
"Kiki, langsung ikut saya ke IGD ya."
Kiki membelalak, baru pertama koas juga dan dia langsung diajak residen anak tahun ke dua itu untuk ikut dia ke IGD? Ah... rasanya visiting bangsal lebih dia butuhkan untuk sekedar mengingat dan hafal ruang per ruangan sekaligus kenalan sama perawat di poli, tapi kenapa ini... ah! Kiki tidak bisa berkutik, bisa apa keset rumah sakit macam dia ini?
"Ba-baik, Dokter."
Wanita dengan paras ayu dan kulit kuning langsat itu tersenyum. Dari wajahnya bisa Kiki lihat kalau dokter Una orangnya sabar dan tidak banyak bicara. Beda dengan penanggung jawab Diandra, wajahnya jutek, judes persis seperti suami Diandra! Apes memang si Diandra, agaknya dia memang dikelilingi orang-orang yang bermuka dingin.
Kiki mengekor di belakang Dokter Una. Di sana pasti bakal banyak koas juga, entah yang baru masuk seperti dia atau koas senior yang sudah mau lulus. Harapan Kiki tentu supaya mereka bisa diajak kerja sama dan tidak ada persaingan tidak sehat di sini.
Masa iya sih, dalam sumpah Dokter nanti mereka bersumpah akan memperlakukan sejawat seperti saudara sendiri, tapi untuk masalah seperti ini masih saling jegal? Malu dengan isi Hipocratic Oath dong!
"Asli sini, Dek?"
Kiki tersentak, dia menoleh dan menatap wajah teduh itu dengan senyuman.
"Tangerang, Dok. Dokter sendiri asal mana?" tentu Kiki harus banyak mengobrol dengan Dokter Una, dia akan sangat butuh bantuan Dokter Una selama menjalani koas di bagian anak ini nanti.
"Asli Malang. Dulu S1-nya lulusan sana, eh dapat rejeki kerja di sini, rejeki PPDS juga di sini. Dapat jodoh pun di sini." Nampak sosok itu tertawa lirih, membuat Kiki ikut tertawa dan berusaha menyimak tiap-tiap obrolan mereka.
"Kayak si Diandra tuh, Dok. Dapat jodohnya juga di sini." Dan Kiki pun sama, jujur dia juga sangat berharap bisa mendapat jodoh di sini. Dia sudah kadung nyaman dan senang tinggal di sini. Ya walaupun kalau benar dia dapat jodoh di sini, orang sini, ketika internship nanti harus rela pergi ke wahana yang terpilih untuknya, tetapi setidaknya kelak juga Kiki kembali ke kota ini, bukan?
"Oh ya? Dapat jodoh di sini? Jangan bilang kalau Diandra itu udah ni--."
"Yups! Dia memang baru nikah, Dok. Itungannya masih pengantin baru banget lah." Kontan Kiki menahan tawa jika teringat bagaimana dulu Diandra bisa lantas menikah dengan suaminya. Kocak, konyol dan sangat absurb sekali!
__ADS_1
Nampak wajah Dokter Una terkejut, sudah Kiki duga. Karena memang untuk anak medis terlebih Dokter macam mereka ini, masalah jodoh dan pernikahan lebih banyak yang molor. Pendidikan is number one! Itu alasan kuatnya, alasan lain tentu jalan terjal yang masih harus mereka lalui demi mimpi dan cita-cita menambah gelar di belakang nama. Selain waktu yang tidak sebentar dan biaya yang banyak, perlu diingat bahwa selama residensi, mereka tidak akan mendapat gaji. Yang bilang jadi Dokter itu enak? Sini, mau Kiki sedot ubun-ubun kepalanya!
Enak memang kalau turun temurun keluarga semuanya Dokter. Koneksi luas dan kuat, apalagi kalau emak bapaknya punya rumah sakit sendiri. Tapi untuk yang berdarah muggle alias bukan dari keluarga Dokter macam Kiki ini? Nangis darah untuk bisa jadi Dokter! Serius!
"OMG, masih imut banget padahal wajah dia. Nggak nyangka udah nikah." Desis Dokter Una sambil tersenyum getir.
