Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Sebahagia kita selamanya!!!


__ADS_3

Gavin merebahkan tubuh di atas ranjang, dia sudah kembali ke rumah setelah acara makan malam bersama Diandra dan kedua orang tua Diandra selesai.


Gavin menatap langit-langit kamarnya, membayangkan obrolan demi obrolannya bersama Diandra ketika mereka hanya berdua saja di mobil.


Sebegitu kuat keinginan Diandra agar Gavin tidak menyentuhnya, tidak peduli status mereka nantinya adalah sepasang suami istri, apakah sebegitu tidak sukanya Diandra pada Gavin jadi dia tetap kekeuh nanti minta cerai dari Gavin sesuai kesepakatan?


Gavin mendesah panjang, hatinya perih mengingat jujur dia sudah jatuh hati pada Diandra dan jangan lupakan segala macam harapan dan janji Gavin yang dia ucapkan pada Darmawan ketika duduk di puncak Hargo Dumilah dulu.


"Dian, kalau aku aja mulai suka sama kamu kenapa kamu masih begitu kesal dan benci sama aku, Dian?" Gavin bergumam sendiri berharap Diandra bisa mendengar ucapannya ini, ya walaupun mustahil Diandra bisa mendengarnya.


Mungkin Gavin terlalu gengsi juga memperlihatkan perasaannya pada Diandra, tapi itu bukan salah Gavin juga, Diandra yang menyebalkan membuat dia kadang naik darah dan lupa pada semua rencana manis yang dia susun dalam upaya meluluhkan hati Diandra.


"Dua tahun hidup serumah? jujur aku nggak bisa jamin kalau aku bakalan benar kuat nggak ngapa-ngapain kamu, Dian! kamu terlalu indah buat diabaikan begitu saja," ucap Gavin.


Ya bagaimana bisa kuat kalau lihat leher dan cium aroma khas dari tubuh Diandra saja Gavin tidak karu-karuan dibuatnya, apalagi nanti kalau mereka tidur seranjang berdua.


Ah sialan!!!


Gavin mengumpat dalam hati ketika panas itu menjalar dalam tubuhnya, dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, bangkit lalu duduk di tepi ranjang mencoba mengendalikan diri, dipejamkan mata erat-erat, sialnya bukannya tenang tapi bayangan Diandra malah datang. Lengkap dengan mengenakan benda-benda lucu yang Gavin tak sengaja lihat di dalam koper Diandra kala itu, Gavin mengeram bergegas bangkit lalu melangkah menuju kamar mandi, dia harus segera mandi atau kalau tidak Gavin tidak akan pernah bisa tidur malam ini.


"Entah kapan nanti, aku pastikan kamu akan bertekuk lutut di depanku, Dian," ucap Gavin.


##############


"Pa seriusan nih Papa udah ikhlas Diandra dinikahin orang?" Diandra sudah dalam balutan piyama memeluk lengan Darmawan yang berbaring di atas ranjang kamar kosnya.

__ADS_1


"Why not? Gavin qualified banget, Dian, nggak bisa dilewatkan begitu saja," ucap Darmawan.


"Benar tuh Dian, mana udah spesialis setidaknya kamu nggak perlu mati-matian berjuang nemenin dia PPDS yang kau tahu sendiri dunia PPDS itu kayak apa," ucap Dina.


Dina yang tengah membersihkan wajah di depan meja rias Diandra ikut menimpali, membuat Diandra kembali mendesah panjang, fix! tidak ada yang bisa diharapkan membela, semua pro Gavin!!!


"Gavin udah janji sama Papa kalau dia bakalan support pendidikan kamu bahkan sampai kamu spesialis nanti," ucap Darmawan.


Diandra kembali mendesah, ini artinya dia sudah tidak lagi bisa berkutik sama sekali, Diandra mempererat pelukannya, kapan lagi dia bisa tidur memeluk Papanya, setelah ini dia akan pindah tidur bersama dengan... Astaga! apakah memang takdir dia harus sejelek ini? menikah dengan dosen killer dan menyebalkan di kampus? kenapa kisah hidupnya macam cerita novel begini sih?


