Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Kedatangan Gavin...


__ADS_3

Diandra tengah rebahan malas di atas kasur ketika pintu kamarnya diketuk tanpa beranjak ataupun merubah posisinya,, Diandra berteriak mempersilahkan siapapun orang yang mengetuk pintunya itu masuk ke dalam kamar, dari posisinya yang terbaring dengan kepala menjuntai ke bawah itu Diandra bisa melihat Mbok Lastri masuk ke dalam.


"Astaga! Non ngapain?" tentu wanita paruh baya itu terkejut dengan posisi Diandra rebahan yang terlihat begitu absurd.


Sebodoh amat, selain tengah meratapi nasibnya Diandra juga memanfaatkan waktu yang dia punya untuk rebahan sebelum dia kemudian disibukkan dengan segala macam ***** bengek urusan perkoasan.


"Meratapi nasib Mbok, nggak tau juga mau ngapain," ucap Diandra tanpa beranjak dari posisinya.


Mbok Lastri lantas geleng-geleng kepala, masuk kemudian duduk di tepi ranjang,, tepat berada di sisi Diandra.


"Kalau begitu mending turun deh, ada tamu nyariin bapak,, Non," ucap Mbok Lastri.


Mata Diandra membulat,, tamu? mencari Papanya? tapi kenapa malah dia datang ke rumah? semua sudah hafal betul bahwa di jam-jam seperti ini akan sangat mustahil bisa menemui sang Papa ada di rumah, kecuali ya libur,, hari besar dan hari Minggu tetapi kenapa orang itu di weekdays seperti ini datang ke rumah?


"Siapa Mbok?" kini Diandra mengangkat kepalanya, menengadah dan menatap Mbok Lastri penuh rasa penasaran.


"Mana si Mbok tahu Non, coba Non Diandra turun dulu deh," jawab Mbok Lastri sambil tersenyum.


"Tamunya ganteng banget Non, macam artis Korea," ucap Mbok Lastri yang pernah menonton film Korea ketika Diandra nonton.


Diandra menatap nanar wajah Mbok Lastri yang berseri-seri,, tamunya ganteng? jangan-jangan...


Tanpa di komando, Diandra segera melompat turun dari kasurnya berlari meninggalkan Mbok Lastri yang nampak kaget dan terkejut. Dia segera menuruni anak tangga, setengah berlari dan membuka pintu depan rumah.


Diandra tertegun, ketika benar sosok itu yang dia temui di kursi teras, nampak santai dan kasual dengan kaos hitam yang dia kenakan, sosok itu tersenyum bangkit ketika Diandra muncul dari balik pintu.

__ADS_1


"Dokter ngapain ke sini?" tanya Diandra spontan,, pertanyaan yang membuat senyum yang tadinya tersungging di wajah itu kini lenyap.


"Please, Dian! saya disuruh Papa kamu ke sini,, kamu lupa?" jawab lelaki itu dengan tatapan kesal.


Diandra langsung menepuk jidat sambil bersandar lemas di pintu, dia pikir pulang ke Jakarta barang sejenak akan menjauhkan Diandra dengan lelaki menyebalkan ini, nyatanya malah dia ikutan nyusul!! apes memang Diandra ini!!!


"Astaga... kenapa Dokter nggak bilang dulu kalau udah perjalanan kek atau apa kek," Diandra masih tidak percaya Gavin bisa secepat ini sampai di rumahnya.


"Kalaupun tadi saya bilang, memang kamu akan peduli?" gumam Gavin balik bertanya.


Diandra sontak membelalak,, memang ada benarnya juga apa yang Gavin katakan,, Diandra mungkin tidak akan peduli dengan laporan yang Gavin kirim perihal kedatangannya kemarin, tapi mendadak muncul macam hantu seperti ini membuat Diandra makin gemas dan kesal pada lelaki akhlak-less macam Gavin ini.


"Ini saya nggak boleh masuk Dian?" tanya Gavin.


Diandra tersentak menatap gemas ke arah lelaki itu dan membuka pintu lebar-lebar.


Gavin hanya tersenyum, melangkah masuk dengan tangan terulur mengacak rambut Diandra,, secepat kilat Diandra melayangkan tangan menepis lengan kokoh itu, heran dia apakah Gavin itu dilahirkan hanya untuk membuat Diandra ketiban sial? apakah misi hidupnya di dunia hanya untuk itu?