Dia nikah dulu hampir dua puluh sembilan tahun, tentu setelah beres internship dan mendapat pekerjaan di sebuah rumah sakit swasta di kota ini.
"Imut-imut begitu dia udah doyan sama yang di dalam celana, Dok. Jadi please jangan ketipu." Gumam Kiki sambil mencebik. Entah mengapa rasanya dia begitu cepat bisa akrab dengan sosok ini.
Tawa Dokter Una pecah, dia terbahak- bahak sambil menimpuk bahu Kiki dengan gemas. Sementara Kiki ikut terkekeh. Benar, kan, yang dia katakan? Udah doyan Diandra sama yang ada di dalam celana suaminya. Testimoni Diandra beberapa hari yang lalu bahkan masih melekat kuat di ingatan Kiki.
Melayang dan meledak-ledak di udara katanya? Lebay!
"Manusiawi itu, Dek. Akan ada saatnya kamu juga bakalan begitu, kok. Tinggal nunggu timming aja." Desis Dokter Una lirih.
"Nanti-nanti dulu lah, Dok. Masih pengen hore-hore."
Dokter Una kembali menepuk bahu Kiki dengan begitu lembut.
"Itu rencanamu, kan? Kalau rencana Tuhan lain, mau apa coba? Kayak Diandra, pasti dia juga nggak rencana mau nikah selepas wisuda, eh buktinya dia udah nikah sekarang."
Kiki menghela napas panjang, kenapa Dokter Una jadi malah menakut-nakuti dirinya macam ini, sih?
"Iya juga sih, tapi kalau boleh minta, aku biar beres dulu lah, Dok. Biar dapat tempat praktik juga dulu." Sebuah permohonan Kiki mengingat dia sudah berjanji pada orang tuanya akan fokus dan berjuang jadi Dokter dan tidak akan menikah sebelum bisa praktik sendiri.
__ADS_1
"Iya deh, semoga ya?" Dokter Una tersenyum. Mereka hampir sampai IGD." Eh ngomong-ngomong suami Diandra itu Dokter juga atau gimana?"
Kiki kontan menggangguk cepat. "Iya, Dokter juga, Dok. Dinas di sini malah. Dulu dosen kami, nah kenalnya di kampus, Dok." Tentunya Kiki tidak perlu menceritakan masa lalu Diandra dan Dokter Gavin yang begitu absurb itu, termasuk sumpah yang membuat Diandra kini bisa menyandang gelar nyonya Gavin.
"Oh ya? Siapa, Ki?" nampak wajah itu begitu penasaran.
"Dokter Gavin Narendra Putra, Dok."
"APA?"
***
Diandra mencebik, kenapa juga penanggung jawabnya di stase awal koas harus lelaki yang 11/12 dengan suaminya dulu? Judes setengah mati, wajahnya jutek dan kaku. Residen anak itu harus LDM alias Long Distance Marriage sama istrinya jadi wajahnya selalu ditekuk macam itu? Atau dikejar-kejar mertua supaya cepat lulus? Ah... horor sekali rasanya.
"Diana nanti jangan lupa sebelum balik follow up pasien loh. Lapor ke saya nanti."
Diandra mencebik, "Maaf, nama saya Diandra, Dok. Bukan Diana." Heran dia, Dokter satu ini kenapa sih? Mending kalau ganteng kayak suaminya, judes bin galak pun fans Gavin banyak. Lah ini?
"Loh salah berarti?" dia menoleh, menatap Diandra sekilas.
Diandra menghela napas panjang.
"Ya salah dong, Dok! Kan mama papa saya kasih namanya Diandra, bukan Diana. Ini kalau ada pasien kasusnya kayak gini bisa salah treatment ini, asal Dokter ganti namanya." Protes Diandra tidak kenal takut. Jiwa pemberontaknya keluar.
"Ya kan baru aja kenal, sah-sah saja salah." Jawabnya santai.
__ADS_1
Diandra mengeram, akan ada berapa manusia lagi yang model begini di rumah sakit ini? Mendadak kepalanya jadi pusing. 'Ya Tuhan... pengen auto jadi spesialis saja, Tuhan!'