Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Nggak! Nggak mungkin, Dian!


__ADS_3

"Siap koas, Sayang?"


Gavin memeluk istrinya yang sudah rapi dengan setelan scrub itu dari belakang. Memeluk erat-erat tubuh itu sambil menghirup rambut beraroma floral kesukaan Gavin. Hari ini, perjalanan Diandra yang untuk meraih gelar Dokternya kembali di mulai. Dia sudah mulai aktif kepaniteraan klinik mulai hari ini.


"Siap! Jangan galak-galak kayak kemarin pas aku di stase bedah nanti! Awas nggak aku kasih jatah nanti!" Ancam Diandra sambil melirik gemas ke arah sang suami.


Gavin sontak terkekeh, "Kau memaksa suamimu menjalankan praktik nepotisme, Sayang?"


"Pokoknya awas galak-galak! Tidur luar! Diandra membalikkan badan, menatap Gavin dengan tatapan setengah mengancam.


Gavin yang dapat tatapan mengintimidasi macam itu sontak nyengir lebar dan garuk-garuk kepala. Kalau ancamannya itu, mana bisa Gavin tahan? Tidur sambil memeluk Diandra dan menyembunyikan wajah di ceruk leher Diandra adalah sebuah kebiasaan baru Gavin yang tidak bisa diganggu gugat. Dan Diandra hendak menyuruh Gavin tidur di luar? Menyeramkan sekali dibayangkan!


"Iya deh iya. Nggak galak kok, Sayang!" Gavin mencubit gemas pipi istrinya, membuat wajah itu makin cemberut menggemaskan.


"Awas ketauan ganjen, residen bedah yang cowok semua bakal aku pacarin!"


"EH!" Gavin sontak membeliak, ditatapnya sang istri dengan tatapan nanar.


"Apa tadi kamu bilang, Sayang?"


"Mau macarin semua residen bedah kalau Mas ganjen dan macam-macam!" kembali Diandra melayangkan ancaman. Dia meraih ranselnya, memasukkan benda- benda wajib bin kudu yang harus selalu dibawa dia menjalani koas.


"Astaga! Diam-diam biniku ngeri juga, Ya Allah!" Desis Gavin sambil mengusap wajah dengan kedua tangan.


Diandra terkikik, dia membawa tasnya dalam gendongan. Menjatuhkan kecupan di pipi Gavin lalu melangkah keluar.


Gavin tersenyum ketika bibir itu menyapa pipinya dengan begitu lembut dan manis. Dia segera memburu langkah sang istri. Sebelum Diandra masuk ke dalam mobil dan berangkat lebih dulu.


Tujuan mereka berbeda. Gavin harus ke kampus dulu sebelum nantinya berangkat ke rumah sakit. Jadi terpaksa membawa mobil sendiri-sendiri.


"Nggak salim nih?" Tegur Gavin ketika Diandra sudah hampir masuk ke dalam mobil.


Diandra menoleh, dahinya berkerut.


"Kan tadi sudah, Mas?"


Gavin mencebik.


"Tadi mah nyosor, bukan salim!"

__ADS_1


Diandra terkekeh, melangkah menghampiri sang suami lalu meraih tangannya untuk dia cium. Senyum Gavin merekah, kenapa rasanya tidak rela membiarkan Diandra pergi sendiri? Rasanya dia ingin mengekor kemana pun istrinya ini pergi. Ah! Dasar bucin!


"Aku pamit berangkat duluan ya, Mas?


Gavin mengangguk pelan, tangannya terulur mengelus pipi Diandra yang lembut dan kenyal macam kue mochi.


"Jadi berangkat sama Kiki?" Kalau pergi sama dia, Gavin sedikit lebih tenang.


"Iya, udah ngabarin Kiki kalau aku on the way, Mas."


"Kalau gitu hati-hati!" Gavin mendesis dengan senyum merekah di wajah.


Diandra membalas senyum itu, melompat memeluk Gavin erat-erat. Hal yang membuat Gavin terkejut namun begitu senang dengan betapa manis dan manja istrinya ini.


"Semangat, ya? Bikin suami dan kedua. orang tuamu bangga, oke?"


##########


Kiki mematut dirinya di depan cermin. Dia sudah siap dengan scrub yang dia beli kembaran bersama Diandra. Rambut panjangnya dia ikat tinggi, bibirnya dia pulas lipbalm pink natural.


Tinggal menunggu Diandra yang 'katanya' sudah on the way dan dimulailah perjalanan kepaniteraan klinik demi terwujudnya gelar yang sudah Kiki impikan sejak lama.


Cokelat pemberian Dokter somplak yang entah siapa namanya. Kiki tersenyum, meraih cokelat itu lalu memasukkan benda itu ke dalam lemari plastik yang dia gunakan sebagai lemari penyimpanan bahan makanan miliknya.


