
Diandra tercekat, lidahnya mendadak kelu, mata itu masih begitu dalam menatap langsung ke matanya, kedua tangannya dikunci Gavin di atas kepala, mereka sudah tidak lagi berjarak hanya terpisah piyama yang Diandra kenakan, jantung Diandra berdegup dua kali lebih cepat terlebih ketika wajah itu makin dekat.
Diandra memejamkan matanya rapat-rapat, apakah semuanya akan berakhir malam ini? apakah janji yang Gavin ucapkan kemarin hanya buaian semata? hanya pancingan dan jebakan agar Diandra mau dia nikahi?
'Ma.... tolong!"
#############
Jantung Gavin berdegup tidak karuan, bukan hanya dia, Diandra pun sama, tanpa perlu stetoskop Gavin bisa merasakan dan mendengar degup itu saking dekatnya jarak mereka sekarang.
Gavin yang semula sudah bisa mengendalikan diri dan hasratnya, kini kembali membara hanya karena video yang tidak sengaja dia lihat di ponsel Diandra, video yang bahkan sampai sekarang masih ribut mengeluarkan suara-suara erotis tetapi juga Diandra yang kini pasrah di bawah kungkungan tubuhnya seperti sekarang.
Gavin memaki dalam hati ketika Diandra malah memejamkan matanya membuat Gavin untuk kedua kalinya dalam hari ini meraih bibir merona itu dan memangutnya dengan begitu lembut, sangat lembut!
Gavin bisa merasakan aroma cherry di bibir itu. Apa ini yang namanya lipbalm? food grade, kan? aman kalau tertelan? atau bagaimana? tapi hasrat dan gairah Gavin lantas melupakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kalau lipbalm itu punya efek samping jika tertelan,, dengan begitu posesif Gavin terus menikmati bibir itu, menciumnya dengan begitu lembut dan sedikit liar.
Diandra belum bereaksi, dia belum menampakkan penolakan membuat Gavin perlahan-lahan melepaskan kuncian tangan dan meraup dagu Diandra dengan satu tangannya.
Ciumannya makin dalam makin intens dan makin bergelora, sekian detik bibir mereka beradu, Gavin perlahan-lahan melepaskan pangutan bibir mereka, membuat mata itu perlahan terbuka dan menatap ke dalam matanya.
Gavin belum mau menyingkir dari atas tubuh itu, belum mau menarik wajahnya dari depan wajah Diandra, mereka membeku di tempat saling tatap dan saling larut dalam pikiran masing-masing.
Gavin tersenyum jemarinya mengelus pipi lembut Diandra, kembali memangut bibir itu untuk ketiga kalinya, Gavin pun sudah melepaskan kuncian tangan Diandra, apakah gadis itu kemudian akan mendorong dan menyingkirkan dirinya dari atas tubuhnya?
Benar saja!
__ADS_1
Gavin masih sangat menikmati penyatuan bibir mereka, ketika tangan Diandra mendorong dadanya, membuat pangutan bibir mereka terlepas, mata Gavin menatap nanar mata merah itu, nampak terlihat mata itu menahan tangis.
"Dok, please jangan," ucap Diandra
Sebuah kalimat yang mampu memadamkan seketika gairah membara Gavin yang sudah berada di ubun-ubun, Gavin sontak lemas, bergerak mengangkat tubuhnya dan menjatuhkan diri di ranjang sambil menutup wajah dengan kedua tangan, nafasnya terengah dan perlahan-lahan dia mulai mendengar suara isak tangis.
Gavin menoleh, mendapati Diandra membelakangi dirinya dengan bahu naik turun, dia menangis! Gavin sudah melakukan sebuah kesalahan, Gavin menghela nafas panjang, menggeser tubuhnya hingga mendekati Diandra, dengan lembut Gavin meraih bahu Diandra, membawa tubuh terisak itu dalam pelukan, tampak tangan Diandra berusaha melepaskan diri, namun Gavin lebih kuat, dia memeluk erat-erat tubuh mungil itu tidak peduli Diandra memaksa melepaskan diri.
"Saya minta maaf, Dian. Saya nggak bermaksud buat kurang ajar sama kamu," desis Gavin lirih.
Tapi apa salahnya? Gavin mencium istrinya sendiri beberapa saat yang lalu! di mana letak salahnya sampai Gavin mengatakan kalau tindakannya barusan itu kurang ajar?
