
Kiki tergagap, wajahnya memanas dan langsung dia tundukkan sambil memegangi plastik berisi belanjaannya.
"Terima kasih banyak Mas," desis Kiki lirih.
"Sama-sama," jawabnya sambil melangkah menuju pintu keluar minimarket.
Kiki mengekor, mensejajarkan langkahnya di sisi lelaki itu, dilihat dari pakaian agaknya tempat tinggal lelaki menyebalkan ini tidak jauh dari minimarket, dia terlihat begitu santai dengan outfitnya. Ah para lelaki memang selalu simpel begini kan?
"Masih sakit?" tanya lelaki itu.
Kiki kembali tersentak, dia menatap lelaki itu dengan seksama, dia masih mengkhawatirkan Kiki atau hanya basa-basi saja?
"Lumayan, nyerinya masih," jawab Kiki apa adanya.
"Obatnya jangan lupa diminum, kamu pakai jaket begitu nggak sakit di lukanya?" ucap lelaki itu lagi.
Dokter ini cerewet sekali, tapi bukankah itu memang naluri yang harus dimiliki seorang Dokter?
"Dikit Mas, habis mau bagaimana lagi panas kalau nggak pakai jaket!" jawab Kiki yang sekali lagi berusaha apa adanya.
Nampak dia menghela nafas panjang membuat Kiki rasanya ingin pergi dari hadapan lelaki itu saat ini juga, kenapa dia nggak pamit-pamit juga sih? Kiki masih ingin nongkrong sambil makan es krim di sini.
"Rumahmu daerah sini?" tanya lelaki itu.
"Iya kos di sini Mas," Kiki kembali memperhatikan lelaki itu, ah Kiki lupa alamat yang tadi dia tuliskan di data pasien adalah alamat sesuai KTP.
"Asli Tangerang ya?" tanya lelaki itu lagi.
Kembali Kiki mengangguk, ada apa ini kenapa dia jadi macam agen FBI yang tengah mengorek informasi?
"Okelah kalau gitu, aku mau balik hati-hati kamu di jalan!" ucap lelaki itu lagi.
Yes!
Rasanya Kiki ingin melompat dan bersorak dengan kepergian lelaki itu, namun yang bisa dia lakukan adalah mengangkat wajah dan mengangguk pelan, Kiki masih berdiri menatap kepergian lelaki itu hingga ketika kemudian mobil itu menghilang dari depan matanya, Kiki segera duduk di kursi dan mulai membuka plastik miliknya.
Benda yang Kiki ambil pertama kali adalah es krim coklat miliknya, dia hendak membuka bungkus es krim ketika kemudian ingat sesuatu.
"Ya Tuhan!" pekik Kiki histeris.
"Kenapa nggak tanya siapa namanya sih?"
##########
Diandra membelokkan mobil masuk ke halaman rumah, mobil suaminya belum ada itu artinya Gavin belum pulang, setelah beres parkir Diandra bergegas melangkah keluar membawa serta donat yang dia beli khusus untuk ibu mertua.
"Nah, Non Dian balik, kebetulan dicariin Ibu, noh!"
__ADS_1
Diandra hendak membuka pintu ketika Mbok muncul dari dalam rumah, tangannya nampak kuning semua sedang masak apa memangnya di rumah? bikin nasi kuning? memangnya mau ada syukuran apa?
"Oh ya? ada apa Mbok?" alis Diandra berkerut, dia tidak hendak diceramahi karena telah pulang kan?
"Minum jamu Non, dibuatin tadi sama ibu, udah di tunggu di dapur,"
Alis Diandra bertaut, jamu? jamu apa lagi? ada urusan apa sampai Diandra harus minum jamu? kalau jamu kunyit asam dengan gula merah tentu Diandra mau, itu minuman herbal dan segar kesukaan Diandra, apalagi kalau diminumnya ketika dingin.
Diandra segera melangkah menuju dapur, nampak Mira tengah sibuk di sana dan gelas berisi cairan kuning orange tersedia di sana, apa lagi ini?
"Assalamualaikum Bu, maaf telat pulang tadi nengokin teman habis kecelakaan," jelas Diandra sambil mendaratkan kotak donat di meja lalu meraih tangan Mira.
"Walaikumsalam, Dian!" Mira menoleh dan tersenyum begitu manis.
"Iya tadi Gavin udah nelpon Ibu kok, Dian sini duduk dulu," ucap Mira lagi.
Diandra menelan saliva dengan susah payah, itu apa sih kenapa dari wujudnya sudah menggambarkan rasa dari minuman itu? kental, pahit getir dan... kalau ini Diandra nggak suka!
"Nih minum!" Mira menyodorkan gelas itu ke hadapan Diandra membuat Diandra tertegun menatap ngeri gelas itu.
