
Diandra beres memarkirkan mobil di halaman parkir sebuah toko buku kenamaan yang letak tokonya berada tepat di pinggir jalan raya utama yang membentang di tengah kota, berderet dengan beberapa bangunan penting lain yang berdiri kokoh di sepanjang jalan.
Diandra melepaskan seat belt meraih tas selempang nya lalu melangkah turun, dia mengenakan celana jeans highwaist yang dipadukan dengan atasan lengan panjang, punya suami om-om itu ternyata sangat merepotkan semua trend pakaian yang sedang hits selalu salah di mata lelaki itu, jangankan dipakai pergi keluar rumah, dipakai untuk foto dan diupload di sosial media pun tidak boleh.
Diandra melangkah dengan santai masuk ke dalam, tidak ada yang mengira kalau dia sudah menikah bukan? dia belum nampak seperti wanita yang sudah menikah kecuali cincin emas yang melingkar di jari manis Diandra dengan ukiran nama Gavin di bagian dalamnya.
Menikah di usia yang begitu muda? ah mungkin sudah jadi nasib Diandra, untungnya Gavin bukan om-om perut gendut yang mulutnya beraroma tembakau, terlampau seksi malah disebut om-om ditunjang penampilan wajahnya yang membuat minus banyaknya selisih umur antara Gavin dan Diandra termaafkan.
"Aduh maaf," sosok itu memekik setelah menabrak tubuh Diandra.
Diandra menoleh mendapati gadis dengan seragam SMA itu terjatuh dengan beberapa buku pelajaran yang berserakan di lantai, dengan segera Diandra ikut menunduk, memungut buku-buku yang berserakan di lantai.
"Sekali lagi mohon maaf Kak," desis gadis itu takut-takut.
Diandra tersenyum, menyodorkan buku itu pada gadis dengan seragam SMA yang entah mengapa jam segini bukannya berada di sekolah malah di toko buku, tapi bukankah itu lebih baik? daripada dia ngelayap ke mall, karaoke atau tempat tidak baik lainnya.
"Nggak apa-apa santai saja," Diandra menatap badge nama di dada gadis berkacamata yang menubruknya tidak jauh dari kasir.
"Aliya Lestari,"
Itu nama yang terbordir di sana, sebuah tanda yang mengingatkan Diandra bertanya sesuatu hal yang penting mengenai keberadaan gadis itu di sini, di jam seharusnya dia bersekolah.
"Ini kan masih jam sekolah kok malah di sini?" tanya Diandra.
Diandra tau betul dari semua buku yang dibawa Aliya semua adalah buku pelajaran, tapi itu tidak lantas membenarkan keberadaan Aliya di sini di saat jam sekolah.
"Belum mood masuk sekolah kak, jadi pilih ke sini dan cari buku saja," desis gadis itu sambil tersenyum masam.
Alis Diandra berkerut dari sudut matanya Aliya nampak jujur, tidak berbohong sebuah hal yang membuat Diandra lantas begitu penasaran dengan apa yang membuat Aliya tidak mood bersekolah.
"Kenapa nggak mood? kakak aja yang lulus kemarin rasanya kangen sekolah," senyum Diandra merekah menampakkan wajah ramah dan hangat.
"Aku baru pindah Kak ikut Mama setelah orang tua pisah, walaupun sebenarnya aku pengen ikut Papa aja," wajah itu masih tersenyum namun bukan senyum gembira yang ditampakkan di wajah itu melainkan sebuah senyum pedih yang malah mengusik hati Diandra dan memancing rasa ingin tahu.
__ADS_1
"Maaf kalau begitu," Diandra merasa tidak enak namun jujur dia penasaran, bukan penasaran dengan kisah orang tua Aliya yang berpisah tetapi penasaran dengan gadis ini.
"Baru pindah yah? dari mana?" tanya Diandra.
"Santai aja Kak," kembali gadis itu tersenyum, kali ini sebuah senyuman manis tersungging di wajah itu.
"Dari Bali! masih benar-benar baru dan perlu adaptasi Kak," ucap Aliya.
Mata Diandra membulat.
"Asli Bali?" tanya Diandra.
Aliya nampak menggeleng.
"Tidak! cuma lahir dan besar di sana dan orang tua juga bukan asli sana kok," jawab Aliya.
Diandra mengangguk, mereka sudah melangkah menyusuri rak-rak buku yang ada di sana dengan Aliya beserta buku-buku yang berada di dalam pelukan gadis itu.
