Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Tertunda!


__ADS_3

Entah keberanian dari mana Diandra sendiri tidak tahu yang jelas kini dia begitu berani membalas pangutan bibir itu, bibir mereka bertaut beberapa saat hingga kemudian Gavin melepaskan pangutan bibir mereka, masih dengan jarak yang begitu dekat menatap mata Diandra.


"Bilang kalau kamu nggak bakalan ninggalin aku, Dian?" desis Gavin lirih.


Bisa Diandra lihat bibir itu makin merah mengkilap sedikit basah dan entah mengapa terlihat sangat menggemaskan di mata Diandra.


"Ya," jawab Diandra dengan jantung berdegup dua kali lebih cepat.


Gavin kembali mengecup bibir yang membuat Diandra kembali memejamkan mata dan hampir memekik ketika Gavin lantas mengangkat tubuhnya, mau dibawa kemana? Diandra mencengkram kuat lengan Gavin ketika tubuhnya dibaringkan dengan begitu lembut di atas ranjang.


Gavin tidak lagi banyak bicara, tidak mengizinkan Diandra bicara, karena dia langsung membungkam bibir Diandra dengan bibirnya, Diandra terkejut ketika tubuh itu kembali menindihnya, menjalarkan sensasi panas hampir ke seluruh tubuh Diandra.


Diandra menggeleng, memberi kode agar Gavin melepaskan bibirnya, hal yang langsung disadari oleh lelaki itu hingga dia menarik wajahnya.


"Kamu belum bisa nerima aku, Dian?" tanya Gavin dengan tatapan sendu.


"Bukan itu Mas," ucap Diandra sambil menghirup udara banyak-banyak.


"Aku hampir nggak bisa napas, kamu mau membunuhku?" ucap Diandra gemas.


Mata Gavin membulat, sedetik kemudian tawanya pecah, dia menjatuhkan kepalanya di dada Diandra, sebuah keberanian karena Gavin sendiri belum tahu sejatinya apakah Diandra sudah benar-benar bisa menerimanya atau belum, namun agaknya Gavin boleh bersenang hati karena Diandra sama sekali tidak protes dengan apa yang dia lakukan, tangan itu malah dengan lembut membelai rambut Gavin, membuat senyum itu tidak mau pergi dari wajah Gavin yang biasanya angker dan sok cool.


"Udah bisa napas kan?" Gavin mengangkat kepalanya menatap Diandra yang wajahnya merah padam.


"Memang kenapa?" bibir itu sedikit bengkak dan memerah membuat Gavin rasanya ingin kembali menciumnya, menyesap bibir beraroma cherry yang begitu manis.


"Mau cium lagi lah!" tangan Gavin terulur, mencubit gemas hidung Diandra membuat si pemilik hidung lantas menangkis tangannya dengan tepukan keras.


"Dasar om om mesum," ejek Diandra membuat mata Gavin membulat.


Om-om katanya?


Gavin segera bangkit hanya mengangkat setengah tubuhnya dan menatap ke dalam mata Diandra, sungguh Diandra terlihat begitu lain ketika sedang seperti ini, membuat Gavin rasanya sudah tidak sanggup lagi menahan semuanya.


"Mau tau gimana om-om mesum kalau udah jatuh cinta, Dian?" ucap Gavin.

__ADS_1


Nampak wajah itu terkejut, membuat Gavin buru-buru meraih tangan Diandra dan mengunci tangan itu di atas kepala, jika sebelum-sebelumnya dia bisa mengendalikan diri dan gairahnya, maka malam ini Gavin benar-benar sudah tidak sanggup lagi, dia akan terima apapun konsekuensinya nanti yang jelas untuk saat ini dia akan menuntaskan semuanya hingga tidak tersisa.


"Mas," nampak wajah itu memucat suaranya bergetar.


Gavin mendekatkan wajahnya, hingga ujung hidung mereka kini bersentuhan.


"Kenapa?" suara Gavin begitu lirih dengan nafas memburu yang bisa Diandra rasakan menyapa wajahnya dengan begitu hangat.


"A... aku takut," ucap Diandra apa adanya, sebuah kalimat yang begitu polos dan sederhana yang makin membuat Gavin gemas.


Gavin tersenyum, mencium bibir itu sekilas lalu mendekatkan wajah tepat ke telinga sang istrinya.


