
Hei!!!
Kiki buru-buru menghampiri Diandra yang sudah naik ke jendela kamar, ditariknya gadis itu hingga tubuhnya terhuyung hampir jatuh, Kiki membelalakkan mata menatap Diandra dengan sorot mata tajam, malam ini ada pengajian di rumah Diandra salah satu rentetan prosesi untuk pernikahan Diandra dan gadis ini tertangkap matanya hendak melarikan diri dari jendela kamar? lelucon apa yang hendak Diandra buat?
"Please Dian, jangan macam-macam," hardik Kiki yang lantas menutup dan mengunci jendela kamar Diandra rapat-rapat.
"Ayolah Ki,, aku cuma lagi berusaha menyelamatkan hidup nih," Diandra memohon nampak wajah itu memelas tetapi Kiki tidak peduli.
"Menyelamatkan hidup dan kau ingin mempermalukan keluargamu besok pagi itu?" Kiki nampak tidak terima.
"Please Dian, bukan hanya dekan, rektor kita pun bakalan hadir di pesta pernikahan kamu dan kamu sekarang malah mau kabur?" Kiki masih melotot sementara Diandra lantas menghela nafas panjang sambil memijat pelipisnya.
Kiki menarik Diandra, mendudukkan Diandra di tepi ranjang, dia menarik kursi dan duduk tepat dihadapan Diandra, napas Kiki naik turun tentu dia terkejut dan shock dengan apa yang dia temukan tadi, Diandra hendak kabur di saat pesta pernikahannya tinggal besok pagi? gila namanya!
Diandra menundukkan kepala dan tak perlu waktu lama dia terisak, bahunya naik turun membuat Kiki yang awalnya emosi kini melunak, dia menyentuh bahu Diandra mencengkram bahu itu dengan lembut.
"Dian, aku tahu kamu belum siap tetapi mau bagaimana lagi?" guman Kiki lirih.
"Kamu juga udah terlanjur janji kan?" ucap Kiki.
Diandra tidak merespon dia masih sibuk terisak dengan kepala menunduk, Kiki tersenyum getir kembali mengguncang lembut bahu Diandra berharap gadis itu mau menghentikan tangis dan mendengarkan apa yang hendak dikatakan.
"Siapapun nanti yang menemukan flashdisk dan kasih balik ke aku, kalau perempuan bakal aku jadiin saudara kalau dia laki-laki bakalan aku jadiin suami," Kiki mengulang sumpah yang pagi itu Diandra ucapkan.
Bukannya berhenti menangis, tangis Diandra lama-lama makin menjadi-jadi, Kiki kembali menghela nafas panjang, bangkit dari duduknya dan meraih Diandra ke dalam pelukan, tentu Kiki tahu apa yang membuat Diandra sampai seperti ini, bahkan Diandra hendak kabur di saat semua persiapan pesta pernikahan yang sudah seratus persen,, dia belum siap dan jangan lupa siapa lelaki yang besok akan mengucapkan ijab qobul.
"Dian udah dong, Dokter Gavin nggak jelek-jelek amat kok, perfect malah! ayolah dunia nggak akan berhenti meskipun kamu besok udah jadi istri dia," Kiki mencoba memberi pengertian dan harapannya Diandra mau mendengarkan dirinya.
Bukan apa-apa, dimata Kiki, Diandra dan Dokter Gavin itu benar-benar serasi, ya walaupun tiap mereka bertemu selalu berselisih paham tetapi Kiki percaya kelak semua itu akan berubah, Kiki percaya bahwa cinta bisa tumbuh dan jangan lupa bahwa Kiki sangat percaya bahwa Dokter Gavin adalah sosok pria baik yang tepat untuk menjadi pendamping Diandra.
"Kamu bisa bayangin nggak sih Ki, aku besok nikah cuma demi menuhin sumpah, dia nikahin aku cuma biar dia nggak dipaksa nikah sama gadis pilihan ibunya Ki, bisa bayangin nanti jadinya kayak gimana?" Diandra melepaskan diri dari pelukan Kiki, menyeka air matanya yang masih banjir.
Kiki tersenyum.
__ADS_1
"Yakin cuma karena itu? ayolah jalanin dulu aja kali Dian, bukannya Dokter Gavin udah jamin nggak bakalan ngapa-ngapain kamu? kamu bisa minta pisah kalau memang kalian nantinya nggak cocok," tentu Kiki ingat betul perjanjian gila keduanya, perjanjian yang Kiki harap batal dan tidak akan pernah terjadi.
"Iya sih tapi aku ragu Ki..." ucap Diandra.
Kiki membulatkan matanya.
"Ragu kenapa ragu?" tanya Kiki.
Diandra menoleh menatap Kiki dengan linangan air mata.
