Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Tidak sabar!


__ADS_3

Diandra terkejut, matanya lantas mengerjap ketika dia merasakan tepukan lembut itu mendarat di pipi, perlahan-lahan Diandra mulai membuka mata mendapati wajah sang suami tersenyum begitu manis dan berjarak begitu dekat dengan wajahnya.


"Sayang udah sampai nih, turun yuk!" bisik suara itu sambil terus membelai pipi Diandra dengan begitu lembut.


Diandra terkejut, dia segera membuka mata lebar-lebar, mengangkat kepala dan menatap ke sekeliling, benar saja mereka sudah sampai rumah! ini Gavin yang terlalu kencang membawa mobil atau dia yang terlalu lama dan nyenyak tertidur.


"Lah... udah main sampai rumah aja?" Diandra menguap, masih belum percaya kalau mereka sudah sampai rumah.


Gavin mencebik, membuka seat belt sang istri dan membantu Diandra turun, Diandra masih berusaha mengembalikan separuh nyawanya yang belum kembali, beberapa kali dia menguap dan mengerjap, benar saja mereka benar-benar sudah sampai rumah.

__ADS_1


Rumah itu nampak sepi, Gavin segera menarik tangan sang istri masuk ke dalam rumah, hal yang membuat Diandra mempertahankan posisinya dan membuat Gavin menoleh dengan alis berkerut.


"Kenapa sih?" tanya Gavin yang nampak tidak sabar dan Diandra tahu betul kenapa Gavin seperti itu.


"Koper kita masih di bagasi, Mas!" desis Diandra gemas sebegitu tidak sabar ya Gavin ini.


"Udah Mas bawa naik ke kamar kita sayang, ayolah!" Gavin kembali menarik tubuh sang istri, membawanya masuk ke dalam rumah dan segera naik ke lantai atas.


"Mas... Mas!" Diandra mencoba melepaskan tangan ketika mereka sudah sampai di depan kamar Gavin, membuat Gavin buru-buru membawanya masuk lalu mengunci pintu kamar.

__ADS_1


Diandra tertegun, bukan apa-apa jujur dia masih belum siap dan begitu takut dan sekarang dia merasa sudah tidak bisa berkutik lagi, dia akan tamat hari ini juga! baru Diandra hendak berpikir, Gavin sudah merengkuh tubuhnya dari belakang, memeluknya begitu erat sambil menyusuri tengkuk leher Diandra.


Diandra menggeliat, hembusan nafas Gavin menyapa tengkuk dan lehernya, dengan begitu lembut, sebuah aksi yang sukses membuat Diandra meremang seketika, sebuah sensasi aneh menjalar hampir ke seluruh tubuh Diandra, membuat otaknya kembali mengingat mimpi erotis yang pernah menghampiri tidurnya dulu, teringat sensasi luar biasa yang dia dapatkan dari sentuhan jemari Gavin di inti tubuhnya.


Tanpa sadar Diandra melenguh pelan, hampir sekujur tubuhnya meremang luar biasa terlebih tangan kekar itu tidak hanya memeluknya sekarang tetapi sudah menyusup sampai ke mana-mana, membuat Diandra makin pontang-panting tidak karuan.


"Masss..." wajah Diandra memanas, tubuhnya juga! kenapa rasanya sentuhan-sentuhan itu benar-benar membuatnya gila?


"Ya?" kembali Gavin berbisik tepat di telinga Diandra, seperti sengaja berbisik lirih dengan nada sensual plus bonus kecupan di daun telinga sang istri, sebuah tindakan yang cukup untuk membuat tubuh Diandra bergetar sedikit.

__ADS_1


Nafas Diandra terengah, tubuhnya mulai berkeringat efek panas yang menjalar hampir di sekujur tubuhnya, Gavin memutar perlahan wajah sang istri, menatap dalam ke mata dengan meraih bibir itu dengan begitu lembut.


Kini Gavin bisa dengan tenang dan leluasa melakukan apapun yang dia mau bersama sang istri, meneguk apa yang seharusnya sudah dia nikmati sejak beberapa hari yang lalu, tangan Gavin konsisten memancing sang istri, berusaha membakar Diandra agar Diandra tidak terlalu terkejut dengan apa yang akan Gavin lakukan kepadanya.


__ADS_2