
Diandra sudah duduk di jok yang ada tepat di sebelah sosok itu, nampak Gavin yang kini memakai lengan panjang warna abu dan celana bahan membawa mobilnya melintasi jalanan Jakarta yang cukup padat,, Papanya sudah memberi titah meminta agar Gavin diantar menemui dirinya di rumah sakit untuk kemudian bicara banyak hal sekalian makan siang.
Firasat Diandra tidak enak,, jangan-jangan sang Papa akan setuju dan memberi ACC mereka menikah? tidak!!! Diandra tidak mau!!!
Tapi daripada nanti dihamili dulu,, bukankah lebih baik mereka memang menikah? toh mereka sudah buat perjanjian,, Diandra akan aman sampai nanti waktunya dia meminta cerai.
"Tumben diam? sariawan?" tanya Gavin yang membuat Diandra menoleh mengerucutkan bibirnya sambil bersandar malas di mobil katanya Gavin selalu pusing yang berujung hipertensi kalau dengar dia ngoceh, kenapa sekarang Diandra diam,, Gavin bingung?
"Entar kalau saya ngomong Dokter sakit kepala lagi," jawab Diandra apa adanya.
Dari sudut mata Diandra bisa melihat sosok itu tersenyum simpul, aroma perpaduan lavender,, jeruk dan lemon yang tadi tertangkap hidung Diandra ketika jarak mereka begitu dekat, kini tercium lagi. Aroma yang entah mengapa membuat Diandra rileks dan tenang hanya aromanya yang membuat Diandra rileks kalau sumber baunya selalu sukses membuat Diandra kesal setengah mati.
"Iya juga sih," desis suara itu kemudian.
"Ya udah diam terus aja begini yah," ucap Gavin lagi.
Kembali Diandra mencebik,, rasanya dia ingin mencekik leher lelaki itu sampai... Ah! jangan jadi pembunuh!!! Dian! jangan!!! Diandra menghela nafas panjang, memejamkan mata dan berusaha menenangkan diri menyetok stok sabarnya agar tetap melimpah ruah menghadapi lelaki ini.
"Dian,, Papa sukanya makanan apa, Dian?" tanya Gavin.
Cih!!! Diandra mendecih,, kalau Gavin tanya-tanya macam itu bertujuan untuk mencuri hati sang Papa, maka lebih baik tidak Diandra jawab, biar saja! Diandra pokoknya tidak mau jawab.
Diandra benar-benar bungkam, masih memejamkan mata dan mengabaikan begitu saja Gavin yang sejak tadi melirik ke arahnya kini gantian Gavin yang mencebik, dia meminggirkan mobil, menghentikan mobil itu lalu melepaskan seat belt.
Diandra yang bingung dan bertanya-tanya kenapa mobil berhenti lantas membuka mata dan terkejut setengah mati mendapati wajah Gavin sudah berjarak hanya beberapa senti darinya.
"Aaaaa," Diandra berteriak,, mendorong wajah itu menjauh darinya dan menutupi wajah dengan kedua tangan.
"Dokter apaan sih? Dokter mau ngapain saya?" ucap Diandra.
Belum bilang rasa terkejut Diandra, dia kembali menjerit ketika tangan itu menarik telinganya keras-keras.
"Kamu itu kalau orang tanya itu jawab,, Dian," ucap Gavin sambil menarik-narik telinga Diandra.
"Aduhh... sakit ini," Diandra meringis mencoba melepaskan tangan Gavin dari telinganya.
__ADS_1
"Kapok nggak? heh?" tanya Gavin yang belum mau melepaskan tangannya.
"Apaan sih Dok? tadi katanya saya di suruh diam begitu diam malah dimarahin,, dari dulu saya ini nggak ada benarnya di mata Dokter," Diandra mencak-mencak,, tangan Gavin berhasil dia lepas, kini dia sibuk mengusap-ngusap telinganya yang memerah.
Terdengar helaan nafas panjang dari Gavin,, lelaki itu lantas menyandarkan tubuh di jok, mendesah panjang sambil memijat pelipisnya.
"Ya tapi kalau ditanya juga, tetap harus jawab Dian,, kau pikir saya tadi nanya sama kaca mobil?" ucap Gavin.
Salah lagi! kejadian kayak begini dan terus-menerus terulang, Gavin masih kekeuh ingin mereka menikah? bisa ambyar rumah Gavin nanti kalau penghuninya tiap hari perang urat macam ini.
"Iya! iya! saya salah deh!!! emang kayaknya saya ini nggak pernah ada benarnya kok di mata Dokter ini," Diandra kembali mencebik.
