
"Ha..."
"Vin, kamu ini di mana sudah sampai rumah belum? nggak tahu apa Ibu dari tadi cemas nunggu kabar dari kamu, kepikiran kalian kalau kenapa-kenapa di jalan bagaimana? kalau ada apa-apa gimana? apa susahnya sih Vin kasih..."
Gavin kontan menjauhkan telepon dari telinga, menoleh ke arah sang istri sambil berbisik sangat lirih menjawab pertanyaan Diandra perihal siapa yang meneleponnya ini.
Diandra lantas terkekeh menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang masih begitu polos, sementara Gavin kini kembali pusing diomeli sang Ibu hanya karena tidak memberinya kabar kalau mereka sudah sampai di rumah.
Bukan salah Gavin kalau begitu sampai rumah tadi dia langsung tancap gas mengerjai sang istri! siapa suruh di rumah sejak kemarin mereka diganggu terus? hal yang lantas membuat Gavin lupa memberi kabar pada Mira kalau mereka sudah sampai rumah.
Gavin menghela nafas panjang, kembali mendekatkan ponsel itu ke telinga, tangannya memijit pelipis sambil bersandar di head bed, mana yang bilang jadi anak bungsu itu enak? ibunya saja bahkan sampai sudah Gavin setua ini masih juga ribet ini itu dan menganggapnya anak kecil.
"Kamu dengerin ibu gak sih, Vin?" suara itu melengking, kenapa sih Gavin harus jadi anak paling bontot?
"Dengerin Bu, aku dengar kok," sebuah gaya santai dan sabar khas Gavin yang baru saja Diandra ketahui setelah menjadi istrinya.
"Ibu marah-marah terus sih, nanti kalau aku nyela dikatain nggak sopan? ya udah dong aku nunggu dulu Ibu selesai ngomong," ucap Gavin lagi.
Diandra tersenyum, ternyata dibalik sikap rese bin menyebalkan yang dulu selalu Diandra lihat pada sosok ini, dia punya sisi lemah lembut dan begitu manis contohnya seperti ini ketika bicara dengan Ibunya dan dengan Diandra sendiri di beberapa momen tertentu.
"Ngeles aja jawaban kamu, Vin. kalian sudah sampaikan? baik-baik saja kan?" kembali suara itu mencerca.
"Kenapa sih nggak kasih kabar kayak biasanya, nggak tahu apa Ibu ini dari tadi kepikiran terus," ucap Mira lagi.
Kembali Gavin menghela nafas panjang.
"Ibu jadi pengen nambah cucu nggak sih?" Gavin malas diomelin terus menerus, malas kalau harus mencari alasan untuk membohongi ibunya jadi apa boleh buat.
Mira bungkam, membuat Gavin menghela nafas lega, setidaknya presentasi omelan yang akan dia terima akan berkurang.
"Jadi kalian tadi..."
"Ya maaf Bu, salah sendiri dari kemarin ada aja gangguannya, mana sempetin sih kita jadinya?" sebuah pengakuan jujur yang lantas membuat Diandra menepuk keras-keras lengan sang suami dengan wajah terkejut dan memerah.
"Loh siapa emangnya yang gangguin, Vin?" suara itu nampak tidak terima membuat Gavin sadar bahwa ibunya nanti tidak akan tinggal diam kalau sampai ada seseorang yang mengganggu Gavin, tapi untuk hal seperti ini apakah sang Ibu juga akan ribet mempermasalahkannya? memalukan!
Tahu begini, Gavin lebih memilih bohong tadi bilang sakit perut kek, keran di rumah bocor jadi harus dia ganti dulu, atau apa namun sayang sekali semua sudah terlanjur.
__ADS_1
"Ya kakak-kakak aku Bu, makanya aku buru-buru pengen pulang, nggak betah Bu," sekalian saja kepalang tanggung kan?
"Kamu kalau gitu kenapa nggak lapor ke ibu sih, Vin?" ucap Mira.
Gavin menepuk jidatnya dengan gemas, kalau biasanya ketika diganggu sang kakak Gavin memang akan lapor dan mengadu ke ibu atau bapaknya, tapi sekarang dia bukan anak umur lima tahun yang mainannya disembunyikan oleh kakak-kakaknya, masalahnya sudah lain, masa iya Gavin mau laporan ke ibunya kalau dia batal belah duren karena diganggu sang kakak? lelucon macam apa ini.
"Lah emang kalau lapor ke Ibu kenapa? ibu mau jagain depan pintu kamar aku begitu?" sumpah Gavin baru sadar kalau keluarganya se absurd ini.
Diandra menyimak dengan wajah memerah, beberapa kali tawanya hampir pecah namun bisa Diandra tahan dengan menutupkan bantal ke wajahnya.
