
"Enaknya tidur aja!" jawab Diandra dengan ketus, dia lantas mempererat pelukannya pada guling mengabaikan Gavin yang nampak kaget dengan aksi penolakannya.
"Sayang serius nih!" Gavin tampak tidak terima, dia mengangkat kepalanya dan menatap Diandra yang masih cemberut.
"Serius! mood ku hilang," Diandra menutupi wajahnya nampak terlihat masih sangat kesal sekali.
Gavin kontan garuk-garuk kepala, dia salah apa lagi sih? sudah benar tinggal celup loh tadi dan sekarang dia harus mulai lebih awal dengan merayu Diandra lagi? astaga! kenapa jadi dia yang kena? kesal dan marahnya sama Tati. Kenapa Gavin yang harus menanggung akibatnya sih?
"Kan tadi janji? pengen apa deh, coba bilang sini sayang," harus sabar bukankah itu yang terus-menerus Darmawan ingatkan padanya ketika dia hendak menikahi Diandra, tentu Gavin ingat betul itu.
Diandra melepaskan pelupakannya pada guling bangkit dan duduk dengan wajah yang masih sangat tidak bersahabat, Gavin pun menghela nafas panjang ikut duduk di depan sang istri yang nampaknya sangat BT itu.
"Mau pulang Mas! pengen pulang aja!" rengek Diandra dengan mata berkaca-kaca.
Gavin tersenyum getir, membuka dua tangan lebar-lempar langsung dibaca oleh Diandra dengan menjatuhkan diri dalam pelukannya. Sabar! kuncinya hanya itu kan?
"Ini rumah kamu juga! kamu udah pulang, ini mau pulang ke mana lagi sih?" dibiarkannya Diandra meluapkan semua emosi dalam pelukannya, siapa tahu mood nya jadi bisa lebih baik dan Gavin bisa segera... Ah sabar Vin! kalau tidak sesuai ekspektasi, bisa sakit lagi kepalamu.
Diandra menggeleng.
"Pulang ke rumah Mas aja, ogah di sini," ucap Diandra.
Nah!
Bakalan pusing nanti ketika dia berencana mudik kalau begini, baru tahu dia kalau Diandra seperti ini kalau sudah tidak suka dengan seseorang, untung padanya tidak sampai kebablasan, bisalah dia Gavin bujuk, kalau tidak, habis Gavin harus ikhlas dan rela menceraikan Diandra seperti perjanjian awal mereka.
"Kenapa gitu sih? Ibu sama Bapak nanti sedih loh kalau dengar kamu ngomong kayak gitu, dikiranya kamu nggak senang tinggal di rumah mereka sayang," desis Gavin dengan begitu lembut dan sabar.
Dia harus jadi penengah bagaimana caranya agar dua keluarga bisa akur dan rukun salah satu wejangan yang Darmawan berikan padanya panjang lebar di atas puncak Lawu, tentu masih sangat Gavin ingat! akan selalu dia ingat.
__ADS_1
"Bukan nggak suka tinggal di sini Mas," Diandra mengoreksi.
"Aku nggak suka ada dia! kenapa sih dia nggak dikirim bapaknya ke mana gitu yang jauh dari sini, dikirim ke Suriah misal suruh mulungin misil sisa perang," gerutu Diandra asal yang belum mau beranjak dari dada sang suami.
Kenapa dada lelaki menyebalkan yang dulu rasanya ingin Diandra cekik itu ternyata rasanya sebegini nyaman sih? hangat dan benar-benar mendamaikan jiwa.
"Hus!" tawa Gavin sontak pecah.
"Nggak boleh gitu ah!" ucap Gavin.
"Aaaaa," Diandra merengek manja.
"Aku ben..."
Gavin tidak membiarkan istrinya bicara lebih banyak tentang rasa cemburunya, rasa tidak suka yang dia miliki pada gadis yang dulu hendak dijodohkan dengan dirinya, Gavin membungkam bibir itu, masih beraroma cherry karena sebelum keluar menemui rekan-rekan semasa SMP tadi, Gavin lihat sang istri memoleskan sesuatu dari jar plastik kecil berbentuk bulat dengan isi warna merah, lip balm atau apa namanya, Gavin tidak tahu.
Setelah sepersekian detik, Gavin dengan perlahan-lahan melepaskan pangutan bibir mereka, menatap ke dalam mata itu dengan sorot begitu lembut.
"Aku mau kamu, Dian. Aku pengen miliki kamu seutuhnya, cuma buat aku, boleh?" Gavin berbisik lirih lantas kembali mengecup bibir itu sekilas.
Nampak Diandra balas menatap, bibirnya sedikit bengkak memerah, sangat menggoda dan membuat Gavin makin gila, dia benar-benar sudah tidak sanggup lagi setelah dua kali gagal, tetapi istrinya masih membisu membuat Gavin tidak berani mengambil langkah untuk memulai lebih dulu.
