
"Mas! seriusan aku nggak mau kalau lima," ucap Diandra.
Diandra keluar dari mobil, mereka sudah sampai di rumah dan obrolan mereka masih sama membahas jumlah anak yang hendak mereka miliki.
"Kalau yang di atas kasih kita lima, kamu mau apa sayang?" dengan santai Gavin menoleh, membuka pintu rumah dan melenggang masuk ke dalam.
Diandra mencebik, ikut masuk mengejar langkah suaminya itu.
"Kalau benar lima ya aku mau mukulin Bapaknya ini," jawab Diandra tak kala santai, jawaban yang lantas membuat Gavin menghentikan langkah dan menoleh ke arah sang istri yang mulai mengikutinya menapaki anak tangga.
"Apa tadi sayang?" tanya Gavin sekali lagi berharap dia salah dengar.
"Kalau benar lima, aku mau mukulin Bapaknya ini," kembali jawaban itu yang keluar dari mulut Diandra, ditambah pelototan mata gemas dan wajah cemberut.
Gavin tertegun, sedetik kemudian dia meraih tubuh Diandra membawanya dalam gendongan dan kembali menapaki anak tangga.
"Eh Mas, seram turunin ini!" Diandra berteriak, dia mengalungkan tangan di leher Gavin berharap lelaki itu mau menurunkan dia dan membiarkan dia berjalan sendiri.
"Diam atau nanti kita bakalan fraktur tulang karena jatuh berdua, heh?" Gavin bergeming, terus melangkah menapaki tangga dengan Diandra dalam gendongan.
Diandra memejamkan mata, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat hingga kemudian langkah Gavin sampai di anak tangga terakhir, masih dengan Diandra dalam gendongan Gavin bergegas terus melangkah tidak peduli istrinya kembali berontak.
"Mas turunin napa? udah di atas nih," rengek Diandra yang entah mengapa mulai merasa takut.
Gavin tidak menjawab, hanya melirik tajam ke arah sang istri dan terus melangkahkan kaki, sikunya mendorong pintu kamar terus melangkah lalu menjatuhkan tubuh itu ke atas ranjang.
Diandra beringsut bangkit, menjauhi Gavin yang kemudian berbalik dan mengunci pintu kamar.
__ADS_1
"Mas mau ngapain?" sebuah pertanyaan bodoh karena seharusnya Diandra tahu betul apa yang Gavin inginkan jika sudah seperti ini.
"Tadi siapa yang mempertanyakan ancaman di kamar mandi rumah sakit?" Gavin membalikkan badan dengan santai melepas bajunya satu persatu.
Sudah Diandra duga bukan? pasti itu yang om-om mesum itu inginkan hal yang sontak membuat Diandra menyilangkan dua tangan di dada.
Gavin menghela nafas panjang, merangkak naik ke ranjang ketika kain terakhir sudah dia tanggalkan dari tubuhnya, sementara Diandra? dia beringsut menjauh, membuat Gavin lantas meraih pergelangan kaki sang istri dan menariknya mendekat.
"Mas" Diandra memekik tidak terima, melotot menatap Gavin yang kini menindihnya itu.
"Kooperatif dong Dian, tadi siapa yang mancing-mancing? katanya sampai besok pagi pun kamu oke, kenapa sekarang malah begini?" Gavin protes tanpa menyingkirkan tubuhnya dari atas tubuh mungil sang istri.
"Ya tapi kan..." Diandra mendadak kelu, dia tahu betul kalau sudah seperti ini, Gavin tidak bisa diganggu gugat, apalagi benda itu sudah...
Gavin melepaskan atasan Diandra dengan segera membuat wajah Diandra kembali memerah dan dua tangannya kembali menyilang menutupi dada, hal yang benar-benar membuat Gavin gemas setengah mati pada sang istri.
"Dian, pilih pakai cara lembut atau kekerasan, Dian?" Gavin menatap mata itu, sebuah tatapan yang selalu sukses membuat Diandra terlena dan salah tingkah.