"Cukup rileks! tenang dan percaya padaku aku janji pelan-pelan," bisik Gavin begitu lirih dan sensual.


Diandra nampak menggelinjang, hembusan napas di leher dan belakang telinganya menimbulkan sensasi luar biasa aneh yang mampu menggetarkan seluruh tubuhnya.


Diandra memejamkan matanya erat-erat ketika Gavin mencium bibirnya dengan sangat lembut, satu tangan itu bahkan bisa Diandra rasakan melepas kuncian tangan di atas kepala menyusup ke dalam atasan piyamanya dan membuat Diandra makin tidak karu-karuan.


############


Atas piyama yang terlihat tidak menarik di mata Gavin sudah terbuka kancingnya, memperlihatkan sesuatu yang mampu membuat Gavin makin gila disiksa gairahnya sendiri.


"Dian, aku nggak kuat serius," ucap Gavin.


"Janji pe..."


"Vin, dicariin teman-teman SMP mu tuh,"


Gavin sontak mendesah panjang mendengar suara panggilan itu, kembali dia langsung lemas, jatuh di atas tubuh Diandra dengan muka masam.


Sementara Diandra lantas terkekeh, mengelus lembut kepala sang suami lalu berbisik jahil.


"Sana temuin dulu, lanjut nanti deh," bisik Diandra lirih.


Gavin mengangkat kepalanya menatap wajah yang tersenyum merekah itu dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


"Oke kali ini kamu masih bisa lolos, tapi nanti malam? jangan harap!" ancam Gavin lalu bangkit dan meraih kaosnya.


"Vin, belum tidur kan?" suara itu kembali terdengar berbarengan dengan ketukan pintu.


"Belum Bu! sebentar," Gavin nampak menyisir rambutnya yang berantakan, meraih tisu guna menyeka keringat yang mengucur efek aktivitas semi intim yang tadi dia lakukan, baru saling menikmati bibir sih tapi kalau Diandra sudah berani membalas serangannya, itu makin membakar Gavin dengan begitu luar biasa, terlebih pemandangan apa yang Gavin lihat di balik baju itu...


"Ayo Dian, ikut keluar," ucap Gavin.


Diandra tersentak menatap Gavin yang tengah menatapnya dari tempatnya berdiri.


"Loh aku juga ikut keluar?" tanyanya dengan begitu polos.


Gavin sontak menepuk jidatnya dengan gemas menatap sang istri yang masih nampak begitu polos menanyakan hal yang seharusnya tidak dia tanyakan.


"Ya iyalah, Dian. Aku nikahnya sama siapa coba? mereka ke sini kan dalam rangka kasih selamat buat kita, masa iya aku sendirian sih!" ucap Gavin.


Bisa Gavin lihat wajah itu sontak nyengir lebar, ponsel yang tadi ditangan dia letakkan di nakas, turun dari kasur lalu melangkah mendekati Gavin.


"Oke kita keluar!" ujarnya sambil melangkah mendekati pintu.


Gavin buru-buru mencekal tangan istrinya sebelum dia melangkah keluar dari kamar, Diandra menatap sang suami dengan alis berkerut.


"Apalagi sih Mas?" wajah itu nampak gemas menatap Gavin membuat Gavin lantas menarik Diandra dan memaksanya menatap bayangan diri di cermin.


"Bisa kamu lihat, kamu kayak habis diperkosa, sisiran dulu kenapa sih," tanpa meminta izin Gavin mengancingkan beberapa kancing baju Diandra yang tadi berhasil dia buka.


"Perbuatan siapa sih? heh?" Diandra menimpuk tangan Gavin yang dengan begitu kurang ajarnya menyentuh miliknya di balik atasan piyama itu, membuat tangan kekar itu berpindah memeluk perut.


"Bisa minggir dulu nggak?" ucap Diandra.


Diandra tidak bisa menyisir rambutnya yang berantakan kalau mantan bujang lapuk ini tidak menyingkir darinya, kenapa kelakuan lelaki ini masih absurd aja sih? kemana sikap romantisnya tadi?


"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?" tantang Gavin yang belum melepaskan pelukan itu.


"Fine! jangan harap aku ma..."

__ADS_1


"Gavin kalian ngapain sih? ditungguin itu loh, turun dulu ke bawah kenapa sih, lanjut nanti kelonnya, Vin,"


__ADS_2