
Drian mendesah, menutupi wajahnya dengan tangan lalu bangkit dari ranjang mess yang dia tempati selama dia dinas di sini, dia sudah pulang jaga dan langsung dipusingkan dengan curhatan Derren perihal sang adik, siapa lagi kalau bukan Diandra?
Drian menatap nanar bingkai foto keluarga mereka yang sengaja Drian tempel di tembok, foto dia, Bang Dino dan istrinya, Mama, Papa dan tidak lupa Diandra yang saat foto diambil masih mahasiswi fakultas kedokteran semester satu, di mana saat itu hanya Diandra yang tidak pakai snelli, agaknya setelah ini foto itu harus Drian ganti keluarga mereka sudah bertambah seorang siapa lagi kalau bukan suami Diandra?
Mendadak Drian mengumpat, itu artinya dari semua yang ada di foto itu tinggal Drian sendiri yang masih jomblo.
"Ya Allah punya adik satu aja nggak ada akhlak!" gerutu Drian kesal, tentu dia tahu setelah ini tekanan keluarga melalui pertanyaan kapan nikah? calonmu mana Drian? akan semakin kuat dan merajalela.
Drian mengusap wajahnya, obrolannya dengan Derren beberapa saat yang lalu langsung membuatnya sakit kepala, tentu sebagai teman dekat dan sahabat, Drian tahu betul bagaimana perasaan yang Derren punya untuk adiknya, hanya saja sejak dulu Diandra sudah nampak tidak tertarik dengan Derren.
"Aku tahu kamu sahabat baik aku sendiri, Derren. Tapi bagaimanapun Diandra itu adik kandungku dan kamu harusnya juga tahu kemana aku bakalan berpihak," Drian menatap foto Diandra dalam bingkai itu.
"Kamu emang Adik nggak ada akhlak, Adik paling ngeselin di seluruh dunia, tapi Abang yang kau panggil ****** ini nggak bakalan diam saja kalau ada yang macam-macam sama kamu, Dian. Abang sayang sama kamu" ucap Drian.
Drian tersenyum teringat kenangan mereka berdua semasa kecil, kenangan yang begitu absurd dan menggelikan karena telinga Drian ini pasti jadi langganan jeweran sang Mama karena selalu menggoda sang adik dan tidak akan berhenti kalau Diandra kecil yang dulu berpipi gembul itu menangis meraung-raung.
Drian sendiri tidak menyangka adiknya yang dulu bongsor dan berpipi gembul itu berubah begitu cantik menggemaskan ketika remaja, hal yang membuat teman-teman SMA Drian dulu begitu bersemangat main ke rumah Drian, hanya demi say hello atau melihat wajah Diandra.
"Kamu beruntung Gavin! agaknya kamu harus benar-benar tepati janji buat jaga dan sayang sama Diandra, nggak tau aja kan kamu berapa teman aku yang tergila-gila sama dia? heran aku kenapa bisa? dia pakai ajian apa sih? Abangnya ini aja nggak laku-laku," desis Drian merana.
Drian kembali merebahkan tubuh di atas ranjang. Kira-kira Derren akan melakukan apa? apakah dia akan nekat melakukan sesuatu yang mengancam rumah tangga Diandra? atau bagaimana? dan Drian... bagaimana Drian melindungi Diandra kalau jarak mereka cukup jauh, Drian memejamkan mata mendadak kepalanya menjadi pusing namun satu yang jelas adalah Drian harus memberitahu Diandra tentang Derren, Drian harus peringatkan Diandra karena mungkin hanya itu satu-satunya cara yang bisa dia lakukan sekarang.
#########
"Bu serius mau ke Solo?" Ari tentu tidak terima, bukan apa-apa dia tahu betul watak dan perangai sang istri pasti pengantin baru itu akan terganggu dengan hadirnya Mira di sana.
"Seriuslah! mau mantau mereka sampai mana proses bikin cucunya," jawab Mira santai sambil memasukkan baju ke dalam koper.
Mata Ari membulat, sudah begitu ngebet kah istrinya ini ingin cucu dari Gavin?
__ADS_1
"Ibu mau ngeliatin dan ngawasin mereka secara langsung pas proses bikinnya gitu?" sungguh Ari sendiri tidak mengerti kenapa istrinya selalu over terhadap anak-anak mereka, apalagi si bungsu Gavin.
