
"Mas," Diandra melotot gemas menatap sang suami yang sudah memancarkan tatapan mesumnya.
Nampak Gavin terkekeh, sama sekali tidak melepaskan tubuh dalam dekapannya, dia malah membenamkan wajah di tengkuk leher Diandra, posisi Diandra membelakangi Gavin membuat Gavin makin tertantang menaklukkan sosok itu, tidak peduli sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan itu, terlebih tempat ini...
"Mas aku teriak loh ini," ancam Diandra sontak membuat nyali Gavin langsung menciut.
Bukan apa-apa, suara Diandra sudah macam toa tahu bulat ditambah dia berteriak mau jadi apa Gavin nanti? Gavin akhirnya menyerah melepaskan pelukannya dan menjatuhkan kecupan di pipi Diandra.
"Awas nanti di rumah," ancamnya lalu melangkah ke kursi dan menjatuhkan diri di sana.
Diandra menjulurkan lidah mendekati Gavin lalu mengeluarkan box bento yang dia bawakan, terserah apa yang mau Gavin lakukan padanya nanti, yang penting dia tidak mengajak mesum di sini, itu saja.
"Nanti nunggu Mas beres operasi baru pulang gimana?" Gavin meraih botol air mineral yang diletakkan Diandra di atas meja, meneguknya sambil menikmati wajah menggemaskan Diandra yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
"Boleh! aku tunggu di kafe depan dekat lobi masuk gimana?" Diandra duduk di kursi kosong yang ada di sisi sang suami membukakan tutup box itu dan mendorong box itu ke arah suaminya.
Gavin nampak tidak suka, wajahnya berubah makin keruh, meletakkan botol air mineral di meja dan menatap istrinya dengan seksama.
"Hati-hati dengan makhluk bernama residen, aku hafal betul tabiat dan kelakuan residen di rumah sakit ini, anak udah tiga ngaku single, kurang ajar memang," desis Gavin mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Tawa Diandra sontak pecah, dia terbahak. Sebuah respon yang begitu menyebalkan sekali di mata Gavin, kenapa istrinya ini seperti menyepelekan sekali nasehat darinya ini?
"Dian, suamimu ini serius yah," desis Gavin tak suka.
"Mas nggak termasuk golongan kurang ajar itu kan?" kini tatapan Diandra menyorot begitu tajam memperhatikan suaminya ini dari atas sampai bawah.
Gavin membelalak, meletakkan sendok lalu menatap istrinya dengan gemas.
"Selama di kampus apakah suamimu ini terdengar seperti itu sayang?" tanya Gavin yang rasanya ingin... Ah tidak! jangan di sini Vin!
"Mana aku tahu, aku paling anti dengar kabar soal Mas dulu, lihat Mas aja aku malas, serius!" ucap Diandra.
Gavin mendelik, menatap Diandra dengan tatapan nanar. Sementara yang ditatap malah asik menyantap salad miliknya mengabaikan tatapan sendu sang suami. Sebegitu benci dulu Diandra pada Gavin?
Gavin tersenyum kecut, sebodoh amat dengan masa lalu, toh kini dia sudah berhasil membuat Diandra bertekuk lutut, Gavin kembali menyuapkan nasi ke dalam mulut.
__ADS_1
"Ingat, jangan ngaku single kalau nanti ada yang rese ngajak kenalan," pesan Gavin yang masih belum rela istrinya ini nongkrong di kafe rumah sakit ketika dia berangkat berperang nanti.
Diandra melirik sekilas masih begitu asik dengan salad nya.
"Kalau nggak emak-emak lama anak gimana?" tanya Diandra asal, dasar om om posesif!
"Kenapa tidak bikin beneran aja daripada ngaku-ngaku lima anak, bukan hal mustahil untuk kita kok, kamu masih cukup muda," balas Gavin dengan begitu santai.
Diandra sontak tersedak irisan sayur berlumur mayonaise dan mustard itu, matanya melotot menatap Gavin yang nampak tidak peduli dengan reaksi terkejut Diandra, dia bahkan hanya melirik sekilas sang istri lalu kembali melanjutkan aktivitas makannya.
"Mas," Diandra mencebik.
"Mau nyiksa aku?" tanya Diandra.
Gavin menunda suapannya, membalas tatapan itu dengan sangat santai, bisa Gavin lihat wajah istrinya cemberut, sungguh menggemaskan sekali! Gavin rasanya ingin memperkosa istrinya sendiri saat ini juga kalau saja mereka tidak sedang berada di rumah sakit sekarang.
"Nyiksa yang bagaimana?" Gavin melipat tangannya di meja, masih menatap Diandra yang wajahnya masih ditekuk itu.
