
"Ketika kita hiking, kita bakalan dapat teman baru di sepanjang perjalanan, Vin. Sama dengan berkeluarga, kamu akan dapat keluarga baru dari pihak istri, tugas kalian tentu membuat mereka tetap harus kompak apapun perbedaan dan apapun yang terjadi, kalau naik gunung semua harus kompak demi bisa sampai di puncak kalau orang berumah tangga semua demi hidup damai dan bahagia, penting itu Vin," ucap Darmawan.
Gavin kembali menyimak dengan serius, agaknya wejangan dari Papa Diandra tidak bisa dilewatkan dan diabaikan begitu saja.
"Orang naik gunung itu harus dengan hati yang yakin sama seperti kuat mental tadi, kalau dia sendiri tidak yakin maka sampai kapanpun mereka tidak akan bisa sampai puncak, begitu pula dengan menikah harus dengan hati yang yakin tidak hanya setengah hati," ucap Darmawan kemudian kembali menoleh membuat Gavin pun balas menoleh, dan menatap mata bersorot teduh itu, bisa Gavin merasakan aura positif menguar begitu kuat dari diri Darmawan, sungguh sosok yang begitu luar biasa mengagumkan!
"Saya nggak perlu tanya kan sudah yakin apa belum mau nikah dan pilih Diandra sebagai pasangan? karena semua itu hanya kamu dan hati terdalam kamu yang tahu itu," ucap Darmawan.
Gavin mengangguk, dia mulai merasa tertampar oleh wejangan yang Darmawan berikan kepadanya, awal rencana pernikahan mereka hanyalah demi kepentingan masing-masing bukan? Gavin akan terlepas dari Tati dan kalimat yang meluncur dari mulut Darmawan... Ah entah mengapa kalimat itu makin memperkuat perasaan yang muncul tiba-tiba di hati Gavin tentang Diandra.
"Kenapa saya pilih Lawu, Vin? tau apa alasannya?" tanya Darmawan sambil melemparkan senyum.
Gavin tertegun, dia menjadi menggeleng perlahan.
"Tidak, Prof," ucap Gavin.
"Karena Lawu begitu sakral Vin, sama dengan pernikahan," jelas Darmawan singkat sebuah penjelasan yang kembali menampar Gavin dengan begitu luar biasa.
Lidah Gavin mendadak kelu, jantungnya berdebar dua kali lebih cepat kenapa rasanya sejak tadi dia seperti ditampar oleh tiap perkataan Darmawan perihal pernikahan.
"Pernikahan itu sakral bukan untuk main-main, bukan cuma untuk ganti status semata, pernikahan itu tentang komitmen sehidup semati dan janji di depan orang tua, di depan Tuhan," ucap Darmawan.
Jleb!!!
Sebuah kalimat yang menusuk dalam hati Gavin.
__ADS_1
"Karena di Lawu kita tidak boleh mengeluh, sama seperti berumah tangga nanti, kita pantang mengeluh apapun masalah rumah tangga yang kita hadapi, karena sejak awal kita sudah niat bersungguh-sungguh untuk menjalaninya masuk dalam dunia berumah tangga," ucap Darmawan dan Gavin kembali tertegun, sama sekali dia tidak menyangka bahwa dibalik tujuan Darmawan mengajaknya dadakan hiking tersimpan tujuan dan pesan moral yang begitu dalam tentang pernikahan yang hendak dia sampaikan di sini, di Hargo Dumilah, puncak tertinggi Gunung Lawu di mana sekarang Gavin berada di ketinggian 3265 mdpl, Gavin duduk berdua dengan ayah dari gadis yang hendak dia nikahi, membicarakan banyak hal perihal pernikahan yang sebenarnya, sejak Gavin menginjakkan kaki di tempat ini dia sudah bisa merasakannya, melaluinya.
"Di sini kita tidak boleh berkata sembarangan dalam pernikahan pun, apalagi kita sebagai laki-laki tidak boleh berkata sembarangan satu kalimat saja bisa berakibat fatal, kau tahu apa kalimat itu? kalimat yang jatuh sebagai talak," ucap Darmawan.
Talak? Ah.. tentu Gavin tau apa-apa saja yang masuk dalam kalimat talak, dan dia tentu tahu apa saja yang terjadi jika kalimat-kalimat itu meluncur keluar dari mulutnya, tak terkecuali dalam keadaan emosi sekalipun.
