
Gavin tertegun di depan pintu sementara Diandra menyilangkan tangan di dada menutupi leher dan bahu yang tidak tertutup handuk putih yang kini melilit tubuh Diandra yang nampak baru selesai mandi.
Sebagai lelaki normal, darah Gavin berdesir hebat dia melihat betapa putih dan mulus kaki dan bahu Diandra dengan posisi seperti ini, terlebih mereka hanya berdua di kamar ini dengan status yang sudah resmi dan boleh melakukan apapun kalau saja lidah Gavin tidak terlanjur mengucap janji itu.
"Dok ngapain sih, keluar lah," ucap Diandra.
Gavin tersentak dari lamunannya, dia menarik nafas dalam dan lalu melotot menatap Diandra yang wajahnya memerah itu.
"Kenapa saya harus keluar, ini kamar saya juga, kamu lupa?" Gavin melangkah mendekat membuat Diandra yang tengah membongkar koper sontak berjalan mundur.
Nampak wajah itu terkejut, wajah memerahnya berubah jadi pucat, dia terus melangkah mundur dan itu membuat Gavin makin bernafsu untuk terus mendekati Diandra.
"Dok, mau ngapain Dok?" Diandra berteriak, nampak tangan yang menutupi dada itu tremor menandakan bahwa Diandra sudah sangat ketakutan.
__ADS_1
Gavin tidak menjawab hanya tersenyum simpul dan terus melangkah mendekati hingga Diandra sudah tidak bisa lagi melangkah mundur, karena terbentur tembok hal yang membuat Gavin makin mempercepat langkahnya hingga kemudian dia sudah berdiri tepat di depan Diandra.
Bisa Gavin lihat dengan jelas tubuh Diandra bergetar hebat, wajahnya pucat dengan mata memerah menahan tangis, Gavin menekan tembok yang ada di belakang dengan satu tangan mendekatkan wajah kemudian berbisik begitu lirih di telinga Diandra.
"Saya masih lelaki normal, Dian, kalau kamu mau saya masih pegang teguh perjanjian kita, tolong ganti bajumu di kamar mandi," bisik Gavin lirih.
"Kalau kamu ingin perjanjian kita batal, cukup izinkan saya menyingkirkan handuk ini dan ayo kita lakukan sekarang," ucap Gavin.
Gavin terkejut ketika tangan itu mendorongnya dengan tangan masih menyilang di dada, Diandra bergegas berlari ke kamar mandi menutup pintu kamar mandi itu rapat-rapat.
Tubuh Gavin memanas, ada sesuatu dalam diri Gavin yang menginginkan Diandra, menginginkan Gavin menyentuh tubuh itu dengan begitu mesra malam ini, namun agaknya keinginan itu harus Gavin tunda, Diandra sama sekali tidak ingin dia sentuh terlihat dari bagaimana ekspresi yang ketakutan yang Gavin lihat dari sorot mata itu.
Gavin menatap nanar tubuh bagian bawahnya, ada sesuatu yang mengeras di dalam sana, apakah Gavin bisa konsisten menahan semua gairahnya atau di tengah perjalanan dia menyerah dan memaksa Diandra menuntaskan semua gairah yang kini menyiksanya itu.
__ADS_1
"Dok boleh minta tolong," ucap Diandra.
Gavin tersentak menoleh ke sumber suara dan mendapati kepala Diandra melongok dari pintu kamar mandi.
"Ya minta tolong apa?" tanya Gavin.
"Tolong ambilkan koper saya disitu, baju ganti saya ada di sana," ucap Diandra.
Gavin mengangguk, dia segera menutup koper pink itu dan membawanya ke depan pintu kamar mandi, pintu itu hampir menutup ketika koper sudah berhasil masuk, namun Gavin menahan pintu itu dengan tangan membuat Diandra lagi-lagi langsung panik.
"Nggak minta tolong buat bantu pakai baju sekalian Dian?" tanya Gavin.
Tanpa pikir panjang Diandra langsung menutup pintu itu karena ketakutan.
__ADS_1
##############