Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Tidak main-main!!!


__ADS_3

Diandra berdecak kesal ketika berkali-kali ponselnya berdering, entah sudah berapa kali ponselnya berbunyi, Diandra membiarkan saja ponsel itu meraung-raung, menutupi wajahnya dengan bantal berharap tidak mendengar suara berisik itu, namun kesabaran Diandra telah habis, Diandra akhirnya meraih ponsel yang berisik setengah mati.


'Suamiku Tercinta'


Sudah Diandra duga bujang lapuk itu yang menelepon! dengan kesal Diandra mengangkat panggilan itu, emosinya membuncah, apalagi yang hendak dia bicarakan dengannya?


"Apaan sih Dok? nggak bisa besok aja gimana," semprot Diandra kesal.


"Kalau besok beda cerita Dian, besok juga paling saya udah sampai sana kok," jawab Gavin.


Emosi Diandra yang tadi siap meledak-ledak sontak surut,, matanya membulat mendengar apa yang tadi dia dengar, besok Gavin bilang besok dia sudah sampai sini?


"Lah? serius Dok?" tentu Diandra terkejut, dia langsung mau datang kemari setelah disuruh Papanya? bukan main!!!


Terdengar helaan nafas panjang dari seberang, dia tahu pasti sosok itu tengah menahan kesal kepadanya, membuat senyum Diandra tersungging di wajahnya, jujur dia suka sekali melihat Gavin kesal oleh sikapnya,, wajah cemberut lelaki itu begitu menyenangkan dilihat.


"Dian... sejak awal saya sudah bilang kalau saya ini serius, Dian," jelas suara itu serius.


"Ya maksudnya kan..."


"Intinya besok saya udah perjalanan ke sana, nanti pulang sama saya," potong suara itu cepat.


"Tadi Profesor Darmawan bilang apa aja, Dian?" tanya Gavin.


Mata Diandra membulat, dia punya ide untuk mengerjai bujang lapuk ini, coba Diandra mau lihat bagaimana polah Gavin jika dia mengerjai lelaki itu.


"Mmmm banyak sih tadi,," Diandra merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya dengan mengulum senyum.


"Iya apa aja?" tampak suara itu tidak sabar.


"Intinya Papa protes dan kaget sih mendadak saya minta nikah," kalau ini Diandra mengatakan yang sejujurnya.

__ADS_1


"Beliau setuju atau bagaimana?" tanya Gavin.


"Papa mau carikan jodoh buat Dokter, banyak mahasiswi Papa yang cantik-cantik katanya Dok," goda Diandra sambil menahan tawa.


Kembali helaan nafas kasar terdengar, sementara mati-matian Diandra menjaga tawanya agar tidak pecah, pasti wajah lelaki itu begitu jelek! ditekuk dan masam sekali,, Diandra yakin itu.


"Saya mau anak gadisnya Dian, saya mau kamu!!! bukan mahasiswi Papamu," dengar suara itu membuat hati Diandra sedikit bergetar.


"Profesor Darmawan nggak ACC Dian? beliau nggak kasih izin kita menikah berarti?" tanya suara itu kembali, nampak kekhawatiran terdengar dalam suara itu.


Pertanyaan itu membuat Diandra hampir terbahak-bahak,, untungnya dia masih bisa menahan keinginan tertawanya, begitu mendengar kalimat tanya barusan.


"Mmm.... sepertinya begitu," Diandra bergumam, wajahnya memerah menahan tawa.


"Kamu bagaimana tadi bilangnya? kenapa bisa sampai beliau nggak ACC?" protes suara itu tampak kesal.


Jika tadi Diandra susah payah menahan tawanya,, kini pertanyaan itu malah menyulut emosi,, kenapa dia yang disalahkan lelaki itu?


"Iya kan kamu bilang dulu kalau saya mau ke sana ujung-ujungnya Papa mu bisa jantungan nanti," ucap Gavin.


Diandra mencebik, dasar tukang cari alasan! sungguh pria menyebalkan! dia benar-benar ilfeel setengah mati dengan lelaki ini.


"Ya intinya besok Dokter disuruh ke sini, karena suruh milih sendiri mahasiswi Papa yang mana, udah gitu aja!" ucap Diandra.


Tuttttt...


Diandra menutup sepihak panggilan itu, dia benar-benar tidak mengerti, kenapa ada lelaki menyebalkan macam Gavin begitu sih? harusnya dia yang kemari bilang langsung,, kenapa dia malah menyuruh Diandra? pakai mengultimatum tidak mau terima penolakan lagi. Laki-laki model apa dia ini? dasar tirani!


