
"Seriusan?" terdengar jelas suara itu begitu terkejut.
"Apa Papa kamu nyuruh Dokter Gavin langsung ke sana?" tanya Kiki.
Diandra mencebik, dia tengah rebahan malas di atas kasur dengan ponsel menempel di telinga. Siapa lagi yang dia telepon kalau bukan Kiki? menceritakan semua nasib sial yang tidak kunjung berhenti semenjak Diandra mengucapkan sumpah itu secara sembarangan.
"Serius lah, Ki, aku sendiri nggak tahu Papa pengen ketemu dia buat apa,," ucap Diandra.
Tentu Diandra tidak tahu, bukankah Papanya sama sekali tidak buka suara perihal tujuannya memanggil Gavin menghadap? katanya suruh lihat nanti,, apanya yang mau dilihat? Gavin? Ah ketemu lelaki itu hanya akan membuat migrain Diandra kambuh.
"Langsung dinikahin paling, Dian," ujar Kiki asal.
"Udah di kroscek sama Papamu kan?" ucap Kiki lagi.
"Hus!!!" Diandra melotot untung saja Kiki ada jauh di sana, kalau tidak sudah dia pastikan bantal akan melayang dan membungkam mulutnya.
"Sembarangan!!! main asal nikahin anak, dikira kucing apa?" ucap Diandra langsung mencak-mencak.
Tentu tidak mungkin Papanya akan langsung menikahkan dia dengan bujang lapuk itu, bisa jadi Darmawan akan menceramai Gavin panjang lebar yang berujung dengan pembatalan rencana pernikahan edan nan konyol itu,, senyum Diandra merekah, hebat juga kalau begitu jadi Diandra terbebas dari teror dan jerat lelaki paling absurd yang pernah Diandra kenal dalam seumur hidup.
"Lah! siapa tahu Dian? Dokter Gavin itu paket lengkap banget Dian," suara itu terdengar begitu bersemangat.
"Ganteng? iya, Dokter spesialis? sudah jelas,, diakui IDI. Bapak mana yang nggak klepek-klepek Dian?" ucap Kiki lagi.
Diandra mencebik, belum tahu saja Papanya kalau lelaki yang hendak melamar itu benar-benar tidak waras! kalau dilihat dari visual dan profesi oke Diandra mengakui, tapi mencarikan jodoh anak, apalagi Diandra anak bungsu kesayangan sang Papa, tentu dia tidak bisa hanya melihat dari dua poin itu saja bukan?
"Benar-benar cocok kalau sama kamu Dian, memperbaiki keturunan, kamu kurang tinggi, nikah sama Dokter Gavin yang menjulang gitu, kan nanti...."
"Mulai body shaming yah?" potong Diandra.
Memang kenapa kalau dia kurang tinggi? kalau tingginya cuma 150 cm, apakah itu kesalahan? toh dia tidak ingin mendaftar dan bercita-cita menjadi polwan,, KOWAD atau pramugari, dia ingin jadi Dokter.
__ADS_1
"Bukan body shaming Diandra sayang,, ini beneran salah satu cara memperbaiki keturunan," kembali suara itu berkilah membuat Diandra mendengus kesal dan memutar bola matanya dengan gemas.
"Dahlah Ki,, ngantuk bye..." ucap Diandra.
"Ett.... tunggu," ucap Kiki.
Diandra hampir melonjak kaget, ada apa lagi sampai-sampai gadis itu berteriak? Diandra berdehem, dia menyimak apa yang hendak Kiki katakan kepadanya.
"Kabari yah nanti keputusannya gimana? jangan lupa aku dapat jatah gaun bridesmaid, kan?" ucap Kiki.
Mata Diandra membulat,, heran dengan kelakuan sahabatnya yang nampak begitu bahagia dan excited dengan kesialan yang Diandra alami ini,, tanpa menjawab Diandra memutuskan sambungan telepon meletakkan ponsel itu di samping bantal dan kembali mengusap wajahnya dengan tangan.
Langit-langit kamar adalah objek yang sejak tadi tiada bosan-bosan Diandra pandangi, padahal ada apa di sana? tidak ada apa-apa, kecuali plafon bersih dengan lampu yang menerangi kamar,, Diandra mendesah jujur dia ikut tidak sabar dengan apa yang sebenarnya direncanakan sang Papa setelah ini,, kenapa dia langsung mengundang Gavin datang ke rumah? harapan Diandra sih benar rencana pernikahan itu bisa dibatalkan, kalau tidak...
"Ketemu ngobrol sama dia sebentar saja sudah sakit kepala hampir depresi, apalagi kalau harus jadi istrinya, Gusti!" rintih Diandra sedih.
"Kenapa harus ada lelaki macam itu sih?" ucap Diandra.
"Ngapain?" Dina mengerutkan kening ketika mendapati sang suami memangku laptop sambil bersandar di atas kasur.
