Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Selamat yah!!!


__ADS_3

Kiki dengan sedikit tergesa melangkah hendak keluar dari gedung rumah sakit. Dia begitu tidak sabar ingin lihat apakah benar Diandra hamil? Ah tidak masalah kan, sebenarnya? Kan Diandra sudah bersuami dan bukankah Kiki sudah tidak sabar ingin dapat ponakan? Kira-kira secantik atau seganteng apa nanti anak mereka? Bapak ibunya bibit unggul semua!


Senyum Kiki merekah, dia hendak melangkah keluar ketika samar-samar dia mendengar obrolan itu. Obrolan yang menyebut nama Gavin dan Diandra.


"Serius? Jadi Dokter Rachel itu mantan pacarnya Dokter Gavin?" Perawat itu tampak asik berghibah, membuat Kiki jadi memperlambat langkahnya.


"Serius! Dia sendiri cerita sama anak-anaknya di poli! Mereka pacaran dari pre-klinik. Putus karena ya Dokter Rachel nya ngaku khilaf terus nikah sama residen di tempat dia internship!"


Deg!


Jantung Kiki rasanya mau lepas. Jadi Dokter cantik itu dan Dokter Gavin...


"Pantas! Habis itu Dokter Gavin betah jomblo di tinggal nikah sama cewek secantik itu,"


Hati Kiki memanas, kenapa rasanya dia yang tidak terima?


"Jangan-jangan nikah sama Diandra itu cuma kepepet?"


KEPEPET?


Dokter Gavin sampai ngancem-ngancem Diandra supaya mau dinikahi dan dengan seenak udel mereka bilang Dokter Gavin cuma kepepet nikahin Diandra?


Mereka tidak tahu saja bagaimana awalnya Diandra menolak mati-matian lelaki itu untuk jadi suaminya! Terus dengan begitu enteng mereka bilang kalau Dokter Gavin yang kepepet?


Rasanya Kiki ingin meremas mulut perawat itu, namun dia tahan, dia masih ingin menguping.


"Aku berani taruhan! Dokter Gavin bakal balikan noh sama Dokter Rachel." Desis salah satu mereka dengan berapi-api.


"Bisa jadi!" Sahut lainnya kompak.


"Gila, Dokter Rachel itu macam bidadari. Kalah lah Diandra sama dia, mana Diandra masih bocah banget, kan?"


Kiki mengepalkan tangan. Kenapa rasanya dia ingin menampar mereka satu persatu? Hati Kiki panas. Dia tidak terima!


"Heran aku, kenapa juga Diandra malah yang Dokter Gavin nikahi? Iya sih Diandra cantik juga, tapi kalau dibanding Dokter Rachel, yah jauhlah!"

__ADS_1


Kiki mengeram, seandainya strata koas tidak berada di tempat paling rendah di rumah sakit, sudah Kiki hajar mereka!


"Dah lah, aku kalo jadi Diandra pilih mundur. Apalagi tahu sendiri Dokter Gavin bahkan hampir bertahun-tahun nggak bisa move on kan? Cinta banget itu pasti sama Dokter Rachel!"


Kiki sudah tidak sanggup lagi. Dia melangkah pergi dengan tangan mengepal.


Hah! Cantikan Dokter Rachel? Kiki akui memang cantik! Bahkan dia memuji Dokter itu karena kecantikan Dokter kulit itu. Hanya saja begitu tahu apa hubungan dia dengan suami sahabatnya, mendadak Kiki menyesal sudah begitu mendewakan kecantikan wanita itu!


"Cantik sih iya, kalau tukang selingkuh dan nggak setia mah buat apa?" Kiki masih tidak terima dengan segala perbincangan yang dia dengar tadi. Lagipula, Dokter Gavin cinta mati kok sama Diandra. Aku tahu sendiri!"


Kiki terus menggerutu, dia hendak belok ke pintu keluar ketika dari sudut matanya dia melihat dua sosok itu nampak berdiri dan berbincang tak jauh darinya.


Untuk kedua kalinya hati Kiki terasa pedih. Rasanya dia seperti ingin mengamuk. Dia tidak terima! Dia tidak tega jika memang benar semua itu terjadi. Terlebih bukankah kemungkinan...


"Diandra...."


#######


Diandra merasakan kepalanya makin pusing. Dia menelungkup di atas meja. Kenapa dia bisa tidak sadar sudah selama itu dia telat? Pantas saja beberapa hari belakangan dia merasa lidahnya begitu pahit. Hipersalivasi dan terkadang mual mencium bau yang terlalu menyengat.


