
Gavin menekan knop pintu, mendapati sosok itu sedang tengkurap di atas kasur, yang ada di dalam kamar bernuansa pink pastel milik Diandra, Ah... cewek banget ya? semuanya bernuansa pink pastel dan putih, Gavin tersenyum masuk perlahan sambil membawa koper yang mana satu di antara dua koper tadi Papa mertuanya yang bantu naik.
"Dian, kenapa sih? saya nggak enak sama Papa loh kamu pulang-pulang manyun gitu wajahnya," ucap Gavin sambil melangkah menghampiri ranjang,, duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan Diandra yang tengkurap membenamkan wajah di bantal.
Tidak ada jawaban, membuat Gavin lantas memberanikan diri menepuk bahu Diandra, mengguncang bahu itu perlahan berharap Diandra mau bangun dan bicara padanya.
"Dian, kamu marah sama saya? saya salah apa lagi sih, Dian?" tanya Gavin nelangsa, membuat siapa saja yang mendengar kalimat tanya itu sontak prihatin dengan sosoknya.
Diandra mengangkat wajah, menoleh dan segera bangun dari posisinya, mata itu bersorot tajam, membuat Gavin sadar bahwa dia mungkin sudah melakukan kesalahan.
"Pokoknya kalau sampai di sana nanti dia macam-macam nggak peduli anak Kadus, bakalan aku amuk," ucap Diandra dengan bibir mengerucut.
Mata Gavin membulat, kuncup yang mulai mekar tadi makin bermekaran, meskipun belum mekar sempurna tetapi sudah lebih berkembang dari kuncup yang tadi tumbuh di hatinya.
"Ya tapi kan..."
"Nggak ada tapi, pokoknya udah fix!" Diandra kembali merebahkan tubuh, menelungkupkan tubuhnya sambil membenamkan wajah di bantal.
Gavin tersenyum, dia ikut merebahkan tubuh, tengkurap tepat di sisi Diandra sambil menopang wajah dengan satu tangan.
"Saya suka lihat kamu kayak gini, Dian" desis Gavin lirih sambil mengulum senyum, sebuah kalimat yang sontak membuat Diandra mengangkat kepala dan menoleh ke arahnya.
"Suka?" Diandra terbelalak nampak dia begitu terkejut membuat senyuman Gavin makin merekah.
"Iya saya suka! rasanya itu kayak kamu takut banget kalau sampai saya dideketin cewek lain," kembali senyum Gavin merekah, sementara wajah Diandra nampak salah tingkah.
"Bu... bukan begitu maksudnya, saya..."
"Dian, jangan bohong deh," potong Gavin cepat, masih belum mau merubah posisinya.
"Boleh nanti saya di sana dekat-dekat sama si Tati? dekat ter..."
"Ya udah sana nikahin aja, kenapa sih kemarin sampai ngejar-ngejar saya banget pakai ikut hiking sampai Lawu, nggak ada gunanya," Diandra bangkit melangkah menuju pintu, lalu keluar dan membanting pintu kamar dengan sedikit keras.
Gavin terbahak begitu sang istri keluar dari kamar, dia merebahkan tubuh menatap langit-langit kamar sang istri sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Dian... Dian, kamu itu gemes banget sumpah!" ucap Gavin.
###########
Drian sedang sibuk menghabiskan kudapan yang Mbok Lastri buatkan, ketika melihat sang adik ternyata sudah sampai di rumah dan tengah menuruni anak tangga, matanya membulat senyumnya merekah. Saatnya dia beraksi.
"Cie pengantin baru dah balik ternyata," teriak Drian penuh semangat, sebuah teriakan yang langsung dibalas juluran lidah oleh Diandra.
"Gimana perih? jago nggak mainnya suamimu?" tanya Drian.
Diandra sontak melotot, tangannya segera melayang dan membabi buta menimpuki lengan abangnya, bukan hanya lengan, punggung dan perut pun tidak lepas dari serangan Diandra membuat Mbok Lastri yang tengah mempersiapkan makan siang sebelum keluarga besar ini bertolak ke Madiun terkekeh melihat tingkah dua anak majikannya tidak pernah akur sejak mereka kecil.
"Ngeselin tau nggak! nih rasain!" Diandra masih sibuk menimpuki abangnya ketika kemudian Dina muncul dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Kakak beradik itu.
"Aduh parah nih! sakit Dian," Drian mencoba menangkis serangan-serangan itu, sementara Diandra tidak nampak hendak menghentikan serangannya.