"Tidak juga! aku cuma kuliah di sini," agaknya tidak perlu menceritakan status Diandra yang sudah menikah bukan? toh Diandra tidak tengah bersama lelaki lain saat ini.
"Nama Kakak siapa?" kembali gadis itu bertanya nampak ini dia begitu penasaran.
"Diandra! kamu Aliya iya kan?" Diandra menoleh meskipun penampilannya terkesan cupu dengan kacamata itu, namun Diandra bisa melihat gadis itu begitu cantik dan cerdas.
"Kakak tahu dari badge nama pasti?" tebaknya sambil tersenyum lebar.
Diandra terkekeh, nampak mereka tertawa lirih, berhenti di depan salah satu rak yang memajang beberapa novel-novel dan bungkus plastik rapi dan menggoda mata.
"Iya dong! setelah ini mau ke mana?" tanya Diandra yang mulai memilih beberapa judul buku yang terpanjang di sana.
Nampak Aliya berpikir keras, satu tangannya ikut memilih beberapa buku yang terpajang di sana, Diandra yang sudah asik memilih novel itu sesekali melirik gadis itu, dia nampak gadis baik kok, Diandra bisa melihat dari sorot mata dan bagaimana gadis itu bicara.
"Belum tahu Kak, aku baru seminggu di sini belum tahu banyak tempat kecuali sekolahan, toko buku dan Mall besar di sini," ucap Aliya.
__ADS_1
Diandra tersenyum, dia tahu bagaimana rasanya jadi Aliya dulu ketika baru sampai di Solo Diandra juga cuma tahu lokasi kampus, toko buku, Mall dan warung makan siap saji saja.
"Pernah diposisi kamu tiga setengah tahun yang lalu," desis Diandra seraya memindahkan beberapa buku dalam pelukan, dia sudah memilih beberapa judul buku yang dia pilih.
"Bingung kan kak?" rupanya Aliya juga memilih beberapa judul novel.
"Iya," Diandra menatap buku dalam pelukan, rasanya sudah cukup dia membeli beberapa judul itu, toh setelah ini dia harus berjuang menghabiskan banyak waktu di rumah sakit bukan?
"Mau Kakak antar keliling kota?" tawar Diandra dengan senyum manis.
Aliya menoleh, tersenyum begitu antusias dengan mata berbinar.
"Serius kakak mau? nggak repot nih?" tanya Aliya.
Tawa Diandra pecah, dia kembali melangkah mengamati rak-rak lain, siapa tahu dia tertarik dengan isinya sesekali dia menoleh menatap Aliya yang mengekor di belakangnya.
"Nggak repot, santai aja, yuk Kakak udah beres nih, pengen diantar ke mana sekarang?" tidak ada yang menarik lagi di mata Diandra, jadi lebih baik segera membayar dan pergi dari sini terlebih dia sudah berjanji pada Aliya bukan?
Aliya mengganggu cepat, mereka terus melangkah sambil membawa masing-masing buku dalam pelukan, sebenarnya ada bag yang disiapkan untuk membawa mereka, namun entah mengapa Aliya dan Diandra bisa kompak lebih memilih memeluk buku pilihan mereka daripada menaruhnya di bag transparan yang disiapkan.
Diandra meletakkan empat novel pilihannya hendak merogoh tas ketika tangan Aliya mencegah tangan Diandra, sontak Diandra menoleh menatap gadis yang sudah lebih dulu menyodorkan kartu ke petugas kasir.
"Pakai tanda tangan Mbak," titahnya yang sontak membuat Diandra berteriak.
"Eh! No! Kakak bayar sendiri, Aliya itu banyak banget loh," teriak Diandra panik. Apa-apaan kenapa dia malah jadi ditraktir anak SMA?
"Santai Kak, anggap aja tanda kenal dari Aliya yah?" gadis itu tersenyum begitu manis sebuah senyum tulus yang begitu hangat dan ramah.
"Lah tapi itu banyak banget Aliya, Kakak ada uangnya ini," tentu saja! Gavin langsung mentransfer uang cukup banyak begitu dia mengirim nomor rekeningnya tadi, lebih dari cukup untuk membeli buku-buku yang lain sekalian.
Aliya kembali menggeleng dan tersenyum.
"Kalau kakak nolak, aku nggak jadi mau diantar Kakak keliling kota gimana?" ucap Aliya.
__ADS_1