
"Balik sama doi nih?" Tanya Diandra saat mereka ada di ruangan residen anak. Sudah jam pulang, Diandra sendiri sudah membereskan semua printilan alat tempurnya.
"Dian... Aku balik sama kamu aja deh, kamu bawa mobil, kan?" Mohon Kiki dengan wajah memelas.
Diandra nyengir lebar, kepalanya sontak menggeleng perlahan membuat Kiki lantas mendesah panjang dengan tubuh merosot di kursi.
"Yah, Dian!" Rintih Kiki dengan wajah memelas, persis macam anak anjing yang di buang di pinggir jalan.
"Lah tadi katanya nggak usah jemput, yaudah aku nebeng Mas Gavin lah." desis Diandra lalu menarik tasnya dari atas meja.
"Mau bareng?" Tawarnya sambil menaikkan tas di gendongan.
"Dian, nggak enak sama suami kamu lah." Kiki tentu sungkan dengan Dokter Gavin. Sedekat apapun persahabatan antara dia dan Diandra, tetaplah Gavin itu dosen Kiki.
"Ya nggak apa-apa, nanti aku bilang sama Mas Gavin." Ajak Diandra masih mencoba memberi penawaran untuk pulang bersamanya.
Kiki bangkit, duduk tegak di kursi sambil menopang dagu. Otaknya berpikir, dan keputusannya adalah menolak tawaran Diandra dan pilih naik ojol saja!
"Nggak ah! Nggak enak sama Dokter Gavin." Gumam Kiki kemudian.
"Aku naik ojol aja lah, Dian. Kamu hati-hati baliknya!"
Diandra mendesah sambil tersenyum.
__ADS_1
"Bareng sama Bang Derren juga nggak apa-apa kok, PDKT gitu. Siapa tahu habis ini ada yang neraktir makan-makan. Pajak jadian!" Gumam Diandra dengan kedua alis diangkat.
Kiki membelalak, namun dia sudah tidak sanggup berkata-kata. Hanya menggelengkan kepala sambil memasang wajah kesal. Sementara Diandra melambaikan tangan, melangkah keluar dari ruangan milik residen anak, ruangan tempat mereka beristirahat dan tentu saja berkeluh kesah mengenai perjalanan terjal mereka demi menjadi perpanjangan tangan Tuhan.
Diandra terus melangkah, Gavin sudah mengirimkan pesan kepadanya sejak beberapa saat yang lalu. Semua beres, tidak ada cito dan lain-lain yang menahan langkah baik Gavin maupun Diandra. Dan pulang ke rumah adalah hal paling baik untuk dilakukan saat ini. Saat mereka sudah cukup penat dan lelah kerja seharian. Ah... kata kerja hanya untuk Gavin. Kalau untuk Diandra mah dia dikerjain bukan kerja.
Diandra tersenyum melihat sosok itu sudah berdiri bersandar di mobil. Gavin pun nampak tersenyum melihat kemunculan sang istri, dia segera bangkit dan merogoh saku.
"Lama nunggu?" Tanya Diandra ketika dia sudah berada di depan suaminya.
"Nggak kok, masih lamaan nunggu kamu bikin alis. Bisa kelar S2 kalau nungguin kamu bikin alis." Jawab Gavin begitu santai.
Diandra mencebik, tangannya spontan menggebuk punggung suaminya. Hal yang kontan membuat Gavin terbahak-bahak lalu mendorong lembut bahu sang istri menuju sisi mobil. Dengan lembut Gavin membuka pintu mobil, mempersilahkan Diandra masuk ke dalam lalu menutupi pintunya dengan perlahan.
***
Rachel Callista, dia harus menyingkir jauh dari Bali karena ada sebuah masalah yang tidak bisa dia jelaskan panjang lebar. Demi nama baik, demi hidup tenang dan tentu saja demi kelanjutan kehidupan serta karier Rachel, dia harus rela pergi jauh dari pulau surga yang begitu cantik di setiap sudutnya itu.
