
Diandra menjatuhkan diri duduk di tepi ranjang, sementara Gavin menghela nafas panjang sambil geleng-geleng kepala bahkan hanya mencium Diandra saja Gavin tidak bebas bagaimana mau menggarapi istrinya kalau kayak gini.
"Kenapa nggak dikunci sih Mas?" wajah Diandra jadi merah padam, bagaimana tidak malu? kepergok ibu mertua tengah berciuman dengan begitu panas macam tadi, siapapun pasti akan malu bukan?
"Ya mana Mas tahu kalau ibu mau tiba-tiba masuk sayang," Gavin sendiri pun sama wajahnya merah padam, kenapa begitu absurd perjalanan awal pernikahan mereka, setelah akhirnya Gavin dan Diandra berdamai dan saling mengakui perasaan masing-masing.
"Malu tahu Mas," desis Diandra sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan, rasanya dia ingin ngakak menertawakan hal gila yang dia dan Gavin alami di rumah mertuanya ini, pantas saja sang suami sampai rela berbohong dan menciptakan toko fiksi bernama Profesor Rian tadi jadi karena ini.
"Kamu pikir Mas ini nggak malu apa?" Gavin terkekeh, menghirup udara banyak-banyak lalu menghembuskan perlahan.
"Udah ayo packing, lebih cepat pulang lebih baik, nggak kuat aku," ucap Gavin lagi.
Gavin kembali sibuk dengan koper dan barang-barang yang hendak dibawa, sementara Diandra mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur menatap langit-langit kamarnya sambil menelaah dosa apa yang sudah mereka lakukan sampai-sampai mau bermesraan di rumah ini saja susahnya minta ampun.
"Dian, please jangan mancing aku dengan pose pasrah macam itu ya, aku trauma mau ngapa-ngapain kamu di rumah ini, Dian" gumam Gavin gemas melihat istrinya terlentang pasrah di atas ranjang macam itu.
Diandra melirik sekilas, dia lantas memiringkan badan dengan satu tangan menopang kepala.
"Gatal ya Om? mau dedek gemes ini service?" goda Diandra dengan senyum jahilnya.
"Om katamu? setua itukah suami kamu ini sayang?" Gavin menggerutu menatap tajam ke arah Diandra yang seperti tanpa dosa menggoda dirinya, awas saja kalau sampai Solo nanti, entah akan Gavin apakan Diandra ini.
"Canda ih gitu aja marah," Diandra bangkit, duduk di atas ranjang lalu mengikat rambutnya tinggi-tinggi menampilkan buah benda kenyal yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil itu membuat Gavin kembali mengeram menahan gemas.
Gavin kembali fokus pada kopernya, mengabaikan Diandra yang kini turun dari kasur dan melangkah memungut barang-barang yang ada di meja, Gavin tidak mau tahu nanti sore, hari ini juga dia dan Diandra harus bisa pulang dan nanti malam Gavin akan pastikan bahwa Diandra tidak akan bisa tidur semalaman, Diandra harus membayar semua kegagalan yang Gavin dapatkan sampai detik ini, Gavin ingin menguras semua madu Diandra meneguknya sampai habis tidak peduli Diandra mohon ampun sekalipun.
__ADS_1
"Mas besok sore antar ke toko buku yah? pengen beli sesuatu," ucap Diandra.
Kali ini Gavin tidak terlalu memperhatikan permintaan sang istri, terlalu sibuk memikirkan apa-apa saja yang akan dia lakukan ketika sudah tiba di rumah nanti, intinya Diandra harus dia taklukan, Gavin tidak akan memberi ampun, tidak sebelum semua sakit kepalanya terbayarkan.
#########
"Live streamingnya apaan tadi Bu?" kakak Gavin begitu kepo namun dia harus pasrah diseret sang Ibu dari depan kamar Gavin.
"Sssttttt..." Mira melotot, sebuah pelototan yang malam memecah tawa Kakak Gavin.
"Jangan gangguin adikmu, biar cepat hamil itu istrinya," ucap Mira lagi.