Gavin hendak kembali memohon, ketika kemudian secara tiba-tiba Diandra mengalungkan kedua tangan di leher dan menyerangnya lebih dulu, Gavin terkejut namun begitu bahagia dengan serangan yang dia dapatkan, dua tangannya kini merengkuh dan memeluk pinggang sang istri, mempertahankan posisi tubuh Diandra yang menempel padanya dengan begitu manja.
"Apakah dengan aku menyerahkan diri dan menjadikan kamu satu-satunya, maka kamu akan melakukan hal yang sama?" Diandra melepaskan bibir mereka, dua tangannya masih melingkar di leher Gavin.
"Di depan Papamu, di ribuan meter di atas permukaan laut, aku sudah lebih dulu berjanji bahwa kau hanya akan menjadi satu-satunya yang aku miliki dan sekarang kau masih meragukan aku?" tentu Gavin tidak terima! dia bukan lelaki kemaruk kok, kalau mau sudah sejak dulu Gavin menikah atau kalau mau macam-macam pun mudah, mahasiswinya banyak yang tertarik padanya.
Senyum itu akhirnya merekah kembali di wajah Diandra, membuat hati Gavin lega luar biasa, kesabarannya membuahkan hasil kan?
__ADS_1
"Kalau ada yang gangguin lagi gimana?" tanya Diandra.
Gavin tersenyum bukannya menjawab dia malah mendorong dan menjatuhkan tubuh yang bergelayut manja di lehernya, mengunci tubuh mungil Diandra yang terlihat begitu kecil efek tubuhnya yang tinggi menjulang.
"Pura-pura tidur? pura-pura budek? pura-pura tidak di kamar? semua bisa kita lakukan," jemari Gavin menyingkirkan anak rambut Diandra yang berantakan, membuat wajah itu bersih tanpa gangguan apapun.
"Intinya kali ini aku tidak ingin ada yang menginterupsi, sayang," Gavin kembali berbisik, hembusan nafasnya menyapu leher dan tengkuk Diandra membuat tubuhnya meremang seketika.
Diandra tidak menjawab, di tatapnya wajah tampan yang tepat berada di depan wajahnya, kenapa dulu Diandra bisa begitu membencinya? dan sekarang... Diandra bahkan pasrah di bawah kuncian tubuh lelaki itu, menyerahkan diri sepenuhnya setelah banyak sekali drama yang mereka lalui untuk sampai pada malam ini.
"Dian, aku tanya sekali lagi," ucap Gavin dengan nada serius.
"Perjanjian kita batalkan? kamu nggak akan ninggalin aku bukan?" tanya Gavin.
"Ya semuanya batal," jawab Diandra dengan sama seriusnya.
"Boleh aku lakukan itu? Dian kamu kasih izin kan?" tanya Gavin.
Kini tawa Diandra pecah, dia langsung mengangguk cepat begitu tawanya berhenti, membuat Gavin lantas kembali meraih bibir itu dengan dua tangannya yang mulai bekerja melepas satu persatu kain yang menjadi penghalang mereka.
Diandra melenguh panjang ketika jemari itu menyentuh titik-titik sensitif yang membuat tubuh Diandra terasa seperti terbakar sempurna, ketakutannya mendadak hilang, dia menginginkan sesuatu yang lebih, sesuatu yang entah mengapa begitu dia inginkan malam ini.
Diandra membiarkan sang suami melakukan apapun yang dia mau, termasuk ketika jemari Gavin menyentuh dan membelai lembut sesuatu milik Diandra dari bawah sana, sesuatu yang sudah lebih dulu basah efek sentuhan-sentuhan yang Gavin lancarkan, Gavin menyentuhnya dengan begitu lembut, sangat lembut hingga Diandra bisa merasakan dia semakin basah, cukup lama serangan itu Diandra dapatkan, hingga kemudian...
Diandra hampir berteriak ketika sensasi itu menyergapnya kalau saja bibir Gavin tidak membungkam bibirnya, tubuh Diandra mengejang hebat, dia merasakan inti tubuhnya berkedut, merasakan seperti ada yang meledak dari dalam dirinya dan sesuatu meleleh dari sana, hanya karena sentuhan jemari Gavin, Diandra bisa segila ini? lantas bagaimana kalau...
Diandra memekik ketika Gavin melepaskan pangutan bibir mereka dengan kasar, belum hilang rasa terkejutnya, Diandra kembali dikagetkan dengan sesuatu yang kembali merangsak masuk di bawah sana, sesuatu yang membuat mata Diandra terbelalak, ketika perlahan benda itu masuk lebih dalam...
"Mas sakit...."
__ADS_1