
"Sini biar saya bawa koper kamu, Dian," ucap Gavin.
Diandra tersenyum dan mengangguk membiarkan Gavin membawa kopernya, sementara dia mengikut di belakang lelaki itu, ini sudah waktunya mereka check out dari kamar hotel, mereka harus pulang sejenak ke rumah Darmawan kemudian berangkat bersama-sama ke Madiun kampung halaman Gavin akan ada acara ngunduh mantu di sana.
Diandra tersenyum menatap Gavin dari tempatnya melangkah momen di mana dia jatuh dalam pelukan Gavin tadi belum mau pergi dari ingatan Diandra, bagaimana tangan itu begitu erat mendekap tubuhnya, mengelus kepalanya dengan lembut rasanya sama seperti ketika Darmawan memeluk dan menenangkan dirinya saat Diandra sedih.
Kok bisa?
Entah bagaimana teorinya, Diandra sendiri juga tidak tahu.
"Kiki sudah pulang, Dian?" tanya Gavin ketika berdiri di depan pintu lift.
Tentu! Gavin tau Kiki yang menginap di sini sejak awal pembahasan pesta pernikahan, Diandra sudah mengusulkan satu kamar khusus untuk Kiki di hotel ini juga, meskipun kelas kamarnya jauh lebih ekonomis.
"Sudah Dok, tadi pagi chat bilang kalau dia mau check out," jawab Diandra.
Mereka melangkah masuk ke dalam lift, berdiri dengan jarak yang dekat ketika seorang tamu hotel lain masuk membawa koper yang cukup besar mendesak tubuh Diandra hingga dia hampir terhuyung jatuh kalau saja Gavin tidak buru-buru menangkap tubuh Diandra.
Kembali lengan itu menyentuhnya, menjalarkan sensasi aneh itu hingga ke seluruh tubuh, apalagi perpaduan aroma lavender, jeruk dan lemon memanjakan indra penciuman Diandra, Diandra belum sempat membongkar isi koper Gavin jadi dia belum tahu parfum apa yang sebenarnya selalu suaminya kenakan ini.
"Maaf Kak," desis lelaki itu sambil menundukkan kepala.
"Nggak apa-apa Mas, santai saja!" Gavin yang menjawab sambil membantu Diandra berdiri, hal yang kemudian Diandra sadari adalah Gavin mengamit tangannya dan menggenggamnya dengan lembut.
Diandra tertegun, kenapa rasanya genggaman tangan itu seperti menyalurkan sebuah getaran aneh hingga ke seluruh tubuh, Diandra melirik sekilas Gavin nampak begitu tenang berdiri bahkan bisa Diandra rasakan tangan Gavin *******-***** tangan Diandra dengan begitu lembut.
Kenapa Diandra tidak protes? kenapa Diandra diam saja? tidak seperti biasanya langsung ngegas setiap dia berhadapan dengan sosok Gavin.
Diandra berusaha menetralkan denyut jantungnya, berusaha mengerti perasaan aneh apa yang kini muncul menyiksanya, tidak mungkin kan kalau dia...
"Ah nggak mungkin..."
#############
"Entar di sana sih Tati itu juga datang?" tanya Diandra.
__ADS_1
Diandra sudah duduk di jok tepat di sisi Gavin, koper mereka sudah masuk dalam bagasi, mereka tengah menuju rumah Diandra, nanti malam mereka sudah harus berangkat.
Harusnya sih ngunduh mantu dilaksanakan H+7 selepas acara di pihak perempuan digelar, mengingat waktu libur Gavin tidak panjang dan Diandra masih harus ada beberapa ujian sebelum akhirnya koas, maka sesuai kesepakatan bersama acara dilangsungkan tanpa menunggu H+7.
Gavin tersenyum, kenapa rasanya dia suka mendengar pertanyaan itu, ada sebuah nada lain yang Gavin dengar di sana, nada yang bisa Gavin simpulkan sebagai rasa tidak suka.
"Ada dong, bapak dia nanti kasih sambutan juga di acara, kan kadus," jelas Gavin sambil pura-pura serius dengan kemudinya, padahal dalam hati Gavin tengah tumbuh kuncup-kuncup bunga kebahagiaan, kenapa sejak kenal Diandra, Gavin jadi sadar bahwa bahagia itu sebenarnya, begitu sederhana seperti saat ini, Gavin bisa begitu bahagia hanya dengan pertanyaan seperti tadi.
"Mau lihat coba secantik apa!" gumam Diandra sambil memainkan ponsel di tangan.