Belum ada semenit panggilan itu terputus, kini dering ponsel itu kembali mengejutkan Diandra, membuat Diana menggerutu dalam hati dan mengacak rambutnya dengan gemas.


"Gimana caranya bebas dari bujang lapuk ini ya Gusti," Diandra benar-benar frustasi, rasanya dia benar-benar ingin kabur ke luar negeri. Sebodoh amat dia mau kualat,, toh belum ada jurnal penelitian yang menyatakan dia akan benar-benar kualat kan?

__ADS_1


Panggilan itu berhenti setelah Diandra abaikan beberapa saat, baru saja Diandra hendak mengucap syukur,, panggilan itu kembali mengejutkan dirinya,, kepala Diandra auto sakit, ingin rasanya dia blokir nomor Gavin tapi itu tidak serta merta menyelesaikan masalah.


Cukup lama Diandra menahan diri, sampai kemudian panggilan itu kembali berhenti,, Diandra menanti beberapa saat tidak ada lagi panggilan masuk membuat Diandra lega setengah mati,, menyerah juga lelaki itu menerornya,, dia hendak memejamkan mata namun notifikasi pesan masuk membuat matanya kembali terbuka.


Pasti bujang lapuk itu! Diandra meraih ponsel,, mendapatkan pesan dari nomor Gavin masuk ke ponselnya, Diandra membuka pesan itu, pesan yang berhasil membuat mata Diandra terbelalak dan emosinya kembali terpancing.


( Oke pembicaraanmu gagalkan? masuk rencana kedua, mau booking di mana? atau cukup di kamar saya? )


Darah Diandra mendidih, dia memegang ponselnya dengan gemas, rasanya dia ingin berteriak-teriak seperti biasa tapi mana bisa? Mama dan Papanya bisa dengar dan urusan makin runyam! Diandra menjatuhkan ponsel ke kasur,, mengusap wajahnya dengan kedua tangan sambil membayangkan memukuli lelaki itu sekeras-kerasnya.


"Dasar bujang lapuk! udah rese,, ngeselin,, judes mana mesum lagi!" ucap Diandra.


###########


Gavin memejamkan matanya erat-erat,, berkali-kali menghembuskan nafas panjang sambil berusaha menenangkan diri, benarkah apa yang dikatakan Diandra tadi? benarkah bahwa Profesor Darmawan menolak dirinya sebagai calon menantu dan malah hendak menjodohkan dirinya dengan mahasiswinya?


Gavin hanya ingin Diandra! kenapa tidak ada yang paham!!!


"Jangan-jangan dia cerita kalau aku tekan supaya mau nikah sama aku," Gavin mulai berasumsi,, kalau tidak mana mungkin Profesor Darmawan lantas malah hendak mencarikan calon istri untuknya?


Bisa jadi seperti itu! lantas lelaki itu menelepon dan menyuruhnya ke sana untuk dikenalkan dengan para mahasiswinya.


"Ah! tau begini kemarin aku ikut dia pulang, aku sendiri yang langsung bilang," Gavin merutuki kebodohannya sendiri.


Sekarang semuanya jadi kacau, harusnya dia sadar,, Diandra menunjukkan penolakan, otomatis dia tidak akan berusaha keras untuk membuat Papanya lantas menyetujui rencana lamaran Gavin!


"Aku nggak main-main Dian! ku perkosa beneran kamu sampai hamil!!! geram Gavin kesal.


Tapi apakah itu tidak akan berdampak buruk padanya? bisa saja dia nanti akan dilaporkan ke polisi, dilaporkan ke KKI dan MKEK? di cabut gelar Dokternya dan kena pidana,, itu sama saja bunuh diri! Gavin tidak hanya akan kehilangan izin praktiknya tetapi juga masuk penjara.


Mendadak kepala Gavin begitu pening,, dia ingin sesegera mungkin sampai di sana, memohon langsung pada Profesor Darmawan untuk menikahi anaknya dan akan melakukan apapun yang laki-laki itu minta demi bisa menikahi Diandra.

__ADS_1


"Kenapa jadi nafsu banget mau menikahi dia sih? kenapa aku malah nggak cari yang lain? bukankah dia begitu menyebalkan? kenapa sekarang jadi begini?" ucap Gavin.


__ADS_2