
"Biar nanti Mas ngomong sama ibu, oke? kamu jangan khawatir," bisik Gavin sabar, tangannya mengelus kepala istrinya penuh kasih.
"Kenapa nggak sekalian tadi ngomongnya?" protes Diandra yang nampak anteng dalam dekapan tubuh Gavin, dia melirik sang suami, kan bisa tadi Gavin bicara terus terang perihal ketidaksiapan Diandra jika disuruh hamil di saat-saat ini.
Gavin tersenyum, menjatuhkan beberapa kecupan mesra di puncak kepala Diandra, dia mempererat pelukannya, sebuah pelukan hangat yang sangat Diandra sukai.
"Ibu itu lain sayang, suamimu ini sudah jadi anaknya selama tiga puluh lima tahun, meskipun sejak lulus SMA sampai menikahi kamu ini Mas sudah mandiri, lepas dari rumah tapi Mas tentu masih hafal dan tahu betul bagaimana cara menghadapi Ibu, percaya pokoknya sama suamimu ini yah?" ucap Gavin.
Diandra tersenyum, dia masih belum percaya dosen yang dulunya sering bicara dengan nada jutek dan ketus kepadanya bisa bicara dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang seperti ini, hanya Diandra yang tahu bukan? mahasiswinya mana ada! Diandra balas memeluk tubuh itu, kenapa sekarang rasanya dia sama sekali tidak ingin jauh dari suaminya ini?
"Ngomong-ngomong sayang..." Gavin tidak melanjutkan kalimatnya.
Diandra melirik, apa yang ingin suaminya katakan? kenapa dia nampak ragu, Diandra tidak ingin melepaskan diri begitu saja, dia masih sangat nyaman dalam dekapan ini.
"Kenapa? ada apa?" tanya Diandra malas, dia sedang dalam posisi enak sekarang.
"Kayaknya efek salmonella yang tadi aku telan bereaksi," desis Gavin lirih.
Kini Diandra dengan cepat melepaskan pelukannya, menatap suaminya dengan tatapan terkejut, takut dan cemas.
"Mas mulas? diare? sakit kepala? perutnya keram?" telapak tangan Diandra sontak menempel pada dahi Gavin, sebuah tindakan haram yang sebenarnya tidak boleh dilakukan oleh tenaga medis macam mereka, hal yang dulu Diandra protes ketika Gavin melakukan ini terhadapnya.
Gavin menepis tangan istrinya dengan begitu lembut, menatap gemas wajah panik dan khawatir yang dari tadi tidak lepas menatapnya.
"Bukan begitu sayang, bukan yang itu," Gavin mencebik, kenapa polos sekali istrinya ini?
"Lalu?" Diandra membulatkan mata menatap Gavin dengan tatapan bingung tidak mengerti.
Gavin tidak mensia-siakan kesempatan, dia segera merebahkan tubuh itu ke atas ranjang, merayap ke atasnya dan mulai meraup bibir merona itu dengan begitu lembut, seperti biasa satu tangan Gavin mengunci tangan sang istri di atas kepala dan satunya lagi jangan tanya Gavin gunakan untuk apa tangan satunya itu.
Cukup lama bibir mereka bertaut hingga kemudian Gavin lebih dulu melepaskan pangutan itu setelah beberapa lama, bibir merona sang istri makin memerah, sedikit bengkak dan basah karena ciumannya.
__ADS_1
"You know what what I mean, sayang?" tanya Gavin lirih.
Diandra tersenyum.
"Sejak kapan salmonella bisa menimbulkan efek lain yang seperti itu? apakah aku perlu menghafalnya untuk ujian besok ketika koas, OSCE, dan UKMPPD?" ucap Diandra.
Gavin tertawa.
"Saranku jangan kalau kamu tidak ingin mengulang dan gagal lulus one shoot," ucap Gavin.
Tawa mereka pecah, mereka tertawa dengan ujung hidung bersentuhan, sedetik kemudian Gavin kembali meraup bibir itu, menikmatinya guna membawa sang pemilik pada permainan yang sesungguhnya.
###########
Gavin merasakan tubuhnya begitu lemas, panas dan lengket, baru beberapa detik yang lalu dia menyudahi permainan mereka, bahkan miliknya masih terbenam sempurna di dalam tubuh sang istri, nafasnya masih belum beraturan dan rasanya dia masih terbang di awang-awang.
