
Suasana resto itu cukup sepi memang restoran yang Diandra datangi sekarang bersama dua lelaki ini termasuk dalam restoran eksklusif dan mewah. Tidak heran suasananya tidak begitu ramai,, begitu privasi dan itu makin membuat Diandra tidak karu-karuan.
Meja itu begitu besar cukup untuk sepuluh orang tetapi hanya terisi tiga, sebuah setting tempat yang cukup biasa untuk restoran ini karena dia memang didesain untuk acara pernikahan, restoran yang mencakup convention privat bagi beberapa orang yang ingin pestanya begitu privasi dan intim.
"Nak Gavin, serius mau ngajak Diandra nikah?" kata Darmawan yang hampir saja membuat Diandra tersedak nasi dalam mulutnya.
Gavin yang tengah mengaduk nasi di atas piring sontak menengadahkan wajah menatap Darmawan dengan tatapan serius.
"Tentu Prof, saya sangat serius!" jawabnya mantap yang mampu membuat Diandra tertegun di tempatnya duduk.
"Diandra itu manja setengah mati loh! maklum anak bungsu mana cewek sendiri lagi, kesayangan orang satu rumah,, nggak masalah?" tanya Darmawan yang membuat Diandra kembali membelalak,,, apa sih Papanya ini?
"Sama sekali tidak masalah Prof,, itu bukan alasan untuk saya tidak jadi menikahi Diandra," jawab Gavin.
Sebuah jawaban yang entah mengapa kembali membuat Diandra tertegun setengah mati, kenapa Diandra merasa Gavin benar-benar serius mengatakan hal ini padahal pernikahan mereka hanya untuk kepentingan masing-masing, bukan?
"Dia nggak bisa masak, masak mie instan aja bikin gosong panci Mamanya, nggak masalah?" tanya Darmawan.
"Papa!" kali ini Diandra sudah tidak sanggup lagi berdiam diri,, Papanya sudah keterlaluan ini namanya, semua rahasia perusahaan Diandra dibongkar tanpa tedeng aling-aling di depan lelaki menyebalkan macam Gavin.
Gavin nampak terkekeh, tertawa kecil sambil melirik ke arah Diandra yang wajahnya merah padam dengan bibir mengerucut, hanya sebentar dia tertawa karena kemudian dia langsung kembali serius menatap Darmawan.
"Saya cari istri Prof, partner hidup bukan cari asisten rumah tangga atau chef, jadi tidak masalah kalau Diandra nggak bisa masak, saya tidak mempermasalahkan hal itu," jawab Gavin.
Diandra termangu di tempatnya duduk, hati dan perasaannya seperti terombang-ambing tidak jelas, terkadang dibuat gemas dan kesal oleh Papanya, setelah itu dibuat Gavin terkesima oleh jawaban-jawaban yang Gavin berikan untuk sang Papa, Diandra menatap Gavin dengan seksama, lelaki itu nampak serius, wajahnya tenang dengan sorot mata hangat, kenapa kalau seperti ini,, Gavin seperti orang lain bukan seperti Gavin yang biasanya Diandra kenal.
"Jujur! saya nggak pernah menyangka kalau Diandra akan secepat ini menikah, Nak Gavin," Darmawan meletakkan sendoknya menatap Gavin dengan seksama.
Nampak Gavin juga meletakkan sendok membalas tatapan mata itu dengan sangat tenang.
__ADS_1
Diandra menelan salivanya dengan susah payah, dia segera meraih gelasnya meneguk jus yang tadi dia pesan untuk menemaninya makan, kenapa jadi sangat serius macam ini sih?
"Saya paham Prof, tapi saya tidak main-main dengan niat saya pada putri Profesor," ucap Gavin.
Mata Diandra memanas, kenapa rasanya dia begitu terharu oleh kata-kata itu, rasanya dilamar itu seperti inikah? dia bahkan sampai sama sekali tidak bisa mengenali Gavin saat ini.
"Mapan dan punya pekerjaan tetap bukan satu-satunya kriteria yang saya minta Vin, sebagai Ayah saya punya banyak harapan pada lelaki yang kelak menikahi anak saya, saya tidak salah kan?" ucap Darmawan.
Gavin tersenyum begitu manis dan tenang sangat memukau di mata Diandra, membuat Diandra menahan kuat-kuat segala hal yang berkecamuk dalam hati dan jiwanya saat ini.