"Terus baku hantam aja terus kalian berdua," Dina melipat kedua tangannya, berdiri sambil melotot tajam menatap tingkah kakak beradik itu.
"Dian nih Ma, sukanya main tangan, aduh," adu Drian meringis.
"Aduh sakit, Dian," Drian pun berteriak membuat Dina akhirnya mendekati mereka berdua dan menarik telinga mereka bersamaan.
"Ma lepas ih, sakit Ma," kini Diandra dan Drian kompak berteriak bersamaan, berusaha melepaskan tangan Dina yang menarik telinga mereka.
"Mama itu ya udah cukup pusing ngadepin kalian berdua ya, jadi gimana sekarang masih mau pada ribut," Dina benar-benar gemes setengah mati.
"Nggak malu apa sama umurnya, Dian juga nggak malu sama suami kalau suami kamu lihat! benar-benar kalian berdua ini," ucap Dina.
Dina melepaskan jeweran di kedua telinga anaknya, napasnya naik turun dengan mata melotot menatap keduanya bergantian, sementara keduanya langsung kompak mengusap telinga mereka yang memerah.
"Mama ihh, kekerasan ini namanya," Drian mencebik, untung di rumah kejadian jewer menjewer ini kalau tidak habis sudah image Dokter internship most wanted di rumah sakit yang dia sandang.
"Iya nih sakit tahu Ma," Diandra ikut protes, bibirnya mengerucut sambil terus mengusap telinganya.
"Makanya ayo ribut lagi kalian berdua, cepat ayo Mama lihat sini," ucap Dina.
__ADS_1
Drian dan Diandra kompak nyengir, disaat yang sama muncul dua laki-laki itu sambil geleng-geleng kepala.
"Apaan sih ribut banget kedengaran sampai depan Ma," ucap Darmawan yang yakin pasti ada sesuatu yang terjadi, sebuah hal yang pasti terjadi ketika Drian dan Diandra ada di rumah.
"Biasa nih untung Dino udah balik, kalau nggak makin pusing kepalaku Pa," Dina memijat kepalanya lalu melangkah meninggalkan meja makan.
Darmawan menatap dua anaknya bergantian, sudah dia duga bukan, pasti biang keroknya dua kakak beradik itu, entah yang besar atau yang kecil pemicunya tapi sudah fix di pastikan mereka buat gara-gara.
"Kenapa sih kalian hobby banget bikin Mama kalian mencak-mencak begini?" Darmawan menarik kursi, lalu duduk di kursi sambil menatap keduanya dengan seksama.
"Bang Drian tuh Pa mulai duluan," lapor Diandra sambil mencebik.
"Eh aku?" Drian berteriak tidak terima, tangannya terayun menimpuk bahu Diandra keras-keras membuat Diandra sontak menoleh dan melotot ke arahnya.
"Iyalah tadi yang mulai duluan kan kamu Bang," Diandra berteriak menggelegar cukup keras mengalahkan toa tahu bulat membuat Darmawan dan Gavin kontan mengernyit efek suara mengejutkan itu.
"Loh tapi aku tadi cuma nanya dia, nggak salah kan?" Drian masih belum terima, intinya bukan dia yang mulai.
"Iya kan..."
"Sudah... sudah," Darmawan menengahi.
"Bisa nggak sih tenang sedikit saja, kebiasaan memang kalian berdua ini," ucap Darmawan lagi.
Gavin hanya terkekeh, ikut menarik kursi lalu dengan lembut menarik Diandra menjauh dari Drian.
"Duduk sini deh," kembali dengan lembut Gavin mendorong kursi itu, lalu duduk di kursi yang ada di sebelah Diandra.
"Kamu itu Vin, mau-maunya sih sama Diandra? kalau aku mah ogah," Drian duduk di dekat sang Papa, bibirnya masih mengerucut menahan kesal pada sang adik.
Gavin tertawa kecil, tangannya mengusap kepala Diandra yang masih mencebik dan menatap kesal ke arah Drian.
"Ya gimana Bang, namanya juga udah cinta," jawab Gavin sambil tersenyum.
Diandra tersentak, dia menoleh dan menatap Gavin yang masih tersenyum begitu manis itu, mengabaikan Drian yang menjulurkan lidah mendengar pengakuan Gavin tadi.
__ADS_1
"Apa tadi Gavin bilang? jatuh cinta? cinta yang bagaimana? maksudnya apa?"