
"Mau ku antar lapor polisi?" Diandra menepuk lembut pundak Kiki yang masih terisak.
Dia baru saja mengalami kejadian yang tidak mengenakkan atau bisa dibilang kejadian buruk yang benar-benar membuat Kiki shock bukan main dan hampir saja jatuh dari motor yang dia kendarai, tiba-tiba ada yang memegang dadanya ketika tengah berkendara di jalan wanita mana yang tidak shock?
"Aku nggak hafal plat nomornya, ciri-ciri lelaki itu bagaimana aku juga tidak ngeh, aku terlempau terkejut dan shock tadi, Dian" Kiki sudah lebih tenang namun dia masih nampak lemas membuat Diandra tidak tega membiarkan Kiki sendirian.
Diandra menghela nafas panjang, bukan salah Kiki kalau begitu shock, Diandra mungkin kalau ada di posisi Kiki juga akan sama shock nya.
"Minum dulu Ki, biar lebih lega," kembali Diandra menyodorkan secangkir teh hangat buatannya.
Kiki mengangguk menerima secangkir teh dan menyesap cairan hangat itu untuk sekedar melegakan sesak yang dia rasakan, matanya masih memanas, berair dan memerah, hari ini seperti mimpi buruk baginya diperlakukan kurang ajar oleh lelaki asing wanita mana yang mau?
"Antar aku pulang mau, Dian? motor aku biar di sini," desis Kiki setelah menghabiskan secangkir teh di tangannya.
Diandra tersenyum, dia kontan mengangguk pelan, tentu itu yang akan Diandra lakukan, dia tidak akan tega membiarkan Kiki pulang sendirian setelah mengalami kejadian buruk tadi kalau perlu Diandra ingin Kiki menginap di sini, tetapi dia menolak dia kekeuh ingin pulang kembali ke kosnya.
"Mau dong, bilang aja pengen diantar kapan Ki," Diandra menepuk bahu Kiki, menyunggingkan senyum simpatik.
"Sekarang bisa?" Kiki kembali menyeka air matanya, mengusap wajahnya dengan tangan.
"Loh serius mau balik sekarang?" tampak Diandra terkejut bukan main karena Kiki baru beberapa jam di sini.
"Kamu nggak pengen nginep di sini aja?" tanya Diandra.
"Iya serius. Aku pengen cepat-cepat punya ponakan, Dian! bikinin yah," senyum itu mulai merekah di wajah Kiki, sebuah permintaan dan senyum yang langsung berhasil membuat Diandra melotot.
"Heh apaan?"
##########
"Mas," ucap Diandra.
Gavin tengah berbaring di atas ranjang sambil bermain ponsel ketika Diandra masuk ke dalam kamar, Gavin meletakkan ponsel di atas nakas bangkit dan duduk di atas ranjang.
"Ya sayangku, gimana udah tenang Kiki nya?" Gavin menatap sang istri dengan seksama.
__ADS_1
Diandra mengangguk duduk di tepi ranjang tidak jauh dari Gavin.
"Izin antar Kiki balik ke kos boleh Mas?" pinta Diandra takut-takut.
Mata Gavin lantas membelalak mendengar permintaan sang istri, hal yang langsung membuat Diandra menciut, apakah suaminya akan memberi izin atau dia malah akan marah-marah.
"Mau naik motor?" wajah itu masih begitu kaku membuat Diandra makin harap-harap cemas.
"Bawa mobil dong Mas, masa iya mau naik motor," Diandra menyandarkan kepalanya di bahu Gavin, membuat senyum itu lantas merekah di wajah Gavin yang semula begitu kaku.
"Boleh kalau begitu biar motor Kiki aku yang bawa, kamu hati-hati bawa mobilnya," jawabnya sambil mengelus kepala istrinya dengan begitu lembut.
"Mas mau ikut antar?" Diandra melirik sang suami senyumnya merekah sempurna.
"Mana tega aku biarin kamu pulangnya sendiri, udah ayo cepat kalau gitu aku ganti baju dulu," ucap Gavin.
Diandra menatap Gavin yang melangkahkan kaki menuju kamar mandi, senyumnya masih tergambar di wajahnya, kenapa makin hari dia makin dibuat kagum dan terpesona oleh sikap manis orang yang dulu di mata Diandra begitu menyebalkan?