Gavin nampak mengenakan kembali seat belt nya,, menghidupkan mesin mobil dan kembali membawa mobil itu melaju,, tidak ada lagi percakapan yang terjadi, Diandra pun membisu di tempatnya dengan wajah masam.
"Kamu ada kok benarnya, mau tahu?" tanya Gavin tanpa menoleh.
"Apa?" tanya Diandra balik.
"Benar harus jadi istri sayalah, apa lagi memangnya?" jawab Gavin.
"Apa?"
###############
"Nah sampai!!!" Gavin mematikan mesin mobil,, melepas seat belt dan melangkah turun.
Diandra tidak banyak berkata-kata, dia segera ikut melompat turun dari mobil,, mengekor di belakang langkah Gavin yang nampak melangkah dengan tegap dan gagah seperti biasa.
Sambil melangkah, Diandra memperhatikan Gavin dari belakang, memang sih, Diandra tidak memungkiri bahwa lelaki satu ini memang memiliki visual yang luar biasa, wajahnya,, kulitnya bersih dan tubuh atletisnya benar-benar memanjakan mata,, hanya saja sikap Gavin yang absurd dan menjengkelkan,, membuat penampakan indah dan mempesona itu tidak ada artinya apa-apa bagi Diandra.
"Ruang Papa sebelah mana Dian?" tanya Garin.
Diandra tersentak dari lamunan,, dia sontak tergagap karena dia tidak tahu di mana ruangan sang Papa, sudah cukup lama tidak main ke tempat ini, lagi pula ini kan rumah sakit bukan taman bermain.
"Bentar Dok," Diandra merogoh tas nya sementara Gavin mendesah panjang sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Ruangan Papamu sendiri saja kamu tidak tahu Dian?" tangan Gavin sudah terlipat di dada,, menatap Diandra dengan sorot tajam.
Diandra yang tadinya siap menghubungi sang Papa lantas mendongak menatap sengit ke arah lelaki itu, sebuah kalimat sederhana yang berhasil memancing emosi Diandra seketika.
"Mana saya tahu kalau saya ada di luar kota terus, Dok? sudah lama pula nggak ke sini,, undang-undang nomor berapa yang mengatakan bahwa saya harus hafal dan tahu lokasi ruang praktik Papa saya? ada?" kembali Diandra mencak-mencak,, membuat Gavin sontak mengusap wajah dan mengacak rambutnya dengan kesal.
"Ya bukan gitu juga, Dian,," tampak Gavin sudah begitu frustasi.
"Kan setidaknya..."
"Ah udah!!! saya mau nelpon Papa dulu," potong Diandra lalu menempelkan ponsel di telinga.
Kembali Gavin menghela nafas panjang,, rambut yang tadi sudah dia sisir rapi dan dia beri pomade,, kini tampak berantakan tak beraturan,, Gavin membalikkan badan mengedarkan pandangan ke seluruh bangunan rumah sakit.
Rumah sakit ini cukup besar dan berkelas maklum rumah sakit swasta biasanya mereka akan bersaing mewujudkan rumah sakit nyaman macam hotel atau mall begitu kan? untuk daya tarik tersendiri, apalagi kebanyakan pasien yang datang kemari berasal dari kalangan menengah ke atas.
Gavin masih menikmati desain dan interior loby rumah sakit ketika secara tiba-tiba tangan itu menarik dan menyeretnya, Gavin terkejut ketika mendapati Diandra yang menariknya masuk ke dalam. Ada perasaan aneh yang menjalar di relung hati Gavin ketika tangan mereka bersentuhan macam ini.
Senyum Gavin merekah mengikuti langkah Diandra tanpa mengeluarkan protes atas apa yang Diandra lakukan, dia malah berharap tangan Diandra terus menggenggam tangannya seperti ini!!! terus seperti ini!!!
Baru beberapa detik mengeluarkan harapan,, tangan Diandra melepaskan genggaman tangan mereka, membuat Gavin mendesah panjang dan pasrah ketika berhenti di depan lift.
"Di lantai tiga,, kita sudah ditunggu Papa Dok," ucap Diandra.
Gavin mengangguk.
"Bisa minta tolong, Dian?" ucap Gavin.
Diandra menoleh menatap Gavin dengan alis berkerut.
"Apa lagi sih Dok?" tanya Diandra malas.
Gavin tersenyum simpul.
"Seret saya kayak barusan lagi, ya?" ucap Gavin.
__ADS_1