Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Penasaran namanya!


__ADS_3

"Keterlaluan kamu sayang,"


Gavin menggerutu begitu dia dan istrinya masuk ke dalam kamar, bagaimana nasib dua kuning telur tadi? tentu sudah tandas masuk ke dalam perut Gavin.


"Kamu tahu kan sayang di dalam kuning telur mentah itu ada bakterinya, kenapa kamu tega melihat dan membiarkan suamimu makan itu?" ucap Gavin.


Diandra terkikik, dia menjatuhkan diri ke atas kasur sementara Gavin nampak dia melepaskan atasan scrub nya, duduk di tepi ranjang yang lain sambil mencoba merasakan perutnya yang mual.


"Lah, gimana tadi aku juga dipaksa Ibu minum jamu, jadi biar impas Mas juga minum dong," gerutu Diandra dengan bibir mencebik.


Gavin lantas menoleh, menatap wajah istrinya yang cemberut.


"Kamu makan kuning telur mentah juga, Dian?" tentu Gavin terkejut luar biasa, memang tidak semua akan berakhir buruk, tapi makan kuning telur mentah bisa menyebabkan keracunan di beberapa kasus.


"Ya nggak sih, tapi pahit!" gumam Diandra lirih.


Gavin mendengus, bisa stres dan sakit kepala dia kalau Ibunya lama menginap di sini, tapi kalau dia suruh pulang... bisa dikatakan anak durhaka nanti, Gavin. Ah kenapa sejak dulu sekali setiap berurusan dengan Ibunya Gavin selalu sakit kepala?


"Memang buat apaan sih harus minum kayak tadi Mas? nyiksa bener deh" Diandra ikut menggerutu mengingat bagaimana mengerikan rasa cairan yang dia teguk.

__ADS_1


Gavin menoleh, menatap sang istri yang kini tengah memainkan ponsel, Gavin bergegas naik ke atas ranjang, senyum nakal tersungging di bibirnya, dia merangkak mendekati Diandra meraih ponsel dari tangan sang istri dan meletakkan benda itu di meja.


"Mas ngapain?" Diandra memekik, terkejut mendapati Gavin yang sudah merangkak ke atas tubuhnya.


"Memanfaatkan nutrisi yang tadi masuk ke tubuh kita sayang," bisik Gavin dengan begitu sensual, tepat di telinga sang istri.


Mata Diandra membulat, dia mulai paham kemana arah bicara Gavin, terlebih suaminya sudah dalam keadaan bertelanjang dada sekarang.


"Mas masih sore, Mas" teriak Diandra sambil mendorong wajah Gavin yang mulai mendekat.


Gavin tidak menggubris, dia meraih tangan Diandra, mengunci tangan itu agar tidak melakukan perlawanan apapun.


"Ibu support kok, buktinya sampai bikinin kita jamu, udahlah jangan kebanyakan ngeles, udah tegang nih sayang," Gavin berusaha melucuti pakaian sang istri dengan satu tangan.


Dia hampir berhasil membuat Diandra bertelanjang dada, ketika ketukan pintu itu tidak hanya menghentikan semangat Gavin yang membara tetapi membuat Gavin lemas seketika.


"Gavin, Dian kalau udah mandi cepat turun, makan sekarang aja mumpung udah matang semua, Ibu tunggu di bawah, jangan lama-lama!"


#########

__ADS_1


Kiki berbaring di atas ranjang dengan coklat bungkus ungu yang belum dia buka, coklat pemberian lelaki asing Dokter somplak yang kembali tidak sengaja dia temui di minimarket.


"Namanya siapa sih?" jujur Kiki penasaran.


Entah mengapa dia jadi begitu kepo dengan lelaki itu, siapa namanya, Dokter apa, dinas di mana? ah dia juga bodoh! kenapa tadi nggak nanya siapa namanya sih? sekarang Kiki sendiri kan yang di dera rasa penasaran yang sangat.


"Besok kalau ketemu lagi aku harus tanya namanya," desis Kiki lantas bangkit dan duduk di ranjang.


Wajah itu nampak sangat bertekad, sedetik kemudian dia tertegun.


"Tapi aku ogah ketemu dia lagi," Kiki masih ingat, lelaki itu sangat menyebalkan sekali.


Kiki kembali menjatuhkan tubuh di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang entah mengapa wajah lelaki tadi malah tergambar di sana di langit-langit kamar yang putih bersih.


"Sial! kenapa malah nangkring di sini sih?" Kiki mengumpat bersamaan dengan itu ledekan Diandra tadi kembali terngiang.


Jodoh!


Sebuah kalimat yang langsung berhasil membuat wajah Kiki pucat pasi, jodoh katanya? Kiki berjodoh dengan laki-laki tadi? apakah tidak ada lelaki lain yang juga seorang Dokter yang mau dengan Kiki sampai-sampai Kiki harus menikah dengan lelaki menyebalkan macam tadi.

__ADS_1


"Astaga! mimpi apa sih semalam ya Gusti!" Kiki mengusap wajahnya dengan gusar, agaknya setelah ini dia harus ingat betul-betul kalau dia tidak boleh terbangun dalam keadaan lapar di malam hari, kalau tidak mungkin dia akan kembali bertemu dengan lelaki menyebalkan yang semodel dengan Dokter somplak yang menabrak dirinya.


__ADS_2