"Sesuai perjanjian aku nggak bakalan lepasin kamu sampai pagi, oke?" bisikan itu begitu lirih dan jangan lupa mampu membuat tubuh Diandra meremang seketika.
Diandra membuka mata, tepat di depan matanya sepasang mata tajam itu berada dan menatapnya, menyunggingkan sebuah senyum penuh kemenangan dan kembali meraih bibir itu.
Diandra terkejut, bukan hanya karena ciuman yang agak sedikit liar dari tadi, tetapi terkejut ketika menyadari ternyata Gavin sudah berhasil membuat tubuh Diandra sama polos dengan tubuhnya, jangan lupa dia terkejut ketika milik suaminya itu sudah merangsak masuk ke dalam tubuhnya dengan begitu lembut.
Gavin mengeram, melepaskan pangutan bibir mereka, Diandra menatap wajah itu kenapa dia sangat suka wajah sensual Gavin ketika mereka tengah bercumbu?
#########
__ADS_1
"Kamu yakin kalau Diandra nggak hamil duluan?" tanya Derren.
Derren menelpon Drian, dia tengah di ruang istirahat para Dokter di bagian belakang IGD, duduk bersandar di atas kasur dengan wajah payah, dia masih belum terima selain karena Dokter itu sudah spesialis apakah ada alasan lain yang membuat Diandra lantas mau dinikahi, selisih umur mereka lumayan banyak, apa iya selera Diandra om-om begitu?
"Yakin! Mama kasih lihat testpack punya dia, lagian kamu kenapa sih, udahlah dia udah jadi bini orang Derren," jawab Drian.
Derren mendesah panjang, matanya memanas tanpa perlu Drian tegaskan, Derren juga sudah tahu kalau Diandra sudah jadi istri orang, mana suami Diandra masuk dalam jajaran Dokter spesialis di rumah sakit yang sama dengan tempat Derren bekerja, semua sudah jelas dan Drian tidak perlu memperjelas itu lagi.
"Aku belum terima aja, kok ya mau adekmu sama dia sih, Drian?" itu yang masih jadi pertanyaan Derren.
Dia sudah tahu dan lihat Dokter itu ganteng memang, Derren akui kalau dia tampan tapi melihat jarak umur mustahil kalau Diandra dengan sukarela mau menikah dengan dia, maksudnya mungkin ada suatu hal yang membuat Diandra lantas mau menjadi istrinya, benar apakah karena dia sudah spesialis? itu yang menjadi alasan Diandra mau jadi istrinya?
"Dia baik kok, penyayang, kamu tahu kan Diandra itu manjanya kayak apa, ya mungkin dia cari suami yang bisa sayang dan manjain dia kayak apa yang Papa lakuin ke dia selama ini, kenapa jadi kamu yang repot sih, Derren?" ucap Drian.
"Aku sayang sama adikmu, Drian. Aku udah kasih tahu dari dulu kan, aku naksir adik mu," kembali Derren menegaskan, apakah Drian lupa akan hal itu?
"Ya salam, Derren," terdengar suara itu berteriak.
"Udah berapa tahun, Derren? udah deh kalian nggak cocok," ucap Drian.
Derren melotot, di bagian mana Drian bisa bilang dia dan Diandra tidak cocok? apakah karena dia belum spesialis jadi Drian katakan Derren nggak cocok sama adiknya? sejak kapan sahabatnya ini jadi begini?
"Aku dari SMA nggak macarin cewek, semangat buru-buru jadi Dokter biar bisa sekalian ngelamar adikmu, dan ujung-ujungnya dia dinikahi cowok lain, nyesek tahu, Drian," ucap Derren.
Dada Derren sesak, bagaimanapun dia masih belum terima.
"Tapi faktanya kan dia lebih milih suaminya daripada kamu, udah deh! cewek masih banyak Derren please lah, jangan gangguin mereka cari aja yang lain," ucap Drian.
__ADS_1
Derren merasakan matanya memerah.
"Jadi sekarang kamu lebih memihak dia daripada sahabatmu sendiri, Drian?"