"Kenapa sayang banget mau makan ini okelat?" Kiki tersenyum getir menatap cokelat itu. Kenapa dia jadi begini sih?


Kiki hendak menepis semua pikiran anehnya ketika pintu kamar kos nya diketuk dengan membabi-buta.


"Ki... Kiki! Ki! Ayolah, keburu telat!"


Itu suara Diandra! Dasar Diandra! Sudah nikah pun nggak bikin sikap absurb-nya hilang! Malah makin menjadi kalau Kiki lihat. Dengan bersungut-sungut, Kiki menutup lemarinya lalu melangkah melangkah menuju pintu setelah menyambar tas.


"Aku belum budek, Dian! Woles napa sih?" Kiki membuka pintu, nampak Diandra nyengir lebar di depan pintu


"Gas yuk!" Seru Kiki setelah mengunci pintu kamar.


Diandra mengangguk, mengekor di belakang langkah Kiki. Mereka nampak seragam dengan setelan scrub itu. Hal yang sudah mereka rencanakan sejak pre klinik ketika koas nanti, mau pakai scrub yang sama alias seragam.


"Nggak apa-apa kamu tiap hari harus jemput aku dulu sebelum berangkat? Nggak dimarahin suamimu, Dian?" Tanya Kiki yang tentu takut pada Dokter Gavin.

__ADS_1


'Santai, Ki! Kaya sama siapa aja!" Diandra terkekeh, "Kan emang maunya. Mas Gavin aku pulang pergi sama kamu kalau pas nggak bisa bareng sama dia."


Kiki kontan mencebik, "Ah! alamat aku jomblo lama dong kalo gini? Malah di suruh momong kamu sama Dokter Gavin. Ntar kalo aku mau diajak kencan babang residen gimana?"


Diandra melongo, ia sontak menjitak kepala Kiki dengan gemas.


"Babang residen yang mana, heh? Babang residen yang mana? Udah yakin ada yang mau emang?" Diandra benar-benar gemas dengan sahabatnya ini. Ngidam apa sih emaknya dulu?


Kiki terbahak, "Jelas ada yang mau lah! Antri malah!" Jawabnya dengan sombong.


"Soalnya kamu kan udah di hak milik sama Dokter Gavin, otomatis aku nggak ada saingan! Mau nggak mau, aku yang masih single, mereka nggak ada pilihan!" Jawab Kiki dengan wajah begitu menyebalkan di mata Diandra.


"Ki, please! Dokter koas perempuan di rumah sakit bukan cuma sama kamu, Ki! Tentu pilihan para babang residen itu banyak, Ki! Banyak!" Diandra mendengus kesal, ini anak sarapan apa pagi ini? Kenapa masih pagi tapi otaknya udah somplak begini? Heran!


"Ah!" Kiki mendesis.


"Anggap aja cewek yang single cuma tinggal aku doang! Jadi para abang residen tidak ada pilihan kecuali aku. rebutan mereka nanti!"


Diandra melongo, refleks dia menempelkan punggung tangan di dahi Kiki. Meskipun tidak muncul angka yang mempresentasikan berapa suhu tubuh Kiki, namun Diandra tahu betul, suhu tubuh Kiki normal!


Lantas apa yang membuat Kiki bisa somplak macam ini?


"Apaan sih, Dian? Di stase anak besok kayak gini auto ngulang kamu!" Kiki menangkis tangan Diandra, wajahnya nampak cemberut.


"Cuma memastikan kalau kamu nggak kenapa-kenapa, Ki!" Jawab Diandra lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.


"Memang aku kenapa? Aku sehat!" Kiki masuk ke dalam, memakai seat belt dengan benar.


"Iya, badan kamu sehat. Agaknya otak sama kewarasan kamu yang bermasalah." Jawab Diandra asal sambil membawa mobilnya melaju.


"Kampret!" Maki Kiki yang sontak memecah tawa Diandra.


"Btw, kamu nggak jadi sama Dokter yang kemarin nih, Ki? Padahal kita taruhan loh! Siap-siap punya anak lima sonoh!"


Kiki mendengus. "Bisa nggak sih kamu waras dikit, Dian? Masa iya aku kamu katain jodoh sama dia? Mana mungkin!" kenapa tiba-tiba bayangan wajah itu berkelebat di benak Kiki.


Diandra tersenyum, fokusnya hanya pada jalanan yang ada di depan. "Jodoh itu unik, Ki. Percaya deh."


Kiki tertegun. Benarkah? Benarkah apa yang tadi dikatakan Diandra itu? Bukankah itu juga yang terjadi pada Diandra? Tapi tidak mungkin, kan, Kiki berjodoh dengan lelaki bin ngeselin macam itu?

__ADS_1


"Nggak! Nggak mungkin, Dian!"


__ADS_2