
Diandra tidak mau melepaskan tangan Gavin yang tengah menyetir itu, menyandarkan kepala dengan begitu manja di bahu Gavin tanpa bersuara, suasana hening karena baik Gavin atau Diandra sama-sama tidak mau bersuara, hanyut dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Mas," panggil Diandra kemudian, matanya melirik wajah Gavin yang nampak datar menetap ke depan.
"Iya Dian, kenapa?" tanya Gavin.
Sebuah jawaban yang membuat Diandra mencebik, Diandra mempererat pelukan tangannya, bahu Gavin memang luar biasa nyaman dan Diandra suka bersandar di sini.
"Mas belum jawab pertanyaan aku, Mas" gumamnya lirih, tentu Diandra harus tahu kenapa Gavin lebih memilih pergi daripada masuk dan meminta penjelasan kepadanya tadi.
"Yang mana? kamu tanya banyak banget tadi," jawab Gavin santai.
Diandra mengangkat kepalanya, melepaskan pelukan tangannya lalu menoleh menatap Gavin yang fokus di belakang kemudi.
"Ya, aku mau Mas Gavin jawab semuanya, Mas. Aku tanya karena butuh jawaban bukan cuma didiamkan saja," Diandra mencoba sabar, bukan salah Gavin kalau marah, Diandra kalau di posisi Gavin pasti juga akan ngamuk, apaan dia kerja keras, Gavin malah pegangan tangan sama cewek di cafetari?
Gavin menghela nafas panjang, nampak melirik spion dan kaca mobil lalu menepikan mobil di tempat yang aman dan tidak mengganggu pengguna jalan lain dan yang terpenting tidak ada rambu larangan berhenti atau parkir di sana.
"Kenapa Mas pergi? kenapa Mas nggak tanya dulu sama kamu? kenapa Mas kesannya seperti anak kecil, karena masih nggak mau nyakitin kamu sama suara-suara nggak enak yang bisa muncul ketika Mas emosi, Dian" jelas Gavin sabar.
"Mas udah janji sama Papa sama Ayah bahwa Mas harus hati-hati banget sama ucapan termasuk pas lagi emosi kayak tadi," ucap Gavin lagi.
Diandra tertegun, dia menyimak dengan tatapan terkejut.
"Mas nggak yakin tadi bisa ngomong baik-baik kayak gini kalau Mas langsung datangi kalian, jadi Mas lebih memilih pergi, sayang" mata Gavin memerah, sebuah hal yang membuatnya Diandra merasakan matanya memanas.
"Terserah kamu mau bilang Mas kekanakan, terlalu cemburu atau apa, kamu berhak menilai Mas kayak gitu, hanya saja satu yang perlu kamu tahu Dian itu salah satu upaya Mas nenangin diri dan nggak emosi lagi," ucap Gavin.
Gavin menghirup nafas panjang, menghembuskan perlahan-lahan dan dia lakukan berulang kali.
__ADS_1
"Mas hanya sedang berusaha jaga lisan dan perasaan kamu, dan sekarang boleh Mas gantian tanya?" Gavin menoleh menatap dan mendapati Diandra tengah menundukkan kepalanya.
"Dia siapa, Dian? ada hubungan apa kalian sampai kamu diam saja dipegang tangannya seperti tadi?" tanya Gavin.
Diandra mengangkat wajah membalas tatapan itu dan menyadari bukan hanya dia yang tengah berurai air mata Gavin juga, mata itu merah dengan air mata menitik, tidak di ragukan lagi Gavin benar-benar cemburu dan mungkin saja kecewa dengan apa yang dia dapati tadi.
"Dia teman Bang Drian sejak SMA, Mas. Namanya Derren, sejak SMA dia sering datang ke rumah karena mereka satu tim berlanjut ketika Bang Drian masuk FK dan koas, entah mengapa mereka bisa kompak satu tim, Mas bisa kroscek tanya ke bang Drian sekarang juga kalau perlu," jelas Diandra panjang lebar, jemarinya menyeka air mata yang menitik.
Gavin menghirup udara banyak-banyak, dadanya terasa begitu sesak, matanya terpejam hanya beberapa detik karena kemudian dia kembali menatap istrinya dengan seksama.
"Dia punya perasaan sama kamu, betul?" tebak Gavin tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri.
"Aku tidak peduli apapun tentang dia, tentang perasaan yang dia punya untuk aku, yang aku pedulikan dan coba aku ingat selalu hanyalah ini," Diandra mengangkat tangan kanan di mana cincin itu melingkar di jari manisnya.