"Aku ragu dia beneran nepatin janji apa nggak? aku sama dia besok udah beneran sah, bisa aja kan dia terus maksa aku? kalau itu beneran terjadi aku lapor ke mana? status dia suami aku!" ucap Diandra.
Kiki sontak menepuk jidatnya dengan gemas, kepalanya menggeleng perlahan karena mendadak perasaan pusing yang teramat sangat.
"Aduh Dian jalanin dulu aja lah, aku lihat juga Dokter Gavin bukan tipe orang yang suka ingkar janji kok, udahlah pegang omonganku kalau kamu bakalan bahagia," tegas Kiki serius.
"Pegang omonganku bahwa perjanjian kalian batal! kalian batal pisah dan kamu bakalan punya banyak anak dari dia," ucap Kiki.
"Nggak mungkin... nggak mungkin!"
##############
Diandra sama sekali tidak bisa tidur malam ini, di liriknya Kiki yang sudah beberapa jam yang lalu tertidur pulas di sisinya, ya Kiki adalah salah satu bridesmaid di acara besok pagi, jadilah dia malam ini menginap di rumah Diandra tidur bersamanya di kamar milik Diandra.
Diandra mencoba memejamkan mata sejak tadi dia sudah berusaha melakukannya namun sayang semua usahanya untuk tidur gagal total padahal dia sudah mewanti-wanti tukang rias untuk standby pukul tiga pagi dan sampai pukul satu dini hari dia sama sekali belum bisa memejamkan mata.
Diandra meraih ponsel, hendak berselancar di sosial media, ketika tiba-tiba pesan itu masuk ke dalam ponselnya.
'Suamiku Tercinta'
( Dian sudah tidur )
mata Diandra membulat, jadi bukan hanya dia yang tidak bisa tidur tapi Gavin juga, Diandra tersenyum membaca pesan itu, dia segera membalas pesan itu sambil menahan tawa, rasanya mengerjai Gavin tidak ada salahnya bukan?
__ADS_1
( Nggak bisa tidur! mau coba kabur )
Tawa Diandra pecah, namun dia coba tahan sekuat mungkin agar tawanya tidak keluar, kira-kira apa balasan lelaki itu atas pesan yang Diandra kirimkan? bukan balasan pesan yang Diandra terima tetapi panggilan video itu masuk membuat Diandra ragu dan bimbang, haruskah diangkat panggilan itu?
Tapi kalau tidak diangkat, bisa-bisa Gavin malah nekat kemari dan memastikan dia beneran kabur atau tidak... harusnya Diandra tahu dan ingat betul bahwa sejak dulu usahanya untuk selalu mengerjai bujang lapuk ini selalu gagal total!
Dengan gemas Diandra akhirnya mengangkat panggilan video itu, bisa dia lihat dengan jelas wajah itu memenuhi layar ponsel, sebuah wajah yang entah mengapa selalu membuat Diandra tertegun ketika menatapnya baik secara langsung atau tidak langsung macam ini.
"Dian saya sudah katakan berkali-kali sama kamu ya, kalau kamu nekat kabur saya bakalan cari kamu sampai ke ujung dunia sekalipun," ucap Gavin.
Kembali kalimat itu yang Diandra dengar, entah sudah yang ke berapa kali yang jelas Diandra sudah bosan mendengar kalimat itu.
"Iya,, iya saya tahu Dok, lagian Dokter nggak bisa lihat nih saya di mana? noh di samping saya ada Kiki lagi tidur," gumam Diandra kesal.
Nampak wajah yang semula begitu kaku dan masam itu melunak, sorot matanya me lembut membuat desir lain muncul di relung hati paling dalam Diandra, dia kenapa sih?
"Nggak bisa tidur juga?" tanya Gavin kemudian.
Diandra mengangguk pelan, matanya masih menatap wajah yang memenuhi layar ponsel, kenapa dia jadi betah menikmati wajah itu, padahal biasanya hanya dengar nama Gavin disebut saja Diandra sudah ilfeel setengah mati.
"Sama saya juga Dian," ucap Gavin jujur membuat senyum Diandra entah mengapa refleks tersungging di wajahnya.
"Kenapa nggak bisa tidur?" tanya Diandra dengan suara yang begitu lembut.
"Entah,," nampak Gavin melirik ke atas, entah ada apa di langit-langit kamar hotel yang dia gunakan untuk menginap, Diandra sendiri tidak tahu.
"Nggak sabar aja buat besok, Dian," ucap Gavin.
DEGH!!!
Nggak sabar? nggak sabar buat apa jangan bilang kalau...
"Entah kamu merasakan ini juga atau tidak, jujur saya bahagia Dian,, bahagia banget," ucap Gavin.
__ADS_1