
"Jahit dulu lukanya, Dek!" Titah salah seorang perawat IGD pada Kiki.
Kiki hanya mengangguk, handscoon sudah terpasang di kedua tangan, siap melakukan perintah yang diberikan untuk menjahit luka robek di dahi anak sepuluh tahun itu.
Beginilah nanti kerja Kiki sampai beberapa tahun ke depannya mungkin. Tapi apapun itu, demi gelar yang begitu dia impikan selama ini, apapun akan Kiki lakukan.
Kiki tengah serius, beberapa koas yang lain masing-masing punya pasien yang harus mereka pegang dan urus untuk kemudian mereka konsulkan, ada beberapa bahkan yang langsung didampingi residen sambil menunggu konsulen datang ke IGD. IGD penuh hari ini! Saat ini! Kutukan macam apa ini? Baru pertama kali koas dan kondisi IGD macam ini?
Kiki begitu serius, di saat yang sama sosok lelaki dengan snelli lengan panjang dan setelan scrub warna biru melangkah masuk ke dalam IGD.
Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling hingga kemudian matanya membelalak ketika mendapati wajah cantik yang familiar di matanya. Lebih shock lagi melihat apa yang tengah dia lakukan!
"Heh, itu!" Tunjuknya dengan suara lantang.
"Sejak kapan anak seni tari ikut koas?"
Semua pandangan tertuju pada Kiki dan Kiki kontan menoleh dan terkejut luar biasa melihat siapa yang datang dengan snelli nya itu. Dia kan...
Dengan mulut setengah terbuka Kiki menatap sosok yang kini melangkah menghampiri dirinya. Wajahnya nampak kaku dan datar, begitu menyeramkan dengan sorot mata tajam. Mimpi buruk apa lagi ini?
"Anak seni tari siapa sih, Derren?" Dokter Una memburu langkah lelaki itu. Sementara Kiki langsung negar berkeringat dingin dengan tangan tremor.
"Dia, yang di bed paling ujung. Dia anak seni tari." Gumamnya sambil menunjuk Kiki yang mati kutu.
"Mana ada anak seni tari bisa lolos dan koas! Dia lulusan Kedokteran, Derren!" Jelas Dokter Una terus memburu langkah lelaki itu.
Langkahnya terhenti, padahal tinggal beberapa langkah mereka sampai di brankar yang mana Kiki berdiri di sisinya.
"Di... dia lulusan Kedokteran?" Nampak dia masih belum percaya.
"Iya lah!" Dokter Una menimpuk gemas punggung Dokter rese itu sambil melotot.
"Pikir mu apa ada jurusan lain yang bisa menyelinap dan ikut koas? Nalar dong!"
Lelaki itu menatap Kiki tajam, melangkah mendekati Kiki dan menatapnya lekat-lekat.
__ADS_1
"Jadi kamu anak Kedokteran?" Tanyanya sambil menatap Kiki dengan tajam.
Kiki menciut. Kesialan apa lagi ini? Jadi Dokter somplak itu dinas di sini? Mata Kiki menatap sosok yang kini tampak gagah dengan snelli nya dan ID card itu...
'Derren'
Jadi namanya Derren? Kiki menelan ludah dengan susah payah, dia menundukkan wajah tidak berani menatap mata yang sejak tadi membeliak menatapnya.
"Heh! Aku tanya nih!" Kembali Dokter Derren mendesak, membuat Kiki lantas menganggukkan kepala. "Kenapa saat itu bilangnya jurusan seni tari, sih?"
Kiki mengangkat wajah, sorotnya sudah tidak setajam tadi, membuat Kiki berani menatap mata itu.
"Ah sudah lah!" Sosok itu tersenyum ganjil, mengulurkan tangan ke arah Kiki. "Nggak nyangka jumpa lagi. Good luck buat koas mu. Siap-siap aja aku kerjain, oke?"
###########
'Siap-siap aja aku kerjain?'
Kiki mengeram, setelah keruwetan yang terjadi di IGD dan jangan lupa pertemuan luar biasa sial dengan Dokter somplak yang ternyata bernama Derren itu, akhirnya Kiki dapat rehat untuk sekedar makan siang dan mengendurkan saraf- sarafnya yang tegang.
