Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Masa lalu biarlah masa lalu!!!


__ADS_3

Gavin mengibaskan tangan itu dengan sedikit kasar. Sorot matanya sedikit tajam. Tidak peduli mata itu berkaca- kaca, Gavin sudah tidak mau tahu lagi apapun tentang dia, baginya semua sudah selesai dan tidak ada yang perlu dibahas lagi.


"Apa lagi? Jangan buang waktuku dengan percuma, oke?" Gavin hendak kembali melangkah ketika tangan itu kembali mencekalnya.


"Vin, tunggu dulu!"


Gavin mendesah, segera mengibaskan tangannya agar genggaman tangan itu terlepas. Kepalanya mendadak pusing yang dia takutkan tentu jika ada yang melihat atau mendengar apa yang mereka bicarakan sekarang. Apalagi kalau orang itu Diandra, bisa habis Gavin nanti.


"Apa lagi sih? Aku sibuk, tolong!"


"Satu aja tolong jawah pertanyaan ku" Rachel masih menahan langkah Gavin, membuat Gavin menghirup udara banyak-banyak lalu kembali menatap sosok itu dengan tajam.


"Apa?"


"Dia siapamu, Vin?" Tanya Rachel tanpa memalingkan pandangan dari wajah Gavin.


Alis Gavin berkerut, sejenak dia nampak berpikir lantas segera paham dengan siapa dan apa yang Rachel maksud.


"Istri. Apa urusanmu menanyakan hal itu?" Balas Gavin sengit. Kenapa lagi sih orang ini? Gavin saja sudah tidak lagi mengurusi apapun yang berhubungan dengan Rachel, kenapa Rachel malah sibuk dan kurang kerjaan mengurusi kehidupan Gavin?


"Kau menikahi bocah kemarin sore, Vin?" Wajah itu nampak terkejut. Membuat Gavin menyeringai tajam dengan dua tangan dia lipat di dada.


"Apa masalahnya? Mau anak kemarin sore, tadi pagi, selama undang-undang dan aturan agama memperbolehkan aku menikahi dia, tidak ada yang berhak melarangku, Rachel!"


Wajah itu nampak pias, ada sebuah gurat aneh yang entah mengapa sangat mengasikkan untuk dilihat oleh Gavin. Cemburu? Rachel mempertanyakan Diandra, apakah dia cemburu? Cemburu pun tidak ada urusannya dengan Gavin!


"Tapi, Vin... Anak kemarin sore loh, dan ka..."


"Diandra memang anak kemarin sore, Rachel. Tapi dia beda, pemikirannya dewasa dan kau tau? Dia setia, dia bisa memegang teguh komitmen yang sudah aku dan dia buat. Aku pastikan itu!"


Gavin segera melangkah pergi, meninggalkan Rachel yang nampak tertegun, wajah wanita itu memerah, namun Gavin sama sekali tidak peduli. Dia sudah tidak punya urusan dengan Rachel, apapun itu. Kisah mereka sudah kandas dan selesai dari beberapa tahun yang lalu.


Lagipula untuk apa pula Rachel mengurusi kehidupan Gavin yang sekarang? Toh setelah mereka putus, Gavin sama sekali tidak mengurusi kehidupan mantan kekasihnya ini. Mau nikah siapa, punya anak berapa, Gavin sama sekali tidak mau tahu dan tidak peduli karena baginya semua hal tentang Rachel sudah tidak lagi penting dan hanya tinggal masa lalu.


Gavin terus melangkah, tanpa menoleh ke belakang tidak peduli wanita itu menitikkan air mata dan terisak dalam kesendiriannya. Gavin sangat berharap, kehadiran Rachel di sini tidak memperkeruh kehidupan bahagia yang baru saja Gavin jajaki. Baru saja Gavin dapatkan dan icipi.

__ADS_1


Gavin sudah cukup bahagia sekarang dan dia tidak ingin kembali kehilangan kebahagiaan yang dia miliki.


########


Kiki melangkah lunglai membawa plastik itu di tangan kanan. Wajahnya nampak cemberut, membuat sosok lelaki itu menyipitkan mata dan buru-buru melangkah mendekati Kiki.


"Ki! Ki!" Derren setengah berlari, tidak peduli beberapa keluarga pasien menatapnya dengan alis berkerut.


Langkah Kiki terhenti, dia menoleh dan menatap Derren dengan tatapan tidak biasa. Jika biasanya gadis ini menatap kesal ke arahnya, maka kini Kiki menatapnya dengan tatapan sendu dan rapuh. Kenapa gadis ini?


"Heh, kamu kenapa sih?" Derren mengguncang bahu Kiki yang nampak lemas.


Bukannya menjawab Kiki malah mewek, dia terisak sambil menundukkan kepala. Derren terkejut bukan main. Kenapa malah mendadak menangis? Derren menatap plastik di tangan Kiki. Di raihnya plastik itu dan dibukanya dengan segera. Mendadak hati Derren mencelos.