"Ya kalau itu memang membantu bakalan Ibu tungguin di depan pintu kamar kamu, nggak masalah asal sukses acaramu bikinin Ibu cucu," ucap Mira.
"Ya salam!"
Gavin kembali menepuk jidatnya, mau ditungguin di depan pintu? kami bukan balita yang lagi belajar toilet training jadi perlu ditungguin di depan pintu, Gavin sedang bertransformasi menjadi lelaki sejati dan ibunya hendak menunggu proses transformasinya di depan pintu kamar? subhanallah!
Terlebih teriakan-teriakan Diandra yang menggema di kamar tadi... bisa remuk Gavin nanti kalau di kira main kasar sama istrinya, padahal memang suara Diandra terkenal khas melengking, bisa dibayangkan kalau tiap-tiap suara erotis nan sensual yang keluar dari keduanya tadi didengar oleh Mira? mau ditaruh di mana muka Gavin?
"Ah Ibu, ada-ada aja!" Gavin memutuskan mengakhiri pembahasan absurd itu sebelum nanti malah sampai mana-mana pertanyaan ibunya.
"Alhamdulillah kalau gitu, Vin," sore itu mulai melembut.
"Tanpa kamu minta ibu selalu doakan kalian, Vin. Rukun bahagia selalu yah nak, kau salah kamu milihin mantu buat Ibu," ucap Mira.
Senyum Gavin merekah, dia mengangguk pelan. Walaupun Mira tidak bisa melihat anggukan itu, entah kenapa Gavin refleks mengangguk.
"Ya udah aku tutup dulu ya, Bu," ucap Gavin.
"Tunggu, Vin," kembali suara itu memekik, membuat Gavin kembali mendengus pelan.
"Iya kenapa, Bu?" tanya Gavin.
"Request cucu kembar yah, Vin. Bisa program kan, katanya? ibu belum punya cucu kembar nih tolong ya program gitu biar Ibu bisa kesampaian punya cucu kembar," ucap Mira.
###########
"Ih, kenapa pakai bilang kayak tadi sih Mas? malu tahu sama ibu," Diandra memprotes, apa-apaan ini suaminya bilang berterus terang pada ibunya tentang hal macam ini? super sekali!
__ADS_1
"Ngomong sama ibu itu susah sayang, apalagi aku nggak pernah bisa menang, jadi ya jujur aja," Gavin dengan santai meletakkan ponsel di atas nakas, masuk ke dalam selimut dan merengkuh tubuh mungil yang masih polos itu.
Rasanya sungguh begitu nyaman, kulit mereka bergesekan menimbulkan sensasi membakar yang menjalar ke seluruh tubuh.
"Masih sakit?" tanya Gavin sambil membenamkan wajah Diandra di dadanya.
"Dikit," Diandra melingkarkan tangannya di dada Gavin, menikmati hangat dekap pelukan itu.
"Tapi enak juga kan?" Gavin mengelus kepala sang istri, sebuah pertanyaan yang lantas membuat wajah Diandra kembali memerah.
"Ibu request kembar sayang," ucap Gavin.
Diandra terkejut, dia lantas mengangkat wajah dan menatap sang suami dengan seksama, kembar? mertuanya sudah request pengen punya cucu kembar? tawa Gavin pecah melihat wajah terkejut sang istri dia mencubit gemas dagunya, lalu berbisik lirih tepat di telinga Diandra.
"Kamu tahu apa artinya?" bisiknya begitu sensual.
Diandra menggeleng, hatinya menyatakan bahwa Gavin hanya ingin modus saja dan agaknya benar.
"Artinya kita harus gas main lagi, Dian," ucap Gavin.
Benar, bukan? Diandra lantas melotot, menimpuk lengan Gavin keras-keras sambil memasang wajah garang.
"Ini perihnya aja belum hilang Mas," protes Diandra kesal, dasar laki-laki!
"Justru dipakai lagi makanya biar hilang," ucap Gavin.
Nah! sikap menyebalkan Gavin rupanya kambuh.
"Ngawur, teori siapa itu?" sela Diandra galak, tangan Gavin sudah ke mana-mana masalahnya, sudah cukup mengancam Diandra pergerakan tangan itu.
"Teorinya Dokter Gavin Narendra Putra spesialis bedah," jawab Gavin tidak peduli, dia segera kembali menindih tubuh itu, memaksa tubuh mungil itu kembali berada di bawah kungkungan tubuhnya.
"Mas ta... tapi,"
Diandra tidak lagi bisa berkata-kata mulutnya sudah di bungkam, dua tangannya di kunci kembali ke atas kepala dan sedetik kemudian Diandra kembali merasakan benda itu merangsak masuk ke dalam tubuh.
"Mas Gavin,"
__ADS_1