Dia melangkah setengah tergesa menuju kantin rumah sakit. Diandra sudah menantinya di sana. Diandra harus tahu! Dia harus tahu kalau Kiki, sahabatnya ini tengah ketiban sial! Kenapa bisa sih lelaki itu harus jadi Dokter umum yang praktik di sini? Dari sekian banyak rumah sakit, kenapa dia malah dinas di sini? Kenapa?
"Gawat, Dian! Gawat!"
Diandra yang tengah mengunyah bakso kontan mendongak, menatap Kiki yang tampak panik. Gadis itu sudah duduk di depannya.
"Apaan sih, Ki? Kamu salah suntik orang? Atau apa?" Diandra meletakkan sendoknya, meraih segelas cokelat dingin yang dia pesan.
"Kau ingat Dokter somplak yang menabrak ku saat itu?" Kiki mulai menceritakan kesialan yang menghampirinya.
"Ya! Tentu!" Diandra menatap Kiki dengan seksama. Jangan bilang.....
"Dia dinas di sini, Dian! Bayangin!" Wajah Kiki nampak sangat shock. "Dari tadi pagi sampai siang ini tadi aku dikerjain mulu sama dia! Dia sengaja banget nginjek aku, Dian!"
Diandra tertegun, dengan mulut setengah terbuka dia menatap Kiki yang nampak gemas dan kesal. Bukannya prihatin, tawa Diandra pecah. Dia terbahak-bahak yang kontan membuat Kiki makin masam dan ditekuk wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa malah ketawa sih? Kejem amat sama temen sendiri, Dian!" Protes Kiki sambil melotot kesal.
"Ya sorry. Kamu sih nggak percaya. Kalian itu jodoh! Pegang omonganku!" desis Diandra lirih.
Kembali Kiki membelalak, dia menatap kesal ke arah sahabatnya itu. Jodoh lagi? Dia bilang kalau dia ini jodoh sama Dokter itu?
"Bisa nggak sih nggak ngomongin hal itu, Dian?" Kiki benar-benar jengah. Kenapa harus dengan dia Diandra mengatainya berjodoh?
"Loh, kan aku berdasarkan fakta, Ki."
Diandra tidak terima. "Biasanya ka--."
"Dah! Dah! Jangan ngomongin dia lagi! Sumpah, perutku mules!" Desis Kiki dengan wajah masam.
Diandra terkikik, dia kembali fokus dengan makanan yang dia pesan. Sementara Kiki nampak celingak-celinguk bingung memilih hendak makan apa. Baru saja dia hendak memutuskan menu apa yang dia hendak gunakan sebagai makan siang, sosok itu muncul melangkah dengan gagah masuk ke dalam, membuat Kiki lantas panik menggoyangkan lengan Diandra, menjatuhkan bakso yang sudah hampir masuk ke mulut Diandra.
"Apaan sih, Ki?" ucap Diandra galak.
"Jatuh nih bakso nya!" ucap Diandra lagi.
"Dian... Orangnya itu, Dian!" desis Kiki yang masih menatap ke arah sosok itu.
Diandra tertegun, berusaha mengedarkan pandangan ke mana mata Kiki
memandang. Diandra menyipitkan mata, menangkap sosok itu lantas membelalak terkejut.
"Arah jam sembilan, Dian! Yang tampangnya tengil bin ngeselin." Ujar Kiki memberi instruksi.
Diandra makin tegang, jangan bilang kalau...
"Nah... Nah! Itu tuh yang duduk di meja paling pinggir, yang gabung sama perawat cowok itu!"
Jantung Diandra rasanya hendak mau lepas, dia melongo dengan Kiki yang masih menggoyangkan lengannya. Jadi lelaki itu yang Kiki maksud? Dokter somplak yang menabrak Kiki itu Derren? Yang benar saja!
"I... itu?" Diandra mencoba memastikan, meskipun sebenarnya semua clue dan instruksi yang Kiki beri padanya merujuk ke sosok itu.
__ADS_1
"Iya! Itu! Yang rambutnya kayak landak! Sumpah ya, aku kesel banget sama itu orang!" Kiki mengomel, sementara Diandra masih belum yakin dan 100% percaya.
"Namanya Derren, Dian! Dia Dokter umum di sini! Kenapa harus di sini, sih?"