
Sumpah baru kali ini Gavin naik gunung! berat carrier yang dia bawa di punggung jadi makin berat ketika jalur pendakian sudah mulai menanjak.
Jadi begini rasanya naik gunung? menerobos hutan tengah malam dengan udara dingin. Astaga! kenapa Gavin lebih baik berdiri dan berperang berjam-jam di dalam OK daripada harus menerobos hutan di malam buta seperti ini!!!
Demi Diandra... semua demi Diandra batin Gavin.
Tentu Diandra lah yang menjadi alasan Gavin tetap kuat dan terus melangkah mendaki jalur bebatuan, membelah hutan itu. Demi sang ibu yang sudah jatuh hati pada Diandra dan tentu saja demi masa depan dan martabatnya sebagai seorang Dokter spesialis dan dosen.
Bukan kenapa-kenapa, dia sekolah puluhan tahun hingga bisa sampai sekarang dan harus menikahi gadis di bawah umur yang baru lulus SMA? ini bukan apa lulusan Tati,, bukan soal itu... ini soal kepantasan, kalau masalah lulusan Gavin bisa menyekolahkan lagi si Tati sampai jadi sarjana, tapi menikahi Tati yang...
Astaga! mau ditaruh di mana muka cool Gavin kalau sejawat dan mahasiswinya tahu model istri Gavin macam itu, hancur sudah reputasi yang Gavin jaga selama ini! hancur.
"Capek Vin?" tanya Darmawan dan Gavin tersentak ketika suara itu membuyarkan lamunannya,, mereka yang hanya berangkat berdua bergabung dengan beberapa pendaki lain membuat Gavin bisa sedikit lebih tenang dan merenung sepanjang perjalanan, karena Darmawan asik mengobrol dengan beberapa pendaki yang bergabung dengannya membentuk satu tim guna melengkapi mereka dan tentu saja menghindari mitos-mitos yang selama ini berkembang mengenai pendakian di gunung ini.
"Ah... nggak Prof, cuma sedang menikmati suasana di sini," jawab Gavin.
Apapun yang Gavin rasakan saat ini dia tahu betul bahwa ketika mendaki sangat dilarang untuk mengeluh, dia sering mendengar hal ini dari teman-temannya sehabis hiking dulu banyak mereka yang bercerita tentang gunung ini, tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan dan tentu saja pengalaman mistis yang mereka alami.
"Asik kan?" Darmawan memperlambat langkah mensejajarkan langkahnya tepat di sisi Gavin, sebuah hal yang sederhana yang langsung membuat Gavin merasa benar-benar diterima oleh sosok itu membuat hati Gavin hangat dan berbunga-bunga.
"Tentu! terima kasih sudah mau mengajak saya malam ini Prof," senyum Gavin merekah, entah mengapa dia merasa bahagia semua lelah dan dan pegal pundaknya mendadak hilang entah kemana.
Darmawan menepuk pundak Gavin dengan lembut, mereka kembali melangkah beriringan menyusuri jalanan untuk mencapai pos selanjutnya.
Apakah masih lama? jarak pos satu sampai puncak kira-kira tujuh kilometer dan mereka baru hampir sampai di pos dua, jadi sudah tahu kan jawaban dari pertanyaan Gavin barusan.
Gavin menghirup udara segar itu dalam-dalam, pemandangan sekitar meskipun gelap cukup menarik bagi Gavin, sebuah pemandangan yang baru pertama kali Gavin lihat secara langsung, dinikmati secara langsung.
Sebuah pemandangan yang Gavin dapatkan dari perjuangan demi mendapatkan restu Darmawan atas niat baiknya,, sebuah niat yang makin lama makin kuat! tumbuh dalam hati Gavin, jika awalnya Gavin hanya ingin menyelamatkan diri, maka kini dia berubah tujuan.
Terlebih jangan lupakan bahwa perjuangan Gavin untuk mendapatkan dan bisa menikahi Diandra cukup luar biasa.
Gavin terus melangkahkan kaki, beberapa kali dia tampak asik mengobrol baik dengan Darmawan atau beberapa teman baru yang mereka dapatkan ketika di pos satu, hati Gavin entah mengapa terasa begitu tenang semenjak dia mulai terbiasa terus melangkah menaiki jalur pendakian, tidak peduli sebenarnya ini adalah kali pertama melakukan kegiatan ekstrim ini.