"Bahwa aku sudah bersuami, bahwa aku harus menjaga kepercayaan yang suami aku kasih dan bahwa aku harus jaga betul wibawanya, martabatnya di manapun aku berada, dan untuk itu aku minta maaf untuk hal tadi Mas, aku minta maaf karena sama sekali tidak mengira dia akan melakukan hal itu, maaf karena sudah mengecewakan, maaf karena sudah bikin Mas marah, maaf ka..."
Diandra tidak bisa melanjutkan kalimatnya, tangan itu melepas seat belt, memeluknya erat-erat sambil menjatuhkan beberapa kecupan di puncak kepala, hal yang membuat tangis Diandra pecah seketika.
"Mas minta maaf karena sudah sangat kekanakan tadi, minta maaf karena sudah berpikiran yang tidak-tidak sama kamu, minta maaf karena sudah membiarkan kamu lama menunggu dan malah Mas tinggalkan begitu saja, mau maafin Mas kan, sayang?" tanya Gavin.
Diandra tersenyum melepaskan pelukan mereka lalu menatap mata itu dalam-dalam.
"Tentu mau! tapi ada syaratnya," bisik Diandra lirih dengan kedua alis terangkat, tidak peduli matanya masih berurai air mata.
Gavin tersenyum.
"Apa memang? mau apa?" Gavin mencubit dagu itu dengan gemas, terkejut setengah mati ketika Diandra lantas melakukan itu.
Diandra meraup bibirnya dengan begitu lembut, dua tangan Diandra melingkar di leher menekan kepala Gavin agar dia bisa leluasa mengecup dan mencium bibirnya, hal yang membuat Gavin tertegun beberapa detik dan berubah liar membalas pangutan itu.
__ADS_1
Kenapa baru Gavin sadari sikap dewasa yang Diandra miliki di balik sikap manja dan menyebalkan yang selama ini terlihat di mata Gavin, usia Diandra masih dua puluh dua tahun dan dia bisa punya pemikiran dan sikap seperti ini? luar biasa!
Diandra melepaskan pangutan bibir mereka setelah beberapa saat, menengadahkan kepala menatap langsung ke dalam mata Gavin, jemarinya terulur menyeka bibir merah sang suami lalu dengan lirih berbisik mesra tepat di telinga Gavin.
"Mas nggak pengen ngelakuin ancaman Mas tadi yang di kamar mandi? Mas udah kelar kerjaannya, kan?" bisik Diandra setengah menggoda.
Gavin tersenyum, mencubit gemas pipi Diandra yang kontan tergelak dan kembali menjatuhkan diri dalam dekapan tubuhnya, membuat Gavin kembali mengecup puncak kepala Diandra dan mendekap tubuh mungil itu erat-erat.
"Mas nggak mau berhenti sampai pagi, kamu siap memangnya?" gumam Gavin balas menggoda.
"Baik! kalau itu bisa bikin Mas maafin aku karena salah paham tadi, kenapa tidak?" Diandra tidak gentar apapun itu asal sikap dan momen manis itu tidak lenyap dan musnah begitu saja.
"Nggak mau keluar di luar, oke?" desis Gavin kemudian.
"Pakai pengaman kalau gitu," jawab Diandra tidak mau kalah.
"Nggak mau! suamimu ini lebih suka polosan sayang," kembali Gavin menolak, membuat Diandra melepaskan pelukan dan menatap Gavin dengan wajah manyun.
"Mas beneran pengen punya anak lima?" tampaknya Diandra masih tidak terima dengan keinginan sang suami.
"Iya lah kenapa?" Gavin kembali menggoda sang istri, pura-pura bersandar di jok sambil melipat dua tangan di belakang kepala.
"Dua aja lah Mas, dukung program KB pemerintah," Diandra rasanya tidak sanggup kalau suaminya benar minta lima anak.
"Nggak! lebih suka angka ganjil aku," ujar Gavin lagi dengan begitu menyebalkan.
Diandra menghela nafas panjang.
"Oke kalau kita tiga anak gimana?" tawar Diandra.
__ADS_1
Gavin menoleh menatap nanar sang istri yang masih ngotot tidak setuju dengan rencananya.
"Dian kita lagi bahas masa depan, bahas anak! kenapa jadi macam orang tawar-menawar cabai di pasar?"