Diandra mendesah. Sudah bisa dipastikan kalau dia benar-benar hamil sekarang! Kenapa secepat ini, sih?


Diandra mengangkat kepala, nampak Ratna, chief residen obsgyn itu menatapnya dengan tatapan panik. Diandra memaksakan diri tersenyum, menggeleng perlahan dan berusaha menutupi kekalutan hatinya.


Ratna bergegas duduk, meraih stetoskop milik Diandra yang tergeletak di atas meja. Dengan lembut dia menarik Diandra bangkit, melirik kasur yang ada di sana untuk tempat istirahat mereka.


"Tiduran gih, kamu pucet banget, Dian!" Titah Ratna tegas. Mata ibu beranak dua itu nampak menatap Diandra dengan saksama, membuat Diandra menelan ludah dengan susah payah lalu melangkah menuruti apa yang Ratna perintahkan.


Diandra pasrah! Apapun nanti yang Ratna katakan perihal kondisinya, Diandra akan dengan lapang dada menerima. Bukan hanya calon Dokter kandungan, Ratna ibu dua orang anak! Agaknya Ratna sudah paham apa yang tengah Diandra alami.


"Dian... Telat berapa minggu?" Tanya Ratna yang masih menempelkan dan serius memeriksa Diandra.


Diandra mendesah, matanya mendadak memerah. Tangisnya siap meledak, namun dia mencoba sekuat tenaga menahan.


"Se-sembilan minggu, Dok." Jawab Diandra terbata.

__ADS_1


"Nah bener!" Ratna melepas stetoskop, meletakkan benda itu di kasur.


"Nanti ketemu Dokter Rian, ya? Ajak suamimu sekalian."


Sebuah senyum begitu manis tersungging di wajah itu. Sebuah senyum yang malah membuat Diandra meledak tangisnya.


"Lah!" Ratna terkejut.


"Kok malah nangis heboh gini?"


Diandra terisak, dia menyeka air matanya.


"Sa-saya belum siap, Dok!" Desis Diandra jujur.


Ratna tersenyum, dia menghela napas panjang.


"Lah kemarin gimana memangnya sama suami apa nggak dibahas, Dian?" Tentu Retno paham apa yang membuat Diandra belum siap. Tidak peduli suaminya sudah bergelar spesialis dengan gaji puluhan juta perbulan.


"Ya kita udah bahas, Dok. Kita udah hati- hati bener dan...." Diandra tidak sanggup lagi buka suara, tangisnya kembali pecah.


"Dokter Gavin nya telat nyabut? Kenapa nggak pakai pil darurat kalau memang belum siap?"


Diandra tidak menjawab, fokus terisak sambil menyeka air mata. Sementara Ratna meraih tangan Diandra, memegang tangan itu sebagai sebuah dukungan moril untuk Dokter koas itu.


"Berarti itu udah rejeki kamu, Dian." Gumam Ratna lirih.


"Bertahun-tahun sekolah dan menggeluti obsgyn, banyak sekali pasangan yang bahkan bertahun-tahun berusaha tapi juga masih belum dikasih, Dian."


Diandra masih terdiam, dia tidak tahu harus bicara apa. Otaknya blank!


"Aku tahu ini berat. Kamu masih harus koas dengan tekanan yang bisa dikatakan cukup berat dan menguras tidak hanya energi tapi juga kewarasan. Tapi kan semisal kamu tidak sanggup, bisa kamu bahas berdua sama suami, kamu cuti dulu atau bagaimana. Intinya semua harus dibicarakan baik-baik."


Diandra mengangguk. Memang setelah ini agaknya dia harus banyak bicara dengan suaminya. Tentu tidak lupa mengajaknya bertemu dengan obsgyn untuk melihat sejauh mana buah cinta mereka ini sudah bertumbuh.


"Intinya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Dian. Ini rejeki. Bicarakan baik-baik dengan suami. Apa yang kamu mau, kamu pengen apa dan lain-lain. Pasti ketemu kok solusinya."

__ADS_1


Diandra memaksakan diri tersenyum, perlahan-lahan dia bangkit, duduk di tepi ranjang tepat di sisi Ratna.


"Selamat ya, Dian. Jaga baik-baik. Kalau ada apa-apa, jangan segan telepon atau tanya ke aku, ya?"


__ADS_2