Tidak ada telepon yang mengganggu, tidak ada operasi yang terkadang membuat saraf otaknya tegang, Gavin seperti berada di dunia lain yang begitu menenangkan jiwanya.
Mereka sudah hampir sampai.
Kata Darmawan Sendang Drajat sudah tinggal di depan, Sendang atau mata air yang banyak orang percaya dapat mengabulkan semua keinginan, memberikan mukjizat bagi siapapun yang meminum airnya, air yang meskipun terus-menerus diambil tetapi tidak pernah kering bahkan di musim kemarau.
__ADS_1
Ada lagi danau gunung di kawah tua, menjelang pos terakhir menuju puncak. Konon siapapun yang mandi, berendam di tempat ini dan tubuhnya bisa masuk semua ke dalam air maka segala keinginannya dapat terkabul, namun meskipun Gavin punya sebuah keinginan yang begitu kuat muncul di dalam hatinya, dia tidak berani coba-coba untuk melakukan hal itu, dia tidak mau merepotkan orang kalau sampai dia terkena hipotermia, posisi mereka ada di ribuan meter di atas permukaan laut.
"Tahu kenapa tadi saya nggak bolehin Diandra ikut Gavin?" Darmawan kembali memperlambat langkahnya dan sejajarkan langkah tepat di samping Gavin.
Gavin tertawa lirih dan mengangguk. Bisa habis mereka kalau Diandra ikut, carrier yang Gavin bawah sudah cukup berat dan kalau harus menggendong gadis menyebalkan itu sampai ke puncak Gavin tidak sanggup.
"Mengerti Prof," jawab Gavin sambil tersenyum.
"Ayo kita istirahat sebentar nanti di sana, setelah itu lanjut naik,, keburu pagi dan telah terlihat sunset nya," ucap Darmawan.
Gavin kembali mengangguk,, kembali melangkahkan kaki mengikuti rombongan, sepanjang perjalanan Gavin terus menerus jaga ucapan, jaga perilaku dan jaga pikiran, sudah jadi rahasia umum kalau gunung yang tengah dia daki ini masuk dalam golongan gunung yang sakral! dan penuh misteri!!!
Gunung yang menjadi pusat kegiatan spiritual di tanah Jawa dan masih ada ikatan erat dengan Keraton Kasunanan Surakarta dan Keraton Yogyakarta, ini menjadi lokasi moksa dua tokoh nasional yang mempunyai pengaruh cukup luar biasa di nusantara, ada kisah Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit yang melarikan diri ke gunung Lawu ketika kerajaannya dihancurkan oleh kerajaan Kediri, beliau dikabarkan melakukan tapa moksa, atau sebuah konsep dalam ajaran agama Hindu dan Budha, dimana moksa berarti melepaskan diri dari segala ikatan duniawi dan perputaran reinkarnasi kehidupan fans. Lokasi yang dipercaya sebagai tempat Prabu Brawijaya V melakukannya tapa moksa adalah puncak Hargo Dalem.
Tokoh yang kedua adalah abdi setia dari Prabu Brawijaya V, Ki Sabdopalon yang melakukan moksa di puncak Hargo Dumiling, meskipun ada cerita versi lain yang berkembang mengatakan bahwa Sabdopalon melarikan diri ke pulau Bali setelah keruntuhan Majapahit.
Tidak ada yang tahu pasti perihal itu benar atau tidak legenda yang berkembang di tengah masyarakat tanah Jawa sejak dulu itu, yang jelas gunung ini begitu sakral tidak boleh sembarangan bertutur kata dan perilaku di sini.
Gavin tersenyum menatap sekeliling, di balik kisah misterius gunung ini,, Gavin masih bertanya-tanya, apa tujuan Darmawan membawanya kemari? adakah suatu hal yang ingin lelaki itu perlihatkan pada Gavin? efek dari lamaran yang Gavin ajukan untuk meminta anak gadis Darmawan untuk dia jadikan istri?
Gavin menghela nafas panjang, dia lebih penasaran akan hal itu dan berharap bahwa Darmawan segera membuka suara dan menjawab lamarannya.
Air mata Gavin menitik, ketika semburat jingga itu menghiasi langit luas yang berada tepat di atas kepalanya, dia dan rombongan sudah sampai pada puncak tertinggi gunung Lawu beberapa jam yang lalu, setelah beristirahat dan menikmati makan malam,, kini mereka menikmati hamparan langit luas berwarna jingga dan tentu saja sinar mentari perlahan-lahan muncul.