Diandra segera bangkit melangkah keluar untuk kembali ke ruang tamu, Kiki masih duduk di sana masih dengan wajah pucat dan mata sembab, kasihan sebenarnya tapi mau bagaimana lagi Diandra tidak bisa membantu banyak, kenapa sih masih ada saja orang yang suka bikin trauma anak orang? melecehkan anak gadis orang? bagaimana kalau itu nanti terjadi pada anak gadis mereka?
"Ki," Diandra kembali duduk.
"Gimana boleh sama Dokter Gavin?" tanya Kiki.
Diandra hanya tersenyum dan mengangguk pelan, hal yang langsung bisa membuat Kiki lega luar biasa, dia percaya kalau Gavin adalah orang yang baik, tidak seperti apa yang di pandangan Diandra selama ini, untungnya Diandra cepat sadar kalau tidak dia pasti akan menyesal sudah mengabaikan lelaki sebaiknya Gavin.
"Ah... aku harus banyak berterima kasih padanya, Dian," Kiki tersenyum, dia mulai membereskan tasnya.
"Nanti saja, tunggu dia siap-siap dulu!" ucap Diandra.
Kiki sontak terbelalak, dia menatap Diandra dengan seksama, apa yang tadi dia bilang siapa yang dikatakan Diandra tengah bersiap-siap?
"Siapa?" tentu itu yang Kiki tanyakan, jangan bilang kalau...
"Mas Gavin lah, dia ma..."
__ADS_1
"Dokter Gavin mau ikut antar aku?" tentu Kiki terkejut, dia merasa sungkan dan tidak enak pada sosok lelaki itu bukan?
"Hoo... dia nggak bolehin aku balik sendiri Ki," bibir Diandra mengerucut walaupun jujur di dalam hatinya dia bahagia dengan sikap sang suami.
"Cie so sweet," Kiki tersenyum lebar akhirnya setelah menangis beberapa saat karena shock atas apa yang dialami, bisa kembali tersenyum.
"Keknya Dokter Gavin bucin parah sama kamu, Dian," ucap Kiki lagi.
Mau tidak mau Diandra tersenyum memang om-om itu memang terlampau takut Diandra sampai pergi darinya, jadi dia begitu over protektif terhadap Diandra.
"Ya sepertinya memang begi..."
"Berangkat sekarang yuk, sayang!" ucap Gavin.
Diandra dan Kiki kompak menoleh Gavin menuruni anak tangga dengan penampilan yang rapi seperti biasanya, Diandra menatap Kiki menganggukkan kepala sebagai kode bahwa mereka harus pergi.
Diandra bangkit meraih kunci mobil di meja sementara Kiki nampak sungkan dia bangkit dan menatap takut-takut lelaki yang selama ini terkenal judes dan galak.
"Sa... saya mengucapkan banyak terima kasih Dokter," Kiki menunduk rasanya sosok itu tetaplah angker di mata Kiki meskipun dia sudah jadi suami dari sahabat baiknya.
"Sama-sama Kiki, lain kali jangan lewat jalan sepi sendirian oke?" ucap Gavin.
Kiki mengangkat wajah menatap wajah itu sambil tersenyum.
"Mana kunci motormu?" Gavin mengulurkan tangan meminta kunci motor Kiki.
"Dokter yang bawa motor saya?" kembali Kiki begitu terkejut.
Gavin mengangguk pelan menerima kunci itu dari tangan Kiki.
"Kamu sama Dian naik mobil saya," tegasnya lalu melangkah pergi dari hadapan Kiki.
Kiki menoleh ke arah Diandra yang memberinya kode dengan kedua alis, senyum Kiki kembali merekah dia melangkah di sisi Diandra menuju pintu dan segera keluar dari istana Dokter Gavin itu.
"Apakah ini yang dulu kau sebut sebuah kesialan, Dian?" bisik Kiki lirih, dari sudut mata dia lihat lelaki itu sudah bertengger di atas motor miliknya.
__ADS_1
Tawa Diandra pecah.
"Please! bisa jangan bahas itu lagi, Ki?" ucap Diandra.