Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Are you ready, Vin?


__ADS_3

Gunung Lawu yang memiliki ketinggian 3.265 mdpl masuk dalam seratus gunung tertinggi di dunia, dia terletak di perbatasan provinsi Jawa tengah dan Jawa timur, menjulang tinggi dengan segala macam pemandangan hijau khas pegunungan yang begitu sejuk dan asri di kakinya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam lamanya, kini Gavin dan Darmawan sudah berdiri di depan gerbang Cemoro Sewu dengan carrier super besar yang sudah bertengger di pundak, jaket tebal lengkap dengan segala perlengkapan lain tidak ketinggalan. Darmawan benar-benar sudah mempersiapkan semuanya dengan baik dan terencana.


"Kita akan naik lewat sini, Vin. Ini jalur terpendek dan termudah," gumam Darmawan dengan senyum merekah.


"Nggak salah saya pilih Lawu, meskipun tinggi jalur pendakiannya mudah, cukup aman dan membantu untuk yang baru pertama kali naik kayak kamu," ucap Darmawan.


Gavin hanya nyengir lebar tidak salah kan, kalau dia belum pernah naik gunung? ini benar-benar akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan dalam seumur hidup Gavin. Hiking hanya demi mendapatkan jawaban atas lamaran yang dia ajukan untuk anak gadis Darmawan? adakah pria lain yang mendapatkan tantangan macam ini dari calon Papa mertua?


"Jaga sikap, jaga pikiran,, Vin, gunung itu punya banyak kabut misteri yang kadang tidak bisa di logika pakai nalar macam ilmu yang kita pelajari di bangku kuliah. Jadi harus hati-hati selama di atas nanti," ucap Darmawan.

__ADS_1


Gavin menghela nafas panjang, menganggukan kepala sebagai tanda bahwa dia paham dan mengerti dengan apa yang Darmawan sampaikan tadi. Gavin sudah sering mendengar mitos-mitos perihal gunung yang hendak dia taklukan malam ini.


Tentang orang-orang misterius yang bisa saja menyelamatkan atau menjerumuskan pendaki hingga berujung kehilangan nyawa. Muncul banyak hal-hal gaib yang tidak bisa dilogika, tentu saja dia sudah tahu dan sudah mendengar tentang hal itu.


"Are you ready, Vin?" Darmawan menghirup udara banyak-banyak, menatap hijaunya pepohonan tinggi yang menjulang di hadapannya.


"Yes sir, I'm ready," ucap Gavin.


Diandra mondar-mandir sejak tadi tanpa bisa terlelap sama sekali, ponsel sama sekali tidak terlepas dari tangannya, menantikan balasan dari puluhan pesan yang sudah dia kirimkan baik pada nomor bujang lapuk dan nomor Papanya sendiri. Puluhan pesan yang hasilnya nihil, jangankan dibalas pesan-pesan itu hanya ceklis satu, yang mana tandanya nomor mereka berdua tidak aktif.


"Kemana sih? sampai ponsel kompak mati? mereka baik-baik saja kan?" mendadak Diandra begitu khawatir.

__ADS_1


"Ya ampun Pa... Papa kemana sih?" Diandra benar-benar gemas, dia jadi tidak bisa tidur kalau begini caranya!


Diandra membaringkan tubuhnya di atas ranjang, sepertinya sudah fix dia benar-benar akan dinikahi Gavin!!! tanggapan dan respon kedua orang tuanya begitu welcome pada lelaki itu. Tidak hanya sang Papa, tapi sang Mama yang awalnya menolak keras keinginan Diandra untuk menikah di usia yang cukup muda ini.


"Nasib apa ini! nggak bagus amat sih!!!" kembali Diandra mendesis, sebanyak apapun dia mengeluh, memberontak atau apapun, nasib dan takdirnya sudah jelas, dia sudah bisa dipastikan akan menikah dengan Gavin.


Menikah dengan dosen killer, menyebalkan, jutek, dan orang yang selalu mencari gara-gara dengannya? Diandra harus ingat-ingat betul bahwa setelah ini dia tidak boleh kelepasan bicara yang tidak-tidak, dia kapok! tidak mau lagi ketiban sial macam ini!


"Ya kali dia beneran nggak bakalan ngapa-ngapain aku? orang dia aja mesum setengah mati macam itu!" Diandra benar-benar tidak percaya kalau Gavin bisa tahan tidak memaksanya melakukan 'hal itu' padanya.


Diandra benar-benar takut, pernikahan yang dia lakoni hanyalah pernikahan terpaksa yang harus Diandra jalani efek omongan asalnya kala itu! tentunya dia tidak mau kalau sampai...

__ADS_1


"Duh Gusti, kenapa jadi ruwet kayak gini sih?"


__ADS_2