Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Sekarang dia harus bagaimana?


__ADS_3

Kiki benar-benar tidak menyangka, Mas Dokter menyebalkan ini ternyata baik juga, kini mereka duduk berhadapan dengan seporsi nasi dan ayam goreng yang baunya sungguh benar-benar menggoda iman Kiki.


Kiki menatap lelaki itu dari tempatnya duduk, kalau sedang diam dan kalem macam ini kenapa pesona yang terpancar dari pribadi itu benar-benar luar biasa, tapi kalau lagi mode on cerewet jangan tanya Kiki saja rasanya ingin kabur dan malas berhubungan dengan lelaki ini.


"Makan dulu, entar baru aku antar ke kantor buat ambil motor sama barang kamu," ucapnya sambil mulai menyuapkan nasi dan suwiran ayam ke dalam mulut.


Agaknya cowok ngeselin itu lapar juga, bisa Kiki lihat dari bagaimana dia makan, tapi sialnya cacing perut Kiki yang gak ada akhlak kenapa pakai bunyi segala sih? dua kali pula, tengsin setengah mati jadinya.


"Terima kasih banyak Mas," desis Kiki akhirnya dengan suara lirih.


Dia mulai menyuapkan nasi jatahnya, menikmati ayam goreng dengan sambal tomat itu setelah semalaman dia menahan lapar.


"Ngomong-ngomong, kamu ini masih kuliah atau bagaimana?" tanya lelaki itu.


Kiki menelan nasinya dengan susah payah, dia ini Dokter jadi tetap pada prinsip aturan tidak tertulis yang tadi Kiki katakan, dia tidak boleh mengaku kalau dia ini anak Fakultas Kedokteran yang mulai minggu depan sudah aktif koas.


Bisa-bisa habis Kiki di bully Dokter tengil ini, intinya rahasia ini harus tetap aman!


"Masih kuliah Mas, semester akhir" jawab Kiki berbohong, padahal dia sudah wisuda sudah sah menyandang gelar Sarjana Kedokteran.


"Oh, ambil jurusan?" wajah itu terangkat menatap Kiki dengan seksama.


"Seni tari" jawab Kiki.


Entah setan apa yang merasuki Kiki, otaknya mendadak bisa sampai pada jawaban edan yang entah dari mana Kiki bisa memikirkan jurusan itu, seni tari? badan Kiki kaku setengah mati dan dia suruh menari? hancur sudah tatanan dunia kalau begitu.


"Wah pas banget," nampak dia menjentikan jari, hal yang sontak membuat Kiki melongo terkejut.


"Keponakan ku kebetulan cari guru tari, bisa menjadi guru tari keponakan ku?" tanya lelaki itu.


Skakmat!!!


Edan!!! ini sungguh edan!!! Kiki disuruh jadi guru tari? hancur lebur tidak berbentuk nanti muridnya punya guru macam Kiki ini.

__ADS_1


"Ke...keponakan Mas umur berapa emang?" keringat dingin mulai mengucur dari dahi Kiki, mendadak rasa lezat dan nikmat ayam goreng yang tersaji di hadapan Kiki lenyap entah kemana, jantung Kiki berdegup dua kali lebih cepat, kenapa jadi dia mengaku mahasiswi jurusan seni tari sih?


"Masih SD, gimana kamu bisa?" kejar lelaki itu yang nampak begitu serius.


Kiki nyengir lebar, harus dia jawab apa sekarang? otak Kiki berputar mencari celah untuk menyelamatkan diri, kebohongan apalagi yang bisa Kiki pakai tanpa harus menjerumuskan dia pada kesialan?


"Ah... a... anu Mas. Untuk saat ini belum bisa, fokus ke skripsi dulu" ucap Kiki.


Kiki sangat berharap lelaki itu percaya dan bisa mengerti, kalau tidak? habis sudah riwayat Kiki, Kiki menatap wajah itu dengan takut-takut, hatinya mendadak lega ketika akhirnya lelaki itu mengangguk pelan tanpa banyak bicara lagi.


"Sayang deh butuhnya sekarang sih, ya udah lancar-lancar buat skripsi kamu," ucap lelaki itu.


"Ma... makasih Mas," Kiki tersenyum, kembali dia fokus pada makanannya.