Seindah ini sunrise dari puncak gunung?
Ini adalah pengalaman pertama kali Gavin dalam seumur hidup, pengalaman yang makin membuatnya sadar bahwa ciptaan Tuhan memang begitu luar biasa.
"Nangis Vin?" tanya Darmawan dan Gavin tersentak menoleh dan mendapati Darmawan sudah berdiri tepat di sampingnya, dengan memegang kamera DSLR di tangan.
Gavin tersenyum menganggukkan kepala pasrah, karena dia memang telah menitikkan air mata saat ini, tangannya menyeka air mata yang menitik sementara mata Gavin tidak lepas dari langit luas yang ada tepat di atas kepalanya.
"Mau tahu kenapa saya bawa kamu kemari, Vin?" tanya Darmawan.
Gavin menoleh menatap lelaki itu dengan tatapan serius, tentu Gavin ingin tahu,, bukankah dia sudah menantikan hal itu sejak dia sampai di sini?
"Tentu Prof, saya benar-benar tidak mengerti mengapa kita ha..."
"Duduk Vin," ucap Darmawan yang langsung meletakkan tubuh di tanah, meluruskan kaki dan meletakkan kamera dalam pangkuan.
__ADS_1
Gavin pun segera duduk tepat di sisi guru besar itu, menantikan apa jawaban dari pertanyaan yang terus mengganggu dirinya sejak dia tiba di sini.
"Kalau kamu perhatikan perjalanan rumah tangga itu sama seperti ketika kamu menaiki gunung ini tadi,, Vin," Darmawan mulai bersuara matanya menatap lurus ke depan.
"Orang berumah tangga jalan yang mereka lewati tidak akan selamanya lurus dan mulus, ada kalanya jalan yang harus dilalui berbatu,, berlumut dan berlumpur, kadang menikung, melandai dan ya samalah dengan jalur pendakian yang tadi kita lewati," ucap Darmawan.
Gavin dia mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Darmawan,, berumah tangga sama seperti perjalanan naik gunung?
"Orang berumah tangga itu tidak hanya butuh kesiapan fisik saja Vin, tidak hanya butuh kesiapan materi dan perbekalan saja, tetapi juga butuh kesiapan mental sama seperti orang yang naik gunung," ucap Darmawan.
Gavin masih menyimak dengan seksama.
"Orang naik gunung cuma modal badan kuat sama bekal yang banyak tanpa mental kuat dia nggak akan sampai di puncak," Darmawan tersenyum matanya terus menatap lurus ke depan.
"Orang yang mentalnya lemah melihat jalanan macam tadi pasti menyerah, berbalik dan putar arah karena pikirannya sendiri yang mendoktrin bahwa dia tidak akan sampai dan sanggup sampai puncak," ucap Darmawan.
"Nikah itu juga gitu, Vin," Darmawan menepuk lembut pundak Gavin.
"Nikah butuh mental yang kuat! nggak cukup cuma fisik, usia matang sama materi," ucap Darmawan.
"Perjalanan pernikahan tidak selalu mulus, itu yang saya alami puluhan tahun nikah sama Mamanya Diandra," ucap Darmawan.
Gavin mulai bisa menangkap semua maksud dari Darmawan yang menyamakan perjalanan pernikahan dengan perjalanan mendaki gunung.
"Tapi ketika kita berhasil melewati semua jalanan berbatu nan terjal dan melandai dengan sabar, tahu apa hasil yang kita dapatkan, Vin?" ucap Darmawan.
Darmawan menoleh menatap Gavin dan tersenyum penuh arti.
"Kita bisa sampai di puncak dan bisa menikmati pemandangan luar biasa indah ini, jika kita sabar dan pantang menyerah melalui jalur-jalur tadi, sama seperti orang berumah tangga kita akan mendapatkan ketenangan, kebahagiaan yang hakiki karena hidup bersama dengan orang yang kita cintai, keluarga yang kita inginkan," ucap Darmawan.
Gavin tersenyum, jadi ini maksudnya?
"Ada lagi,, Vin," ucap Darmawan.
Gavin tertegun, ada lagi? memangnya apa?
Agaknya banyak sekali pesan moral yang hendak Darmawan sampaikan padanya dibalik ajakan Darmawan hiking mendadak seperti ini, sebuah pesan moral yang tidak akan Gavin dapatkan di tempat lain.
"Kalau boleh saya tahu apa Prof?" tanya Gavin.
__ADS_1