"ASTAGA KIKI! SIAPA PELAKUNYA, KI? BERAPA MINGGU?" Derren sontak berteriak ketika mendapati tiga buah testpack ada di dalam kantong yang Kiki bawa.


Kiki membelalak. Isaknya mendadak lenyap dan tangannya terayun menimpuki punggung Derren dengan membabi-buta. Derren nampak tidak berniat menjauh, dia hanya mencoba menangkis tangan Kiki yang masih macam orang kesurupan menyerangnya.


"Ngeselin! Kamu ngeselin banget!" Rutuk Kiki sambil menahan tangis.


Mata Derren membulat.


"Alhamdulillah, Ki! Biar aku aja besok yang merawani kamu, oke?"


Kembali Kiki dengan membabi-buta memukuli Derren, membuat Derren lantas mencekal tangan itu dan membawa Kiki ke pinggir jalan. Duduk di kursi yang ada di depan gedung rumah sakit.


"Tenang dulu, bercanda doang, Ki!" Derren mencoba menenangkan.


"Tenang dulu. Kamu sebenarnya kenapa sih? Mendadak nangis, ngamuk. Mana bawa testpack, itu buat siapa?" Tentu Derren hendak minta penjelasan. Dia sangat penasaran sekali.


Kiki menundukkan wajah, menyeka air matanya lalu berusaha menenangkan dirinya sendiri. Bersiap menjawab semua pertanyaan yang Derren ajukan kepadanya.


"I-ini testpack buat Diandra. Dia udah telat berminggu-minggu," Desis Kiki perlahan, mencoba menjawab satu persatu pertanyaan yang Derren ajukan.


"Oalah! Bilang dong! Jadi salah sangka, kan?" Nampak Derren menghela napas panjang, lega rasanya.

__ADS_1


Kiki kembali menyeka air mata, dia mengigit bibir bawahnya dengan sedikit risau. Perlukah dia menceritakan apa yang terjadi?


"Terus kenapa nangis? Kamu kenapa? Ada yang berani macam-macam?" Kejar Derren yang masih penasaran dengan apa yang membuat Kiki menangis sampai sebegitunya.


Kiki mengangkat wajah menatap Derren yang masih menatapnya dengan serius. Kiki menghirup udara banyak-banyak.


"Jadi gini, Dok...."


##########


Rachel menjatuhkan dirinya di kursi ruang prakteknya. Hatinya mendadak sakit, kenapa bisa sebegitu sakit hatinya mendengar semua kalimat itu meluncur dari mulut Gavin?


Tentang komitmen, kesetiaan... Gavin benar! Rachel tidak punya hal ini! Rachel terlalu gampang tergoda. Dia luluh pesona Sony, residen forensik di tempat dia internship dulu. Luluh bahkan sampai semua yang selama ini dia jaga baik-baik dia serahkan semua tanpa sisa. Padahal di tempat yang jauh, Rachel tahu betul ada lelaki yang menunggunya. Lelaki yang bahkan selama ini menjaganya dengan begitu baik. Sangat baik!


Rachel tertegun ketika tangan itu meraih dan menggengam tangannya. Malam ini, selepas jaga malam, dia duduk dan menikmati langit bersih penuh bintang di depan angkringan yang ada di depan rumah sakit. Dia bersama sosok itu. Lelaki berkacamata yang beberapa minggu ini mengganggu pikiran dan keteguhan hatinya.


Sosok yang membuat sosok itu tenggelam jauh ke dasar jurang yang ada di hati Rachel, tergantikan dengan Sony residen yang tengah menjalani pendidikan spesialis forensik di rumah sakit yang sama dengan tempat Rachel menjalani internship.


"Dek, Abang serius tanya. Kamu masih sendiri?"


Rachel tergagap, Sendiri? Tentu jawabannya tidak! Ada Gavin di seberang pulau tengah menantinya kembali. Kembali untuk menjalankan proker yang sudah mereka susun bersama selama ini.


Rachel tersenyum getir.


"Masih, Bang. Kenapa?" Sebuah jawaban yang sebenarnya otak Rachel tolak karena itu bertentangan dengan fakta yang ada.


"Jadi calonnya Abang mau, kan, Dek?"


Sebuah pertanyaan yang membuat Rachel gundah-gulana luar biasa. Hatinya bimbang. Ini tidak benar, ini salah! Tapi.... Rachel mendesah panjang, dia harus jawab apa?


"Dek, kamu selesai internship sebentar lagi, kan? Langsung Abang lamar ya?"


Rachel makin tersentak dengan kalimat itu. Lamar? Wanita mana yang tidak mau dilamar? Tahun depan Sony sudah sah jadi Dokter spesialis forensik dan dia hendak melamarnya?


"Abang nggak mau pacaran, Dek. Langsung nikah aja mau, kan?"

__ADS_1


__ADS_2