Bali begitu indah. Sangat mempesona. Hal yang membuat dulu dia dan Sony, memutuskan pindah ke sana dan memulai bahtera rumah tangga mereka di pulau Dewata itu. Mereka sangat mengidolakan pulau itu, jatuh cinta pada setiap sudut pulau yang bagi mereka adalah tempat paling indah yang di dunia. Rachel sangat suka pantai, bukan hanya pantai indah yang Bali miliki, dia juga memiliki pegunungan dan tentu saja adat budaya yang hanya bisa ditemukan di Bali.
Sony yang kala itu sudah lulus spesialis forensik, kebetulan mendapat lowongan kerja di salah satu rumah sakit yang ada di Denpasar. Sebuah kesempatan yang tidak mereka sia-siakan mengingat bagaimana keduanya bisa begitu kompak jatuh cinta pada Bali.
Rachel tersenyum getir, dia dalam perjalanan pulang setelah melewati hari pertamanya di rumah sakit baru. Bukan hanya kenangan akan Bali dan alasan apa yang membuat dia harus menyingkir sampai sejauh ini yang membuat hati Rachel berdesir hebat, melainkan juga karena sosok yang dia temui di parkiran tadi.
__ADS_1
Awalnya Rachel pikir dia salah lihat! Tapi wajah itu masih begitu Rachel ingat, bahkan wajah itu tidak banyak berubah. Tidak nampak menua meskipun sekarang mereka sudah tidak muda lagi.
Ya... Gavin masih begitu mempesona, makin mempesona malah dengan postur tubuhnya yang sekarang. Gagah dan tegap, membuat Rachel yakin, Gavin banyak menghabiskan waktunya di tempat kebugaran untuk membentuk tubuh.
Senyum Rachel merekah. Ingatannya kini memutar momen di mana dia bertemu dengan Gavin di kampus dulu. Mereka satu angkatan saat pre-klinik. Dan di ruang kelas, laboratorium forensik, kantin kampus Fakultas Kedokteran adalah saksi di mana kemudian cinta mereka tumbuh dan bersemi.
Dia dan Gavin sama-sama berdarah muggle alias calon Dokter yang berasal bukan dari keluarga Dokter. Hal yang kemudian membuat mereka makin klop karena merasa senasib dan perjuangan mereka lebih terjal dari teman-teman berdarah murni.
"Kau nggak banyak berubah ternyata, Vin. Kecuali...." Senyum Rachel sontak lenyap.
Dia lihat betul gadis belia itu datang menghampiri Gavin, bagaimana interaksi mereka begitu mesra dan intim. Siapa gadis cantik itu? Adik Gavin? Tentu tidak mungkin! Gavin anak bungsu dan Rachel tahu betul itu!
Rachel sudah lama out dari grup alumni setelah hubungannya dengan Gavin kandas. Dia sudah tidak sanggup mendengar sindiran demi sindiran teman -teman mereka yang cenderung pro ke Gavin daripada Rachel. Ya memang kandasnya hubungan mereka karena kesalahan Rachel sendiri, tetapi Rachel tidak sanggup membaca ketikan-ketikan menyakitkan itu dari teman-teman yang cenderung memojokkan dirinya. Kabar terakhir yang dia dapat Gavin belum menikah. Lanjut mengambil pendidikan spesialis bedah seperti cita-cita Gavin yang sering diceritakan kepadanya dulu.
"Dia siapa? Masa iya istri Gavin masih kecil begitu? Dokter koas, kan dia?" Tentu itu pertanyaan yang sejak tadi menganggu pikiran Rachel.
"Selingkuhan Gavin?" Tentu itu mendadak muncul di pikiran Rachel.
"Tapi Gavin bukan tukang main perempuan!" Mendadak Rachel seperti ditampar setelah kalimat itu meluncur dari bibirnya. Bukan tukang main perempuan! Ya! Gavin memang lelaki yang benar-benar laki banget! Dia sopan, tahu bagaimana cara memperlakukan dan menghargai wanita, terlebih orang yang begitu dia sayangi. Tapi kenapa Rachel malah ...
Rachel mendesah, matanya mendadak basah.
"Goblok kamu, Hel! kamu emang cewek goblok!"
__ADS_1