Tawa Kakak Gavin makin keras, tidak tahu aja ibunya bahwa kemarin dia bersama dua saudaranya yang lain berhasil dan sukses mengganggu malam indah pengantin baru itu, menyelundupkan Sisil ke kamar mereka ternyata sukses membuat sejoli itu tidak mendapatkan privasi mereka untuk sekedar ***-***.
"Ya kan siapa tahu mereka kejar tayang nggak ada yang tahu juga kan?" intinya Mira ingin mereka segera punya anak, sudah lama Mira ingin menggendong anak dari Gavin.
Mata Kakak Gavin membulat, dia menepuk tangan sang ibu dengan tatapan terkejut.
"Atau jangan-jangan mereka udah sering gituan sebelum nikah Bu, jadi udah terbiasa dan gak kerasa sakit lagi sih Diandranya," tuduh Kakak Gavin yang langsung mendapatkan gebukan di punggung.
"Hush,, mana mungkin, lihat kembang tibo dodo Diandra masih segar, harum itu tandanya Diandra masih perawan," tentu Mira masih percaya akan mitos itu
Mitos yang mengatakan bahwa jika bunga juntai tibo Dodo yang biasa pengantin adat Jawa gunakan sebagai aksesoris masih segar, harum semerbak itu tandanya bahwa pengantin perempuan masih dalam kondisi perawan ketika menikah, kalau bunganya layu, memerah dan tidak lagi wangi maka itu tanda bahwa pengantin perempuan sudah tidak perawan.
Entah mitos itu benar, hanya mitos atau fakta yang jelas Mira lihat betul bunga yang dikenakan Diandra baik di Jakarta maupun semalam masih begitu segar dan semerbak harum baunya, padahal bunga itu sudah di ronce, dirangkai bahkan sejak dua hari yang lalu hanya modal daun pisang dan disimpan di kulkas, melati kantil dan bunga yang lain masih tetap segar dan semerbak, sebuah bukti yang Mira pegang kalau menantunya itu masih perawan tinting ketika Gavin nikahi.
__ADS_1
"Ah mitos itu Bu," nampak Kakak Gavin sengaja menggoda dan mengompori ibunya.
"Gavin sudah umur berapa sih? pasti penasaran dong Bu, mana pacarnya kan secantik Diandra, bisa aja mereka udah celap-celup duluan," ucap Kakak Gavin lagi.
Mira mendengus mengulurkan tangan lalu menjewer telinga Kakak Gavin sampai anak perempuan satu-satunya yang Mira miliki itu menjerit kesakitan.
"Kamu itu yah sukanya su'udzon sama adik sendiri,," omel Mira gemas.
"Nggak mungkin Gavin kayak gitu, Ibu tahu betul gimana adik kamu," ucap Mira lagi.
Tawa Kakak Gavin sontak pecah, Kakak Gavin juga tahu kau bagaimana sifat adiknya ini, Gavin tidak akan berani berbuat macam-macam, dia sengaja hanya ingin menggoda sang Ibu saja.
"Iya,, iya bercanda doang tadi Bu," ucap Kakak Gavin.
Mira mencebik, kembali menarik tangan Kakak Gavin turun dari lantai atas.
"Aduh mau ke mana sih?" Kakak Gavin nampak protes, dia mau dibawa ke mana?
"Ikut ke dapur aja deh ya bantuin ibu, daripada nanti kamu gangguin adikmu dan ibu gagal nambah cucu," ucap Mira.
Tentu sebagai ibu, Mira tahu Kakak Gavin dan saudaranya yang lain sering mengisengi Gavin, jadi Mira tidak mau mengambil resiko acara spesial mereka terganggu, Mira ingin punya cucu lagi, cucu yang berasal dari Gavin.
"Ah malas Bu, mau packing lagi aja deh, besok juga aku harus pulang, suamiku izin cutinya sudah habis Bu," ucap Kakak Gavin.
Mira bergeming terus membawa Kakak Gavin ke dapur tidak peduli anak perempuannya itu menolak, intinya Gavin dan Diandra harus segera punya anak titik.
__ADS_1