"Aku hanya ingin menjadikan kamu wanita yang beruntung karena kamu adalah satu-satunya wanita yang akan menjadi Ibu dari anak-anakku sayang, kamu akan jadi ibu dari lima orang anak-anak hebat yang kelak akan membanggakan kita, oke?" ucap Gavin lagi.
Diandra menghela nafas panjangnya.
"Siapa bilang punya lima anak bikin kamu nggak bisa sekolah spesialis? aku masih ada tabungan jadi jangan khawatirkan biaya PPDS mu," tegas Gavin yang tidak mau dibantah.
"Bagaimana aku bisa sekolah spesialis kalau tiap tahun bakal kau hamili dan harus melahirkan bayi?" nada suara itu mulai melengking membuat Gavin berharap tidak ada sejawatnya atau orang lain yang lewat di depan ruang praktek Gavin.
"Kan sudah aku bilang kemarin kita program kembar nurutin Ibu juga, jadi sekali lahir dua cuma perlu tiga kali hamil dan melahirkan untuk kita punya lima anak sayang," jelas Gavin detail, sebuah penjelasan yang membuat Diandra melongo dengan mulut setengah terbuka.
"Kenapa?" tanya Gavin ketika Diandra hanya menatapnya tanpa kedip dengan tatapan kosong.
"Gimana kalau kita berbagi peran dalam hal ini Mas?" tantang Diandra kemudian.
"Ya memang kan kita berbagi peran, aku yang membuahi kamu yang melahirkan, itu sudah garisnya, bukan?" ucap Gavin.
Diandra nampak menghirup udara banyak-banyak menghembuskan ke udara beberapa kali membuat Gavin menaikkan alis guna meminta pembenaran atas statemennya barusan.
__ADS_1
"Bagaimana kalau berbagi perannya diganti seperti ini," Diandra nampak begitu serius dan jangan lupa wajahnya nampak begitu kesal.
"Aku hamil dan melahirkan dua anak sisanya Mas yang melakukan," ucap Diandra lagi.
Kini Gavin yang tertegun mencoba mencerna kalimat yang keluar dari mulut Diandra, sisanya Gavin yang melakukan? melakukan apa?
"Bentar, melakukan apa ini?" tanyanya meminta kejelasan.
"Ya kita gantian, Mas yang hamil dan melahirkan tiga anak yang lain gimana? deal?" ucap Diandra lagi.
Gavin melongo, spontan menempelkan punggung telapak tangannya ke dahi dan Diandra, dingin. Ah bukan maksudnya normal dia tidak demam ataupun hipotermia, meskipun tangan Gavin tidak bisa menunjukkan berapa derajat suhu tubuh Diandra saat ini, tetapi dari pengalaman dan pengetahuan yang Gavin miliki suhu yang tersentuh tangannya masuk kategori normal.
"Apaan sih Mas?" Diandra menangkis tangan itu dari dahinya, wajahnya masih mencebik kesal.
"Memastikan kamu tidak demam dan hipotermia," balas Gavin sambil melotot gemas.
"Lulusan FK mana? sejak kapan tangan bisa jadi pengganti termometer untuk mengukur suhu badan?" tanya Diandra sengit.
Tangan Gavin terulur, dia sudah kehilangan kesabaran ditariknya telinga sang istri dengan gemas dan kesal yang bercampur jadi satu.
"Kamu lulusan mana sampai-sampai bilang kalau lelaki bisa hamil dan melahirkan, heh?" Gavin mengembalikan kalimat tanya itu, tangannya masih menjewer telinga sang istri.
"Kenapa pakai tanya? kan dosennya Mas sendiri!" ucap Diandra.
Gavin kembali melotot, melepaskan jeweran tangannya lalu mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa centi lagi.
"Bilang apa tadi sayang?" tanya Gavin begitu lirih, dia menatap jauh kedalam manik mata hitam istrinya, ujung hidung mereka bersentuhan hanya tinggal beberapa senti lagi Gavin bisa meraup bibir glossy dengan aroma cherry itu.
"Coba bilang sekali lagi!" ucap Gavin.
"Kan Mas..."
Diandra tidak dapat melanjutkan kalimatnya, bibir itu membungkam bibir Diandra, tubuh kekar itu memepetnya hingga dia tersudut di kursi yang dia duduki, jantungnya berdegup kencang.
Bukan!
__ADS_1
Bukan karena momen ciuman bibir mereka yang membuat jantung Diandra berdegup kencang, tetapi karena di mana mereka sekarang berada.
"Kau menantang ku, Diandra Safaluna?"