Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Gini amat perjuangan untuk menikahi mu!


__ADS_3

"Pa, Dian mau ikut," rengek Diandra saat sang Papa sudah bersiap hendak ke bandara.


Setelah makan malam berempat, Darmawan segera bersiap-siap untuk pergi berdua dengan Gavin, semuanya sudah disiapkan termasuk mobil,, mereka tinggal membawanya ke bandara dan take off bersama pesawat yang sudah Darmawan siapkan tiketnya, Darmawan tersenyum mengacak rambut Diandra dengan begitu gemas.


"Kamu mau duduk di mana kalau ikut? di sayap pesawat?" goda Darmawan sambil tersenyum membuat Diandra mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Aaa Papa.." tentu Diandra tidak ingin diam saja, dengan rasa penasaran yang menyiksanya.


"Sudah! kan tadi Papa sudah bilang kamu di rumah aja kangen-kangenan sama Mama, oke," kembali Darmawan tersenyum,, menoleh ke arah Gavin yang langsung paham apa maksud dari tatapan itu.


Gavin melangkah mendekati Dina, mengulurkan tangan guna berpamitan pada Nyonya rumah yang sudah menyambut kedatangannya dengan begitu hangat dan ramah.


"Dokter Dina saya mohon pamit,, terima kasih atas sambutan hangatnya untuk saya," ucap Gavin.


Dina tersenyum.


"Sama-sama Vin, kalian safe flight yah, titip Papanya Dian," ucap Dina.


Gavin mengangguk dan tersenyum manis, wajahnya kini menoleh menatap ke arah Diandra yang nampak mencebik sambil melipat tangan di dada, sebuah penampakan yang membuat tawa Gavin rasanya hendak meledak.


"Saya pamit Dian," desis Gavin lirih, dia yakin kalau Diandra tidak akan menjawab pamitnya, dia tentu marah atas kejadian siang tadi di mana Gavin menolak permintaan Diandra untuk membuka suara kemana Darmawan membawa Gavin pergi, apa saja yang mereka lakukan dan apa yang hendak mereka bicarakan.


"Iya," ucap Diandra.


Benarkah? Ah harusnya Gavin bersyukur, Diandra menjawab kalimat pamitnya, walaupun hanya dengan satu kata, bukankah tadi dia mengira Diandra tidak akan menggubris dan menganggap penting kalimat pamit yang Gavin lontarkan padanya?


Gavin tersenyum, tangannya terulur mengacak gemas rambut Diandra, sebuah keberanian yang langsung dibalas pelototan mata tajam oleh gadis itu, nampak Dina tersenyum membuat Gavin kembali menganggukan kepala sebagai wujud hormat.


"Yuk! Vin, keburu ketinggalan pesawat," Darmawan menyodorkan kunci mobil pada Gavin, bergegas masuk ke dalam setelah melambaikan tangan ke arah anak dan istrinya.


"Aaaaa Papa," Diandra menghentakkan kaki di lantai, wajahnya masih cemberut sampai mobil hitam itu pergi dari depan rumah, dia kemudian menoleh menatap Dina yang tersenyum lebar ke arahnya.


"Aduh ganteng banget sih,, Dian, Mama pikir dia udah ubanan gitu dan...."


"Mama," Diandra sontak lemas, bukan hanya sang Papa yang terpikat oleh pesona bujang lapuk itu tapi sang Mama juga.

__ADS_1


"Masa iya Diandra, mau sama aki-aki?" ucap Diandra


Dina lantas mencubit gemas pipi anak gadisnya.


"Sekarang mah bukan cuma aki-aki yang ubanan, Dian, anak muda sekarang banyak yang udah ubanan," ucap Dina.


Diandra makin gemas, kesal dan entah apalagi rasanya semua bercampur jadi satu mengaduk perasaannya dan semua itu karena Gavin.


"Ma,, Mama tau nggak Papa itu mau ke mana?" tanya Diandra berharap Mamanya tahu dan mau buka suara perihal rasa penasaran Diandra.


"Mmmm," nampak Dina berpikir, dua tangannya dia lipat ke dada, terlihat jelas bahwa dia tengah menggoda anak gadisnya ini.


"Ma, Dian serius nih, mereka mau ke mana?" cecar Diandra yang belum mau menyerah hendak menuntaskan semua rasa penasarannya.


"Tenang Dian! Gavin nggak bakalan diapa-apain kok sama papamu," Dina mengacak lembut rambut Diandra.