"Ku pulangkan kau ke rumah orang tuamu, aku ceraikan kamu dan masih banyak lagi kalimat yang terdengar sepele tapi di dalam agama kita masuk dalam kalimat talak dan berakibat fatal untuk pernikahan," Darmawan meletakkan kameranya di tanah, melipat kakinya dan memeluk lutut dengan pandangan yang masih tertuju lurus ke depan.
Sementara Gavin dia masih membisu, mencerna semua tamparan-tamparan yang Darmawan layangkan kepadanya, berperang dengan hatinya sendiri perihal niat Gavin yang hendak menikahi Diandra, sudah diberi wejangan macam ini dan Gavin hendak hanya main-main menikahi Diandra hanya agar dia tidak menikahi Tati? kurang ajar sekali Gavin ini!
"Dan satu lagi kenapa memilih Lawu, kau mau tahu apa, Vin?" ucap Darmawan.
"Apa Prof?" Gavin menoleh menatap wajah yang masih sangat serius itu.
"Pernah kamu duga kalau di puncak gunung ada warung makan setinggi ini?" tanya Darmawan.
"Tidak Prof, saya juga baru tahu dan lihat ini, kalau di logikakan sungguh mustahil," ucap Gavin.
Terlihat Darmawan tersenyum simpul, tangannya menepuk pundak Gavin dengan begitu lembut.
"Sama dengan pernikahan Vin, terkadang ada hal-hal tidak terduga muncul dalam perjalanan pernikahan jadi baik suami atau istri harus berusaha menghadapi dan tetap ingat tujuan awal pernikahan itu apa," Darmawan menghela nafas panjang kembali meluruskan kedua kakinya setelah beberapa saat berada di dalam pelukan.
"Sampai di sini paham Vin?" tanya Darmawan.
Gavin pun tersenyum menghirup udara sejuk nan segar itu dalam-dalam.
__ADS_1
"Tentu saya paham, Prof," jawab Gavin.
"Bagus!" Darmawan mengangguk, wajah itu nampak begitu puas mendengar ucapan Gavin.
"Kau tahu bahkan Kakak tertua Diandra pun saya bawa kemari ketika dia minta izin hendak menikahi pacarnya Vin, sebagai laki-laki dia harus tahu betul tujuan dan lika-liku perjalanan pernikahan itu seperti apa, tidak hanya mikir enaknya nikah tapi juga merasakan bagaimana terjalnya perjalanan pernikahan hingga bisa sampai pada apa yang diharapkan," ucap Darmawan
Gavin tersenyum, tidak dia sangka sosok ini begitu luar biasa di balik sikap ramah dan tenang yang Darmawan tunjukkan, dia menyimpan sebuah sisi lain yang pantas untuk Gavin tiru kelak ketika dia sudah menjadi seorang Ayah dari anak-anaknya.
"Ada yang mau kamu tanyakan?" kembali Darmawan buka suara ketika Gavin hanya termenung kagum dengan sosok yang duduk di sisinya.
"Kapan saya bisa datang ke rumah bersama orang tua secara resmi untuk melamar Diandra?" sebuah pertanyaan yang Gavin simpan sejak dia tiba di Jakarta, pertanyaan yang membuat dia rela ikut ke mana saja langkah kaki Darmawan menuntunnya, bahkan sampai ribuan meter di atas permukaan laut sekalipun.
"Sebelum saya jawab, boleh saya tanya?" kembali wajah itu begitu serius, menatap Gavin dengan sorot mata hangat dan ramah.
"Silahkan Prof," Gavin pasrah apapun yang hendak Darmawan tanyakan, akan Gavin jawab sejujur-jujurnya.
"Kapan kamu siap ke rumah?" tanya Darmawan.
Degh!!!!
Gavin tertegun sesaat, namun sedetik kemudian dia tersenyum, kembali dengan mantap menjawab.
"Secepatnya!" jawab Gavin.
Darmawan mengangguk pelan.
__ADS_1
"Kalau begitu saya tunggu kedatangan keluarga di rumah, Vin, saya titip anak gadis saya yah, tolong bahagiakan dia, jaga dia dan sayangi dia seperti saya menyayangi dia, apa kamu sanggup Vin?" ucap Darmawan.