Bukan apa-apa Darmawan tidak pernah membawa laptop naik ke atas kasur biasanya dia akan duduk di meja jika memang perlu membuka laptopnya tidak seperti sekarang ini, memang apa yang sang suami lakukan dengan benda itu.
"Jadi agen CIA bentar Ma," jawab Darmawan tanpa menoleh ke istrinya.
Dina menghela nafas panjang, dia membatalkan niat untuk mengaplikasikan masker wajah, diletakkan mangkuk masker itu di meja dan dihampirinya Darmawan yang sama sekali tidak menoleh, pandangannya begitu serius menatap layar laptop di hadapannya.
"Pa... serius deh,, Mama mau ngomong," Dina memberi kode bahwa dia butuh atensi sang suami barang beberapa menit atau malah perlu beberapa jam, masalahnya hal yang hendak mereka bahas bukan hal sembarangan, ini menyangkut masa depan Diandra.
"Ya, ngomong aja apa-apa dengerin kok," kembali pandangan Darmawan sama sekali tidak berpaling membuat Dina lantas meraih laptop itu dan meletakkannya sedikit jauh.
Darmawan mengangkat wajah menatap Dina yang sudah begitu serius hendak mengajaknya bicara.
__ADS_1
"Oke-oke,, Mama mau ngomong apa?" Darmawan tahu kalau begini artinya sang istri benar-benar butuh perhatiannya.
"Papa serius mau kasih izin Diandra nikah?" tentu ini yang hendak dipastikan oleh Dina.
"Dia lulus S. Ked aja barusan loh, belum wisuda juga," kembali Dina mengingatkan meskipun sebenarnya pasti Darmawan sudah mengerti betul masalah itu.
Darmawan menghela nafas panjang, dia menatap sang istri dengan seksama, wajah itu menampakan kekhawatiran dan ketidakrelaan kalau Diandra menikah secepat ini.
"Lihat dulu calonnya juga Ma, besoklah keputusannya nunggu dia datang kemari," ucap Darmawan.
Dina menggeser duduknya,, bersandar tepat di sisi sang suami. Menatap jauh ke depan dengan tetapan kosong,, tentu sebagai ibu hatinya risau. Anak gadisnya sudah hendak dilamar orang? kenapa secepat ini sih? perasaan baru kemarin Dina melahirkan Diandra,, mendaftarkan dia masuk TK,, eh... kenapa tahu-tahu sudah mau dinikahi orang?
"Jangan mentang-mentang dia dosen udah spesialis terus Papa langsung main ACC loh," Dina kembali mengingatkan.
Tawa Darmawan pecah, tangannya merangkul sang istri,, menyandarkan kepala itu di bahunya dan mengelus puncak kepala Dina dengan begitu lembut.
"Tentu aku tidak akan sesembrono itu Ma, masalah mereka mau cepat-cepat menikah sih,, papa oke. Udah berumur juga soalnya si Gavin itu, kasihan," ucap Darmawan.
Dina mendengus kesal.
"Heran Mama,, si Diandra juga ngapain sih pacaran sama om-om begitu? apa teman-temannya nggak ada yang menarik apa sampai-sampai dosennya sendiri dipacari?" ucap Dina.
Kembali senyum merekah di wajah Darmawan,, tangannya masih dengan lembut mengelus puncak kepala Dina.
"Nah,, kalau teman satu angkatan saja yang seumuran, masih muda tidak ada yang menarik perhatian anakmu,, berarti Gavin punya banyak nilai plus sampai-sampai Diandra lebih memilih memacari dia, daripada lelaki seumuran,, teorinya begitu kan?" ucap Darmawan.
Dina menghirup udara dalam-dalam,, mendadak kepalanya menjadi pusing, belaian dan dekapan lelaki yang sudah puluhan tahun menikahinya ini untungnya terasa begitu nyaman kalau tidak sudah dipastikan kepala Dina akan terasa lebih sakit lagi.
"Aku berharap dia seperti kamu bisa menciptakan damai dan nyaman ini untukku dalam kondisi apapun,, sabar, pengertian dan bisa membuat aku beruntung dapat menjadi bagian dari hidup kamu," desis Dina lirih, tangannya melingkar memeluk pinggang sang suami.
Darmawan tersenyum begitu manis,, menjatuhkan kecupan singkat pada puncak kepala Dina, dia merasakan kejujuran dari kalimat yang istrinya ucapkan memang itu selalu Darmawan usahakan selama ini sebagai suami bukan?
__ADS_1
"Kalau aku berharap,, dia lebih dari aku dalam segala hal lebih dari segala-galanya dari aku, bisa memberikan Diandra kehidupan dan kebahagiaan yang lebih dari apa yang selama ini aku berikan kepadanya,, karena aku tentu tidak akan membiarkan lelaki sembarangan menikahi anak gadisku," suara Darmawan bergetar hebat,, matanya memanas kehidupan Diandra harus lebih baik itu sudah mutlak!