"Ingat Dian, setelah ijab qobul di ucapkan, maka semua tanggung jawab atas kamu sudah berpindah ke suami kamu, jadi ingat betul-betul bahwa kamu harus hormati suami kamu, seperti ketika kamu menghormati Papamu ini," ucap Darmawan.


Diandra mencoba untuk tidak mendengar, pura-pura tidak dengar perihal nasehat pernikahan yang Papanya ucapkan pada Diandra, tetapi telinga Diandra tetap saja menangkap dan membawa data itu ke dalam otak.


"Gavin itu laki-laki yang baik Dian, beruntung kamu dapat calon suami macam Gavin," ucap Darmawan lagi.


Jangan lupakan kata-kata Darmawan yang mengatakan bahwa Diandra beruntung mendapatkan Gavin sebagai calon suami, tidak tahukah Darmawan bahwa yang dia katakan beruntung bagi Diandra adalah sebuah kesialan yang teramat sangat efektif mulut lemes Diandra.


"Benar tuh, Dian, kalau bukan Gavin nih yang kemarin nemuin Papa dan minta kamu, mana mungkin papa bolehin karena Gavin yah Papa mau, akhirnya ACC," ucap Dina.


Diandra sontak lemas! ya Tuhan kenapa begini amat sih nasib Diandra, jadi sudah fix dia beneran bakalan nikah sama Gavin, jadi istri lelaki itu, ya salam!!!


Tenang Dian, cuma dua tahun, setelah itu kau akan bebas! bebas!!! batin Diandra.


Diandra mempererat pelukannya, seakan tidak mau lepas dari Darmawan malam ini tidak menghiraukan semua tanggapan dan pandangan kedua orang tuanya perihal Gavin dia sudah cukup pening memikirkan nasibnya, memikirkan bagaimana nanti kehidupannya setelah menikah dengan Gavin.

__ADS_1


Apakah dia nanti masih tetap waras?


#############


"Mimpi apa sih harus secepat ini melepas dia Pa," desis Dina sambil mengelus lembut rambut Diandra yang sudah terlelap dalam pelukan Papanya.


Darmawan tersenyum membetulkan rambut Diandra yang berantakan menutupi wajah.


"Kayaknya baru kemarin kamu nangis-nangis tespek kamu positif lagi, eh nggak tahunya bayi yang dulu bikin kita kalang kabut sekarang sudah mau dinikahin orang," Darmawan tentu masih ingat saat itu mereka berdua sudah memutuskan hanya akan memiliki dua anak saja dan tragedi itu terjadi.


Dina beberapa hari selalu muntah-muntah, tiap cium bau makanan pasti selalu muntah, telat datang bulan yang semula Dina pikir efek stres tengah menjalani PPDS nya, tetapi setelah dicek ternyata dia telat datang bulan bukan karena stres tapi karena hamil.


Dina bahkan sampai satu minggu penuh mendiamkan Darmawan, hamil dalam masa dia harus PPDS tingkat akhir sama sekali tidak pernah Dina bayangkan.


"Nggak nyangka ya kehamilan yang sampai bikin kita berdua makin stress itu, bikin keinginan kita punya anak perempuan kesampaian," Dina ikut tersenyum, mungkin malam ini adalah malam terakhir mereka bisa ngeloni Diandra macam ini, setelahnya lebih tepatnya setelah Gavin menjawab qobul dari Darmawan maka Diandra otomatis jadi milik lelaki itu, sampai akhir hayat mereka.


"Kan apa aku bilang dulu, kamu sempat nggak percaya sih pakai ngambek seminggu full mogok ngomong gitu," Darmawan yang masih belum terima.


Ketawa Dina sontak pecah, rupanya Darmawan juga masih ingat saat itu sungguh lucu sekali kalau mereka flashback ke masa di mana anak-anak masih kecil.


"Masih ingat rupanya?" tanya Dina sambil menatap dalam-dalam mata sang suami.


"Tentulah aku masih ingat," hampir saja Darmawan berteriak, kalau saja dia ingat Diandra sedang lelapnya tidur.


"Seminggu penuh penderitaan itu mana bisa aku lupa," ucap Darmawan.

__ADS_1


Tawa mereka kembali pecah, mata mereka bertemu saling pandang dengan sorot begitu lembut.


"Aku harap mereka kalau bisa seperti kita, sebahagia kita selamanya,"


__ADS_2