Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Kejadian sesungguhnya!


__ADS_3

"Apa? Papa selingkuh?" Tampak Sony terkejut luar biasa.


"Siapa yang bilang kalau Papa selingkuh, Aliya?"


Aliya terisak hebat, dia menampik tangan Rachel yang hendak meraihnya dalam pelukan. Dia memundurkan langkah, malah mendekat di sisi Gavin, menjauhi kedua orang tuanya.


"Mama bilang kalau kalian bercerai karena Papa selingkuh sama staf administrasi rumah sakit sampai punya anak!" Disela-sela isak tangis, Aliya mencoba menjelaskan menjawab pertanyaan Ayahnya seperti apa yang selama ini dia dengar dari Rachel.


"APA?" Sony memekik, ditatapnya Rachel dengan tatapan penuh emosi.


"Jadi begini? Aku tutupi aib kamu di depan anak-anak dan sekarang kau malah memfitnah aku, Hel?" Suara Sony bergetar hebat. Bisa Gavin lihat wajahnya memerah.


"Sekarang, coba bilang di depanku kalau aku yang selingkuh! BILANG!"


Rachel memucat, bulir-bulir keringat nampak membasahi wajahnya. Wajah yang Gavin tahu betul menggambarkan kepanikan yang teramat sangat. Bukankah Gavin pernah melihat wajah itu? Dulu sekali saat dia nekat menemui Rachel di mess dan memergoki mereka habis memadu kasih bersama? Dan sekarang, Gavin kembali melihat wajah panik dan ketakutan itu.


"Bilang coba! Katakan di depan Aliya, di depanku kalau aku benar-benar selingkuh!" Sony begitu gusar, dia tampak masih sangat emosi. Dia lantas memalingkan wajah, menatap Aliya yang masih shock bukan main.


"Dokter Gavin, sebelumnya saya minta maaf kalau niat saya untuk bertemu anak saya dan membawanya pulang malah hampir mencelakakan istri dan janin Anda, Dok." Desis Sony lirih, dia menunduk tidak berani menatap secara langsung ke wajah dan mata Gavin.


"Astaga, Pa!" Aliya berteriak.


"Jadi tadi...."


Aliya ternganga sampai tidak sanggup berkata-kata lagi. Drama apa lagi yang terjadi di keluarganya? Hanya demi ingin bertemu dengan dirinya sang Papa sampai menyewa orang untuk mencoba menculiknya?


"Papa akan jelaskan nanti. Intinya Papa sangat menyesal karena hampir jatuh korban. Kalau Mamamu tidak selicik itu, semua ini tidak akan terjadi."


Rachel melotot, dia tampak tidak terima dengan apa yang Sony katakan.


"Kenapa jadi aku yang kau salahkan? Kau sendiri yang punya ide gila itu dan aku yang kau jadikan tersangka?" Ketakutan di wajah Rachel mendadak lenyap, dia menampakkan kemarahan yang teramat sangat.


"Kau yang mulai semua ini, Hel! Kau yang main api dengan di rektur utama rumah sakit tempat mu dinas. Kemana janin dalam kandunganmu, sekarang aku tanya? Kemana? Dan kau pikir aku akan diam saja dengan segala tingkah mu yang menjijikan itu?"


Aliya menggeleng.

__ADS_1


"Jadi benar selama ini Mama yang selingkuh? Bukan Papa?" Suara Aliya begitu lirih, hampir tidak terdengar karena dadanya terasa begitu sesak.


"Tanyakan ke Mamamu, coba Papa ingin dengar apa jawabnya!" Tukas Sony dengan nada dingin.


Rachel tidak berkutik. Air matanya menitik. Sebuah tindakan yang secara tidak langsung menjawab semua pertanyaan Aliya tentang kebenaran yang selama ini berusaha Rachel tutupi.


"Papa tidak pernah sekalipun berselingkuh! Sama sekali tidak pernah meskipun sejak awal menjalin hubungan dulu Mamamu sudah lebih dulu berbohong, membohongi Papa, Aliya." Gumam Sony lirih.


"Kalian di bawa pindah ke sini semata-mata karena Dokter Lia, istri Professor Anggara sudah mulai curiga dengan hubungan terlarang mereka. Silahkan konfirmasi sendiri!"


Aliya tergugu, dia sama sekali tidak bisa bicara sepatah kata apapun. Hatinya begitu sakit. Jadi selama ini dia cuma dibohongi oleh Mamanya? Orang yang selama ini selalu menampakkan wajah tersakiti yang konon katanya karena perselingkuhan yang Papanya lakukan. Kenapa semuanya jadi seperti ini?