"Jadi tidak perlu khawatir dan tunggu saja mereka balik oke?" ucap Dina kemudian meninggalkan Diandra yang melongo di tempatnya berdiri kenapa jadi ke arah sana pikiran sang Mama, siapa juga yang khawatir dengan bujang lapuk itu, Diandra hanya penasaran kemana mereka akan pergi dan apa yang hendak mereka lakukan? bukan khawatir dengan lelaki menyebalkan yang selalu sukses membuatnya darah tinggi.


Diandra mengeram.


############


"Nggak capekan Vin? gimana tadi bisa istirahat di rumah? nggak digangguin Diandra kan?" tanya Darmawan.


Gavin tertawa kecil,, diganggu Diandra? Gavin akan dengan senang hati dan pasrah kalau memang tadi Diandra mengganggunya, tetapi sayangnya tidak! Diandra mengganggunya sekali dan menghilang sampai kemudian kedua orang tuanya pulang ke rumah.


"Tidak Prof, saya bisa istirahat tenang tadi, terima kasih banyak atas sambutan dan fasilitasnya," jawab Gavin sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu, soalnya kita nanti begitu landing bakal lanjut jalan lagi Vin, dua jam lah lamanya," ucap Darmawan.


Gavin sontak terbelalak, begitu turun dari pesawat mereka masih akan lanjut perjalanan lagi selama dua jam, mau ke mana dia dibawa Darmawan? kenapa sejauh itu jarak yang hendak mereka tempuh, naik pesawat masih harus perjalanan lagi?


"Sebelumnya mohon maaf Prof, kalau boleh tahu sebenarnya kita mau ke mana?" Gavin makin penasaran dan tidak sabar lagi untuk bertanya langsung pada sosok itu, ke mana sebenarnya dia hendak dibawa pergi.


Darmawan tertawa bersandar dengan begitu santai di jok yang ada di samping kemudi.

__ADS_1


"Temani saya hiking ya Vin! kita bakal naik ke Lawu malam ini juga," ucap Darmawan.


APA?


HIKING?


Hampir saja Gavin berteriak, kalau saja dia tidak ingat siapa yang duduk di sampingnya ini,, jadi Darmawan hendak membawanya naik gunung malam ini juga? Astaga! ujian untuk cobaan apa sebenarnya ini? atau malah balasan atas apa yang sudah Gavin lakukan pada Diandra, bagaimana dia mengancam dan mengintiminasi gadis itu agar mau dia nikahi dan membebaskan Gavin dari rencana perjodohan gila dengan anak Pak Hendra.


"Tapi Prof untuk alatnya saya nggak..."


"Jangan khawatir Vin, perlengkapan hiking sampai akomodasi kita semua sudah ready, begitu pesawat landing semua sudah ada yang menyiapkan," jawab Darmawan dengan begitu santai.


Mampus!!!


Gavin menelan saliva dengan susah payah, seumur hidup dia belum pernah hiking dan sekarang tanpa persiapan apapun, Ayah Diandra membawanya naik gunung? setahu Gavin bukankah gunung Lawu itu...


"Sudah pernah hiking sebelumnya, Vin?" tanya Darmawan membuyarkan segala macam kerisauan di hati Gavin.


"Aku belum pernah Prof," jawab Gavin apa adanya, dia tersenyum kecut, dia tidak tahu kalau Papa Diandra suka adventure macam ini, kalau tahu dulu Gavin bakalan bergabung dengan UKM Mapadok di kampusnya dulu.


"Hah? dulu waktu pre-klinik nggak aktif organisasi memang?" tanya Darmawan begitu terkejut, sementara Gavin hanya tersenyum masam sambil garuk-garuk kepala.


"Dulu cuma ikut KMFK, BEM sama MSC Dok," ya memang hanya tiga organisasi itu yang Gavin ikuti selama 3,5 tahun menjalani pre-klinik.


"Oh begitu!" Darmawan tersenyum.


"Ini pertama kalinya berarti?" ucap Darmawan.


"Betul Prof," ucap Gavin.


Darmawan tersenyum dan mengangguk.


"Kamu bakalan ketagihan Vin, pegang omongan saya," ucap Darmawan.


Gavin hanya tersenyum dan mengangguk, ketagihan? benarkah apa yang dikatakan Darmawan? mendadak Gavin risau, kuatkah Gavin naik sampai puncak gunung itu? dan apakah dia akan gugur menjadi kandidat calon menantu guru besar itu kalau sampai dia gagal mendaki sampai puncak?

__ADS_1


Ya ampun Dian! gini amat sih perjuangan buat nikahin kamu, batin Gavin.


__ADS_2