"Tentu saya paham bahwa mungkin kelak jika saya punya anak perempuan, saya akan melakukan hal yang sama dengan apa yang Profesor lakukan saat ini," ucap Gavin.
Nampak Darmawan mengangguk pelan, menghirup udara banyak-banyak lalu menatap Diandra dengan seksama, hanya sebentar pandangan Darmawan kembali beralih pada Gavin yang masih menanti dengan tenang di tempatnya duduk.
"Saya belum bisa jawab permohonan kamu sekarang Vin," ujar Darmawan kemudian yang entah mengapa menyisakan sedikit perasaan kecewa di hati Diandra.
"Saya sudah ajukan izin dua hari terhitung besok, sudah pesan tiket untuk pergi ke suatu tempat, nanti malam jam tujuh pesawat take off, kamu ikut saya ya,, Vin?" ucap Darmawan.
Diandra tersentak,, matanya terbelalak mendengar apa yang Papanya katakan, dia sudah siap tiket dan jam tujuh nanti mau berangkat bersama Gavin? ke mana?
"Loh Papa mau ke mana?" Diandra benar-benar tidak mengerti dengan apa yang hendak Papanya itu lakukan.
"Ngajak Gavin ke suatu tempat,, tenang dia bakalan aman sama Papa, Dian," jawab Darmawan sambil tersenyum.
Bukan! bukan itu yang Diandra takutkan, terserahlah mau diapakan si Gavin ini, Diandra tidak peduli, dia hanya penasaran ke mana mereka akan pergi? apa yang akan mereka lakukan?
"Dian, ikut Pa," daripada dia penasaran setengah mati dan harap-harap cemas, lebih baik dia ikut, bukan?
"Nggak bisa hanya dua tiket yang Papa pesan dan kalau kamu ikut yang ada waktunya bakalan molor lama, Dian. Sudah di rumah saja kangen-kangenan sama Mamamu," tolak Darmawan tegas.
__ADS_1
Diandra menatap nanar sang Papa, ke mana sebenarnya? apa yang Papanya rencanakan sebenarnya? dia masih akan protes ketika Gavin kembali buka suara.
"Siap Prof! saya ikut Profesor ke manapun Profesor pergi nanti malam," ucap Gavin.
"Bagus! kalau begitu sekarang lanjut makan,, nanti Gavin bisa istirahat di rumah! saya sudah suruh Mbok Lastri siapkan kamar," gumam Darmawan kembali meraih sendoknya.
"Tapi ingat nggak boleh macam-macam yah berdua di rumah, Papa mengawasi dari rumah sakit, belum halal belum boleh macam-macam," ucap Darmawan.
################
Gavin membawa mobil itu dengan tenang,, jujur hatinya bertanya-tanya dengan apa yang Darmawan katakan kepadanya, barusan dia hendak mengajak dirinya kemana? naik pesawat dan bahkan ahli patologi itu sudah minta izin dua hari untuk pergi bersamanya?
Agaknya akan ada hal penting yang nanti akan lelaki itu bicarakan berdua dengan dirinya,, tentu hal yang penting kalau Gavin sendiri datang menemuinya hendak meminta izin menikahi anak kesayangan Darmawan.
Gavin melirik Diandra yang sejak tadi wajahnya masam, terlebih sejak Darmawan mengatakan hendak mengajaknya pergi nanti malam dan sama sekali tidak membuka clue atau menjelaskan ke mana sebenarnya dia hendak membawa Gavin pergi.
"Dian ngambek sama Papa?" akhirnya Darmawan buka suara setelah sekian lama terdiam.
"Biarin! Dian kesel sama Papa," kembali bibir itu mengerucut membuat wajah itu begitu menggemaskan.
Tawa Darmawan pecah, tertawa renyah sambil geleng-geleng kepala, Gavin bisa melihat dengan jelas dari kaca mobil.
"Nanti Dian bakalan tahu kok, udah tunggu aja di rumah dengan sabar oke," jawab Darmawan yang sama sekali tidak membuka suara perihal apa yang hendak Darmawan lakukan bersama Gavin.
"Ya tapi kan Dian penasarannya sekarang,, Pa," kembali mendesak sang Papa untuk buka suara,, berharap sang Papa mau memberitahukan dirinya.
"Tunggu saja!!! yang jelas Papa lakukan ini buat kamu Dian," jawab santai Darmawan tanpa mau menjawab.
"Kelak kamu akan mengerti, terlebih kalau kemudian kalian punya anak perempuan," ucap Darmawan.
__ADS_1