"Aku akan bawa kedua anak ku. Mereka lebih baik bersamaku." Tegas Sony serius.


"Apa? Nggak akan! Aku tidak a..."


"Sebelumnya mohon maaf kalau saya menyela. Mungkin untuk masalah ini bisa dibicarakan di luar? Diandra butuh istirahat." Potong Gavin yang sudah cukup pusing dan pening mendengar perselisihan mereka sejak tadi.


"Baik, saya mohon maaf sekali lagi, Dok. Maaf yang sebesar-besarnya karena su..."


"Ikut aku keluar! Kita perlu bicara banyak hal!"


Rachel menoleh ke arah Aliya. Aliya malah semakin mundur. Berlindung di balik tubuh Gavin yang berdiri tegak di samping brankar. Tangannya meraih dan menggenggam tangan Diandra. Nampak tidak mau ikut kemana Ibunya itu akan pergi.


"Jangan khawatir, Aliya aman di sini. Dia tidak akan kemana-mana!" Tegas Gavin yang lantas membuat Sony tersenyum lega dan mengangguk pelan.


Dua orang mantan suami istri itu melangkah pergi, mengabaikan pandangan perawat dan beberapa Dokter koas serta residen yang ada di sana. Begitu dua orang itu lenyap, Gavin menoleh menatap Diandra dan Aliya bergantian.


"Aku ketemu Dokter Rizky dulu. Om titip Kak Dian, ya, Aliya?"


Aliya mengangguk pelan. Menyeka air mata sambil tersenyum simpul. Gavin lantas melangkah keluar tepat di saat yang sama, Aliya jatuh terduduk di kursi, menelungkupkan wajah di tepi brankar Diandra. Tangisnya pecah, suaranya begitu memilukan membuat Diandra tersenyum getir lalu mengelus kepala Aliya perlahan-lahan.


"Aliya... Kamu yang kuat ya, Dek! Nangis dulu kalau mau nangis, biar lega." Bisik Diandra sambil menepuk lembut bahu Aliya.


"Aku kecewa banget, Kak! Selama ini Mama udah bohong! Mama playing victim banget pakai bilang kalau Papa yang selingkuh. Padahal ternyata malah Mama yang selingkuh sampai hamil."

__ADS_1


Diandra tersenyum getir, matanya memanas. Dia ikut sedih dan prihatin mendengar dan melihat semua yang terjadi tadi.


"Bukan salahmu kecewa, Aliya. Bukan salahmu kalau semua jadi seperti ini. Semua murni kesalahan orang tua mu. Sudah, kuatkan dan besarkan hati, masa depan kamu masih panjang, Aliya." Kembali Diandra berbisik, berusaha menenangkan Aliya yang masih sesenggukan menangis.


Siapa yang tidak kecewa kalau kasusnya seperti ini? Diandra pun pasti akan kecewa berat dan mengamuk kalau tahu selama ini dia di bohongi oleh Mamanya sendiri. Di putuskan komunikasi dengan Papanya dan di doktrin untuk membenci Papanya karena perbuatan yang bahkan tidak di lakukan, itu sangat kejam sekali!


"Aku mau ikut Papa, Kak. Aku nggak mau sama Mama. Mama jahat, Mama bikin aku malu. Aku benci Mama!" Desis Aliya sambil terisak.


"Nggak boleh gitu, Aliya! Gimana pun Mama kamu yang dulu susah payah mengandung kamu, melahirkan kamu, Aliya." Gumam Diandra menasehati.


"Tapi aku malu Kak, apalagi sama Kakak sama Om Gavin, benar-benar rasanya malu banget!" Isaknya makin menjadi.


"Bahkan Kakak sama kandungan Kakak hampir celaka karena aku. Kenapa keluarga aku sedrama ini?"


Diandra tersenyum, kembali mengelus lembut bahu Aliya yang masih naik turun itu.


"Tidak perlu malu sama Kakak, apalagi sama suami Kakak. Dia paham kok, dia ngerti, Aliya. Dia kenal betul dengan Mamamu."


Bisa Diandra lihat wajah itu nampak terkejut bukan main. Diandra tersenyum simpul melihat keterkejutan itu.


"Kenal betul sama Mama?"


Diandra mengangguk dan tersenyum.


"Iya."


"Bagaimana bisa?" Alis itu masih berkerut.


"Karena sebelum menikah dengan Papamu, Om Gavin itu mantan pacar Mama mu."


############


Mampir ke novel baru ku yah..


"Pria Pilihan Kakek"

__ADS_1


mksh sebelumnya😊🙏


__ADS_2