"Numpang ganti baju boleh? terus bisa antar saya ke rumah sakit? sebentar lagi makan siang,, saya ingin secepatnya bertemu beliau," Gavin menoleh,, menatap Diandra yang masih berdiri memeluk pintu.


"Kenapa harus sama saya sih Dokter?" protes Diandra yang sebenarnya masih ingin goler-goler manja di atas kasur.


Nampak Gavin membelalak,, sudah Diandra pastikan kalau jarak mereka dekat, yakin pasti Gavin akan menjewer atau mencubit pipinya, dia sudah hafal betul dengan kelakuan menyebalkan bujang lapuk ini!


"Anaknya kamu Dian, dan kita mau bahas hal penting," ucap Gavin.

__ADS_1


Diandra mendengus kesal,, tiba-tiba dia ingat perihal kebohongan apa yang kemarin dia katakan pada Gavin, pertanyaan Gavin akan izin menikah mereka.


"Kita? kenapa jadi kita Dok? kan Dokter di undang ke sini mau dikenalin sama mahasiswinya Papa," wajah Diandra nampak serius,, berharap lelaki itu percaya.


Gavin melangkah mendekati Diandra, hal yang membuat Diandra hendak melangkah menjauh ketika tangan kekar Gavin mengunci tubuhnya diantara pintu dan tumbuh kekar lelaki itu. Mata Gavin menatap lurus ke dalam mata Diandra,, wajah mereka begitu dekat karena Gavin terus memepet Diandra seolah tidak memberi ampun.


"Kalau saya bersikeras cuma mau anak beliau bagaimana Dian? kalau saya cuma mau kamu dan rela melakukan apa saja demi bisa menikahi kamu dan mendapatkan imbalan atas flashdisk yang saya temukan,, kamu mau apa?" ucap Gavin.


#################


Diandra buru-buru menutup pintu kamarnya, dengan nafas terengah-engah,, Diandra berdiri di belakang pintu kamar dengan wajah memerah,, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dengan nafas tidak beraturan,, wajahnya merah padam efek apa yang barusan dia alami.


Gavin memang tidak sampai menciumnya tadi,, tetapi jarak wajah yang begitu dekat dan tubuh mereka yang hampir menempel membuat Diandra kaget dan hampir gila! perpaduan aroma lavender, jeruk dan lemon yang menguar dari tubuh Gavin semakin membuat Diandra tidak karu-karuan.


"Astaga," desis Diandra sambil mengelus dada.


"Ini beneran gila!!! dasar lelaki nyebelin," Diandra menghentak-hentakan kakinya di lantai,, rasanya dia gemas setengah mati dengan lelaki satu ini.


Kenapa sih semenjak sumpah sialan itu Diandra ucapkan, dia sama sekali tidak bisa terbebas barang sebentar saja dari Gavin, bahkan dia sampai Jakarta pun juga Gavin kejar,, Diandra menepuk jidatnya berkali-kali, benar-benar tidak mengerti bagaimana caranya bisa meloloskan diri dari jerat sumpah dan jerat bujang lapuk ini.


Diandra melangkah dengan gontai menuju kasur,, menjatuhkan diri di atas kasur untuk meratapi nasibnya, apakah sang Papa nanti akan tidak menyetujui? tapi konsekuensinya begitu mengerikan kalau Gavin nantinya benar-benar nekat hendak menghamilinya agar pernikahan itu bisa terjadi!


"Nikah sekali seumur hidup saja, kenapa nasib Diandra harus kayak gini, Tuhan?" Diandra menjerit kecil,, mengacak rambutnya dengan gemas.


Sedetik kemudian Diandra ingat bahwa dia harus mengantar bujang lapuk itu bertemu sang Papa, Diandra lantas bangkit melangkah menuju lemari pakaian untuk memilih baju apa yang hendak dia kenakan. Pergi dengan om-om itu memang menyusahkan! Diandra harus hati-hati memilih baju. Pilihan Diandra lalu jatuh pada sweater beban rajut miliknya, dia padukan dengan celana jeans hitam serta flatshoes,, rasanya sudah cukup.

__ADS_1


Diandra baru hendak membuka bajunya, ketika dering ponsel itu mengejutkan Diandra secara tiba-tiba, Diandra membawa sweater dengan corak buah cherry di tangannya, melangkah menghampiri ponsel yang tergeletak di kasur.


"Papa?" alis Diandra berkerut, tumben Papanya menelepon? atau jangan-jangan...


__ADS_2