Gavin melirik sekilas nampak wajah itu cemberut membuat senyum simpul merekah di wajah Gavin.
"Jangan kaget yah, dia agak lebay kalau ketemu aku, over gitu lah," ucap Gavin.
Seketika Diandra mengangkat wajah menoleh dan menatap Gavin dengan seksama, wajahnya makin masam membuat kuncup-kuncup bunga itu mulai bermekaran.
"Nggak sampai cipika-cipiki kan?" tanya Diandra dengan nada ketus.
Sebenarnya tawa Gavin hampir saja meledak, hanya saja sekuat tenaga Gavin tahan, dia tahu Diandra bisa mengamuk kalau sampai dirinya tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaannya tadi.
"Memangnya kalau sampai cipika-cipiki kenapa?" tanya Gavin.
"Ya nggak tahu malu aja, udah gede main sosor cowok seenaknya dan mana yang dicium suami orang," ucap Diandra.
Nah!
Gavin kembali tersenyum, bolehkah dia bahagia dengan kalimat yang baru saja dia dengar itu?
"Kalau suami orang itu dicuekin sama istrinya juga nggak boleh ya?" Gavin sengaja menyindir Diandra, ingin tahu apa responnya Diandra atas pertanyaannya barusan.
"Kenapa nggak nikahin dia aja itu suami orang kalau merasa dicuekin sama istrinya, kenapa malah nikahin istrinya," ucap Diandra judes dan dingin, nampak wajahnya memerah membuat Gavin mengangguk sambil mengulum senyum.
"Ya karena suaminya itu cinta sama si istri, jadi nggak peduli dicuekin, intinya dia mau nikah sama dia," jawab Gavin sedikit menyerempet.
"Ya udah kalau gitu kenapa masih berharap disosor cewek lain? emang dasarnya aja kalau kayak gitu namanya," suara Diandra sedikit tinggi, suara yang biasanya membuat Gavin pusing kepala, kini malah terdengar begitu indah di telinga Gavin.
__ADS_1
"Simple sih, saking cueknya si istri sampai nggak mau dicium ataupun cium suaminya, nggak salah dong?" ucap Gavin.
Terlihat wajah itu nampak terkejut menatap sekilas ke arah Gavin lalu memalingkan wajah tanpa menjawab hingga Gavin ketar-ketir, apakah istrinya itu ngambek dia sindir barusan atau bagaimana?
Gavin tidak berani lagi berkata-kata, fokus pada kemudinya sambil sesekali melirik Diandra, apakah Diandra paham dengan semua maksud kalimatnya tadi? atau dia hanya fokus pada sindiran yang Gavin layangkan kepadanya?
"Ya Allah kenapa ribet amat sih urusan sama wanita?"
###########
Diandra langsung turun begitu mobil sampai di depan rumahnya, tidak lagi bersuara atau bertanya apapun meninggalkan Gavin yang nampak terkejut dengan sikapnya barusan.
Sebodoh amat! Gavin ini benar-benar menyebalkan sekali! jadi maksudnya tadi dia bakal diam saja membiarkan wanita lain atau si Tati itu menciumnya hanya karena Diandra tidak mau melakukan itu pada Gavin? kenapa murahan sekali kesannya!
"Loh suamimu mana, Dian?" tanya Darmawan yang nampak menyeret koper keluar dari kamar.
"Noh di depan," jawab Diandra langsung naik ke kamarnya tanpa banyak bicara lagi.
Darmawan tertegun di tempatnya berdiri, kenapa dengan anak gadisnya itu, masa baru sehari nikah sudah ribut sama suaminya sih?
Darmawan meletakkan kopernya segera melangkah ke depan, ketika kemudian dia menjumpai Gavin yang tengah membawa dua koper masing-masing di tangan.
"Gavin, Dian kok jelek gitu mukanya, kalian baik-baik aja kan?" tanya Darmawan.
Gavin pun tersenyum.
"Ngambek dikit, Gavin godain tadi," jawab Gavin.
Darmawan tersenyum masam sambil geleng-geleng kepala, dia menepuk bahu Gavin dengan lembut.
"Diandra emang kayak gitu, kamu yang sabar yah," ucap Darmawan.
Gavin kembali tersenyum.
"Kan Gavin sudah bilang Pa, Gavin serius dan mantap mau nikahin Diandra, jadi apapun itu pasti bakalan Gavin terima," ucap Gavin.
__ADS_1
Darmawan tersenyum kembali menepuk pundak Gavin lalu meraih satu dari dua koper yang ada di tangan Gavin.
"Sini biar Papa bantuin," ucap Darmawan.