"Mi... minum Bu?" Diandra menatap Ibu mertuanya dengan tatapan ragu membuat Mira menggeleng perlahan.
"Iya minum, ini bagus buat tubuh nggak bakalan bikin keracunan, Dian. Percaya sama Ibu masa iya Ibu mau ngeracunin mantu Ibu sendiri," ucap Mira.
Diandra sontak nyengir, tangannya meraih gelas itu dengan sedikit gemetar, gelas itu sudah hampir mendekati bibir ketika kemudian Diandra kembali menatap Ibu mertuanya dengan tatapan memelas.
"Sedikit kok, ayo cepat minum mumpung baru aja jadi, masih fresh!" ucap Mira.
Kembali Diandra menelan saliva, lebih mendekatkan bibir gelas lalu meneguknya sedikit demi sedikit, Diandra hampir menyemburkan cairan itu ketika Mira sudah sigap memberi kode melalui gelengan kepala.
Dengan mata terpejam Diandra meneguk sedikit demi sedikit cairan itu, rasanya benar-benar menyiksa saraf lidah Diandra.
Diandra segera meletakkan gelas dan membuka kotak donat, mencomot satu donat untuk langsung dia gigit, salah satu upaya mengusir dan menetralkan rasa pahit yang begitu menyiksa lidahnya.
"Bu aku minta donatnya," gumam Diandra dengan mulut penuh donat, dia lupa kalau dia membelikan donat itu untuk Ibu mertuanya.
Mira tertawa, dia hanya mengangguk lalu meraih beberapa telur ayam kampung, Diandra melongo apa lagi ini? jangan bilang kalau... bisa dia lihat Mira memecah kulit telur itu, memisah putih dan kuningnya membuat Diandra merinding sekaligus mual membayangkan kalau dia harus memakan benda itu.
"Bu... i... itu buat apa lagi?" tanya Diandra was-was, dia rasanya ingin segera lari dan bersembunyi di kamar daripada harus...
"Ya buat jamu juga," jawab Mira seraya memecah satu butir telur lagi.
Mata Diandra membelalak, mulutnya terbuka penuh dengan donat, jadi sekarang dia harus makan benda itu yang benar saja?
"Aku harus minum itu, Bu?" tentu Diandra shock.
"Bukan, buat suami kamu lah. Tapi kalau kamu mau, kamu juga boleh," senyum Mira merekah.
__ADS_1
Hati Diandra lega luar biasa, jadi bukan dia yang harus minum itu?
"Ah biar Mas Gavin aja yang mi..."
"Assalamualaikum, Bu? Dian?"
Wajah Diandra sontak berbinar, dia menghabiskan donatnya lalu bangkit dari kursi.
"Jamu udah siapkan Bu? biar aku bawa Mas Gavin nya ke sini," ucap Diandra.
Tanpa menunggu jawaban Mira, Diandra langsung berlari menuju depan mendapati suaminya sudah pulang dan nampak celingak-celinguk mencari keberadaannya.
"Mas sini deh," Diandra segera menarik tangan suaminya, membawanya ke dapur.
"Eh, apaan sih sayang? kamu baru aja pulang yah? gimana tadi si Kiki?" Gavin menurut saja ditarik oleh sang istri.
"Baik kok, sini aku sama Ibu nungguin Mas," ucap Diandra penuh semangat.
Gavin terkekeh.
"Nungguin? emang ada apa?" tanya Gavin penasaran.
"Udah sini dulu!" Diandra terus menarik tangan itu kemudian mendudukkan suaminya di kursi.
Mira tersenyum lalu menyodorkan gelas itu ke hadapan Gavin, sebuah hal yang membuat alis Gavin berkerut.
"Minum Vin," ucap Mira tegas.
Gavin memperhatikan gelas itu dengan seksama, dari aromanya ini pasti... Gavin mengedarkan pandangan dan mendapati cangkang telur ayam kampung ada di meja dengan posisi terbuka, sudah dia tebak.
"Nggak mau Bu, kuning telur mentah kan ini?" tebak Gavin setengah histeris.
"Iya memang kenapa?" tanya Mira santai.
Gavin menghela nafas panjang.
"Bu, kan kuning telur mentah itu..."
"Ah! buktinya Bapak kamu dari muda minum juga nggak kenapa-kenapa," potong Mira cepat.
"Sini bukan mulut!" ucap Mira lagi.
Gavin hendak bangkit dan menyingkir tetapi Diandra malah melingkarkan tangan dan menahannya di kursi.
"Aku pegangin, Bu cepetan!" ucap Diandra.
Mira tersenyum lebar, buru-buru mendekatkan gelas dalam tangannya, sementara Gavin pucat pasi, seumur-umur dia belum pernah makan kuning telur mentah.
__ADS_1
"Bu, aku nggak ma..."