"Ya nggaklah Pak, masa iya mau lihatin mereka pas lagi anu-anu, mergokin mereka ciuman aja Ibu malunya setengah mati," cerocos Mira panjang lebar.
Ari mendengus perlahan.
"Siapa suruh masuk kamar orang nggak ketok pintu dulu, untung mereka cuma ciuman kalau lagi kuda-kudaan? ganggu Bu!" ucap Ari.
Tawa Mira pecah, dia terbahak sambil menutup kopernya, segala macam keperluan dan baju ganti sudah masuk ke dalam koper dia sudah benar-benar siap berangkat sekarang.
"Ya maaf, udah kebiasaan kalau masuk kamar Gavin tinggal masuk," Mira menurunkan kopernya dari kasur mendorongnya mendekati pintu.
"Nggak besok-besok aja nih Bu ke Solo nya?" Ari mencoba nego, tentu dia kasihan pada pengantin baru itu kalau istrinya benar ke sana.
Mira menggeleng cepat, sebuah tanda bahwa dia sama sekali tidak ingin dibantah kali ini, dia sudah bulat niat untuk pergi ke Solo, hal yang benar-benar membuat Ari kasihan pada anak bungsunya itu.
Nah benar kan?
Ari menghela nafas panjang, mengangguk pasrah karena sejak dulu dia sama sekali tidak berkutik kalau harus berhadapan dengan istrinya ini, dia lantas meraih ponsel yang tergeletak di atas meja.
"Biar Bapak hubungi, Gavin..."
"Jangan Pak, jangan kasih tau Gavin kalau Ibu mau ke sana, biar jadi kejutan!" ucap Mira cepat.
Ari tertegun, bukan hanya terkejut mungkin Gavin akan bablas pingsan begitu Mira sampai sana dan muncul di depan pintu. Ah sekali lagi Ari benar-benar kasihan pada anak bontotnya, telat nikah sampai setua itu dan masa pengantin baru harus diganggu ibunya, sungguh malang nian si Gavin ini. Untung saja dia dapat istri cantik dan masih muda macam Diandra itu, kalau tidak? tidak bisa Ari bayangkan!
"Mau berapa lama di sana Bu? jangan bilang kalau di sana nunggu sampai Diandra hamil?" Ari kembali meletakkan ponselnya, biarlah Gavin terkejut sekalian saja bukan?
"Ya enggak atuh! palingan seminggu," jawab Mira.
__ADS_1
Ari terkejut, matanya membulat menatap sang istri, apa tadi Mira bilang?
"Bu, lama banget dah sekalian aja nungguin sampai Diandra hamil, entar Ibu pulang tinggal mikir bikin acara tujuh bulanan," gerutu Ari gemas.
"Ye... kalau mau nunggu selama itu nanti Bapak temannya siapa? kalau ada mah beneran bakalan Ibu tungguin sampai itu si Diandra hamil," ucap Mira.
Ya salam!!!
Kenapa Mira tidak paham kalimat sarkas yang Ari lontarkan, Ari menyerah, terserah sajalah mau berapa lama istrinya di sana, yang jelas untuk sekarang rasanya Ari ingin tidur lebih cepat daripada dia sakit kepala.
"Pak besok antarin ke stasiun yah?" suara itu kembali terdengar ketika Ari hampir saja terlelap.
"Hmmm..."
Ari hanya bergumam tanpa Mira minta pastilah dia yang akan mengantar Mira ke stasiun kalau bukan Ari siapa lagi?
"Serius nih! besok jam tujuh pagi udah harus sampai sana Pak," ucap Mira lagi.
Ari memaksa matanya kembali terbuka, menatap Mira yang duduk di tepi ranjang.
"Kalau begitu daripada ngomong terus dari tadi kenapa nggak tidur aja, harus berangkat pagi kan besok?" ucap Ari.
Mira tersenyum, dia lantas merebahkan tubuh di atas ranjang, menatap langit-langit kamar sambil memikirkan sesuatu.
"Kira-kira beneran bisa kembar nggak, Pak? Ibu beneran pengen punya cucu kembar!" desis Mira kemudian, sementara Ari mati-matian berusaha memejamkan mata.
"Bayangkan nanti kembar cewek semua, pakai baju kembar, pakai..."
Ari sudah tidak dapat mendengar apapun lagi, matanya sudah teramat berat, suara itu berubah lirih dan samar hingga kemudian suara itu menghilang, lenyap bersamaan dengan mata Ari yang sudah terpejam erat.
__ADS_1