengan operasi yang harus dia pimpin? Segala sesuatunya sudah siap dan bukankah dia sudah disumpah untuk mengutamakan kepentingan dan keselamatan pasiennya diatas segala-galanya?
__ADS_1
Hati Gavin bimbang, gelisah dan risau tidak menentu. Pikiran Gavin bercabang. Diandra dan segala macam kemarahannya tadi terus terbayang di dalam benak Gavin saat ini. Dia begitu takut terjadi hal -hal buruk pada Diandra.
Kenapa mulut Gavin bisa sekejam tadi? Kenapa pikiran Gavin bisa sepicik itu menilai dan menuduh istrinya sendiri? Astaga, Vin! Kau benar-benar goblok!!