Gavin segera menarik miliknya, menjatuhkan tubuh ke sisi Diandra, karena dia tahu tubuhnya cukup berat untuk Diandra topang dalam jangka waktu yang lama, nampak sang istri memejamkan mata, bulir keringat membasahi wajah dan tubuh itu membuat tubuhnya yang masih polos itu nampak mengkilap dan terlihat begitu seksi.
"Mandi yuk sayang," tangan Gavin terulur menyeka bulir keringat itu, ada rasa bangga yang tidak bisa Gavin jelaskan ketika melihat Diandra seperti ini akibat perbuatannya beberapa saat yang lalu.
Diandra menggeleng dengan susah payah membuka mata dan membalas tatapan Gavin yang sejak tadi tidak lepas menatap ke seluruh tubuhnya.
"Nggak! aku mau mandi sendiri," tolaknya tegas.
"Mandi sama Mas nanti ujung-ujungnya aku tambah lemas, no way!" ucap Diandra lagi.
Gavin terkekeh, kembali hendak menindih tubuh itu ketika Diandra langsung memiringkan tubuh dan merubah posisinya jadi tengkurap, Gavin mendesah, mencubit gemas bokong Diandra yang nampak lebih berisi sekarang setelah dia nikahi, dulu? rasanya tidak sebesar ini deh!
Diandra mengadu, mengangkat kepala untuk menatap tajam ke arah Gavin, lalu kembali menjatuhkan kepalanya di bantal, mengabaikan Gavin yang nampak masih ingin menggodanya itu.
"Serius nggak ikut Mas mandi nih?" tanya Gavin yang nampak sangat berhasrat sekali menyeret Diandra ke kamar mandi.
__ADS_1
"Nggak! mandi aja sendiri," balas Diandra cuek.
"Yakin?" Gavin masih tidak menyerah.
"Hmmm"
"Mas yang sabuni nanti, apa perlu kita bongkar kamar mandi buat dipasang bathtub?" ucap Gavin.
"Nggak usah nanti fantasi mu makin liar Mas," ucap Diandra.
Pasang bathtub? tidak! Diandra tidak mau masuk angin. Lagipula tempat memadu cinta paling nyaman tentu kasur mereka ini, bukan tempat yang lain-lain lagi.
Tawa Gavin pecah, dia merengkuh tubuh itu mendekapnya erat tidak peduli si pemilik tubuh menyembunyikan wajah dan beberapa bagian favorit Gavin dibawah tubuh yang tengkurap.
"Ayolah badan kamu lengket banget sayang masa nggak mau mandi?" rayu Gavin tidak gentar, bukan Gavin namanya kalau dia menyerah begitu saja, hiking ke Lawu dadakan yang mana itu adalah pengalaman hiking yang pertama Gavin saja dia jabanin demi izin menikah di acc, masa hanya ditolak Diandra untuk mandi bareng saja, Gavin terus mundur?
"Ya aku mandi, tapi nanti mau mandi sendiri," jawab Diandra mulai kesal.
Gavin mengangguk, melepaskan pelukan itu lalu melangkah turun dari kasur, kalau Diandra beranggapan suaminya itu menyerah dan memutuskan untuk mandi sendiri, maka dia salah besar, Gavin membalik tubuh Diandra membawanya dalam gendongan dan melangkahkan kaki ke kamar mandi.
"Mas mau ngapain?" teriak Diandra panik.
"Kan sudah dari tadi Mas bilang kita mau mandi sayang," balas Gavin acuh.
"Yakin cuma mandi?" alis Diandra bertaut, dia sangat tidak yakin.
"Iya kita mandi tapi ya setelah selesai me..."
"Turun!" Diandra mencoba memberontak.
"Aku mau turun!" ucap Diandra lagi.
__ADS_1
Namun sayang sekali di samping Gavin orang yang tidak mudah menyerah, dia juga tidak mau dibantah, dia membawa tubuh Diandra masuk, menutup dan mengunci pintu kamar mandi, baru kemudian menurunkan sang istri, Diandra hendak kabur namun Gavin lebih cepat, di cekalnya tangan itu, di pepetnya tubuh sang istri ketembok, satu tangannya menyalakan shower, lalu tanpa buang waktu Gavin meraup bibir itu, memulai kembali dari awal aktivitas apa yang begitu dia sukai, yang begitu dia gilai.