Dari cara bicara, bisa Kiki lihat lelaki ini lelaki yang baik, hanya saja entah mengapa sikapnya yang rese dan tengil itu sungguh terkadang membuat Kiki sakit kepala dan kesal, ada lelaki model begini? baru kali ini Kiki temui dan rasanya Kiki sudah tidak ingin bertemu dengan lelaki model begini lagi.


Kiki kembali fokus dengan makanannya begitu pula dengan lelaki tengil itu, tidak ada lagi pembicaraan membuat Kiki kembali sadar bahwa lelaki ini seorang Dokter.


Dokter apa? dia praktek di mana?


########


Diandra buru-buru memakai baju, menyisir rambut lalu melangkah ke luar dari kamar, mimpi apa dia semalam tiba-tiba ada inspeksi mendadak macam ini? agaknya Diandra lupa dia terlalu lelah semalam sampai tidak bisa mengingat mimpi apa yang membuainya dalam tidur.


"Ibu? kok nggak nelpon aku, Bu? kan bisa aku jemput nanti," Diandra buru-buru meraih tangan Mira, mengecupnya dengan penuh hormat.


"Ah... Ibu nggak mau repotin kamu, Gavin udah berangkat? naik apa dia? kenapa mobilnya masih di depan?" tangan Mira mengelus lembut pipi Diandra, membuat senyum Diandra tidak lepas dari wajahnya.


"Bawa mobil aku, Bu. Ibu sudah sarapan? tadi naik apa?" tanya Diandra.


Mira tersenyum dan menggeleng.


"Kamu udah sarapan? temenin Ibu sarapan yuk!" ucap Mira.

__ADS_1


Diandra mengangguk, tanpa diminta pun dia akan ikut sarapan, dia belum makan apapun, Diandra mengikuti langkah Mira duduk di kursi yang ada di meja makan.


Di meja makan sudah terhidang banyak sekali makanan lengkap dengan buah, roti dan beberapa selai tersedia di sana.


"Dian, kamu mulai koas kapan?" jika Diandra lebih memilih mengambil setangkup roti dan selai kacang maka Mira menjatuhkan pilihannya pada nasi goreng dengan telur ceplok untuk menu makanannya pagi ini.


"Senin depan itu, Bu. Sudah mulai aktif," jawab Diandra.


"Di rumah sakit yang sama si Gavin?" tanya Mira.


Diandra menatap Mira sambil mengangguk dan tersenyum, tangannya mengoles selai kacang itu ke lembar roti tawar miliknya.


"Iya Bu, kan rumah sakit pendidikannya di tempat Mas Gavin," jawab Diandra.


Mira yang sudah mengunyah nasi dalam mulut sontak mengangguk pelan.


"Bagus, kan nanti semisal kamu hamil jadi tenang Gavin kerjanya, masalahnya itu anak orangnya nggak bisa slow apalagi kalau menyangkut orang yang dia sayangi, istri sama anak misalnya" ucap Mira.


Diandra yang sudah menggigit roti hampir tersedak roti yang memenuhi mulutnya, matanya membulat mendengar apa yang tadi keluar dari mulut Ibu mertuanya.


Apa tadi Mira bilang? hamil? tapi kan...


"Gavin sudah bilang soal program bayi kembar, Dian?"


#########


Gavin menghela nafas panjang, mengusap wajah dengan tangan, Ibunya datang sudah bisa Gavin tebak kali ini misi ibunya ke sini untuk apa, ternyata menikah tidak serta merta membuat Gavin terlepas dari kecerewetan ibunya, buktinya sekarang Mira sudah berada di rumahnya setelah ini dipastikan Gavin akan sakit kepala berkepanjangan.


Ah... bukan hanya dia agaknya Diandra juga.


Mendengar Ibunya sudah di rumahnya pun, kepala Gavin sudah begitu sakit, dalam otaknya sudah membayangkan apa-apa saja yang akan terjadi nanti, ibunya akan cerewet yang macam apa sudah bisa Gavin tebak.


'Ibu mau cucu kembar, Vin. Program bisa kan?'

__ADS_1


'Aku hamilnya nanti kalau udah beres koas aja yah, Mas?'


Gavin memijit pelipisnya perlahan, sekarang dia harus bagaimana?


__ADS_2