Diandra belum menjawab, dia masih terisak dalam pelukan itu, tidak lagi berusaha memberontak karena semua usahanya sia-sia, tenaganya tidak cukup kuat melawan tenaga Gavin yang memeluknya begitu erat dan posesif.
"Dian, udah nangisnya yah, saya minta maaf, Dian," kembali Gavin berbisik, hati Gavin sejujurnya pedih, tapi mau bagaimana lagi dia tidak mau membuat Diandra makin membencinya.
"Iya saya tahu oleh karena itu saya minta maaf, ini tidak akan terulang lagi, saya janji!" ucap Gavin.
Apakah Diandra akan percaya akan janjinya? dia baru saja hampir mengingkari janji yang dulu Gavin buat dan sekarang Gavin mau kembali mengumbar janji? tidak tahu malu!
Diandra tidak menjawab, hanya suara isak tangisnya yang tertangkap di telinga Gavin, membuat Gavin mendesah panjang lalu pelan-pelan melepaskan pelukannya itu.
"Perlu saya pindah kamar supaya kamu tidak takut lagi, Dian?" tanya Gavin karena Gavin tidak bisa mendengar secara terus-menerus suara tangis itu, jadi dia akan melakukan apapun demi menghentikan isak yang begitu menyayat hatinya.
Bisa dia lihat Diandra menggeleng membuat sedikit perasaan lega muncul di hati Gavin, setidaknya Diandra tidak mengusirnya bukan? Gavin tersenyum bangkit dari ranjang dan meraih kembali handuk yang tadi dia letakkan sembarangan.
__ADS_1
"Saya mau mandi lagi, Dian. Panas banget rasanya, kamu tidur saja dulu," Gavin melangkah menuju kamar mandi, dia hendak menutup pintu ketika kemudian Gavin teringat sesuatu
"Jangan lupa matikan video itu, tolong! Dia hampir saja membuat saya lupa diri," ucap Gavin.
################
Diandra menyeka air matanya, tangan Diandra terulur meraih ponsel yang masih memutar video asusila itu, dia segera mematikan videonya sekalian dengan daya ponsel dia matikan, Diandra kembali terisak setelah meletakkan ponselnya.
Hampir saja!
Diandra hampir saja kehilangan segalanya malam ini, bayangan bagaimana Gavin kembali menciumnya setelah acara resepsi mereka kembali terbayang, baru beberapa menit yang lalu bukan? sebuah ciuman yang begitu lembut, posesif dan sedikit liar.
Ciuman yang membuat tubuh Diandra meremang seketika! menyalurkan panas ke sekujur tubuhnya ketika bibir mereka bertaut tadi.
"Calm Dian, keep calm!" Diandra memejamkan mata, membiarkan air mata menitik dari pelupuk mata.
Diandra begitu takut, bukan hanya takut pada Gavin tetapi juga pada dirinya sendiri! Diandra takut dia terbuai sentuhan sesaat, lupa diri dan pasrah melakukan apapun dengan Gavin! dia hampir saja lupa diri dengan sentuhan suaminya, membiarkan tubuhnya menginginkan lebih dan lebih!
Ini tidak boleh! tidak peduli dia dan Gavin sudah menikah sekalipun, ini bukan pernikahan impiannya, bukan dengan Gavin, Diandra ingin menikah dan mereka terpaksa menikah karena suatu hal bukan?
Sejenak Diandra tertegun, benarkah dia tidak menginginkan Gavin sebagai suami? lalu apa perasaan aneh dan desiran kagum Diandra ketika melihat secara dekat? dan ketika Gavin memeluknya tadi, kenapa rasanya begitu nyaman, begitu hangat seperti ketika Darmawan memeluk dirinya, apa arti semua ini?
"Dian, kamu kenapa, Dian?" Diandra tidak mengerti dengan dirinya sendiri, ada apa dengan dirinya?
Sementara Diandra sibuk memahami perasaan dan dirinya, Gavin kembali berendam di dalam bathtub, kali ini bahkan tidak hanya berendam tetapi juga menangis tanpa suara.
__ADS_1
Kenapa dia begitu lemah? kenapa begitu sulit mengatakan pada Diandra bahwa dia mencintai Diandra? kenapa?