
"Eh... kamu, Vin? Sini masuk!"
Gavin tersenyum, melangkah masuk ke dalam ruangan obsgyn nge hits di i*stagram itu. Dia nampak tengah sibuk menatap layar ponsel. Benda yang langsung dia letakkan ketika Gavin muncul dari balik pintu.
"Gimana? Diandra baik-baik saja, bukan?" tanya Rizky lebih dulu sebelum Gavin buka suara.
"Itu yang hendak aku tanyakan kepadamu. Istri dan calon anakku benar baik-baik saja, kan, Riz?" Gavin nampak serius menatap sejawatnya itu. Tentu dia sangat mengkhawatiran dua orang yang begitu dia cintai di dalam hidup Gavin ini.
Rizky tersenyum,
"Apakah kamu berpikir bahwa aku membohongimu, Vin?"
Kontan Gavin menggeleng. Dia tidak bermaksud untuk meragukan Rizky atau menuduhnya berbohong. Bukan itu maksud Gavin! Dia hanya ingin memastikan bahwa apapun yang tadi terjadi pada Diandra, itu tidak akan berdampak apa-apa baik bagi Diandra maupun kandungan nya.
"Bukan begitu, aku hanya hendak memastikan dan bertanya beberapa hal tentang kehamilan istriku, Riz." Jelas Gavin sebelum Rizky berburuk sangka terhadapnya.
"Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi tadi. Apakah Diandra cerita padamu?"
__ADS_1
Mata Rizky tampak membelalak.
"Dia belum cerita kepadamu, Vin?"
Gavin menghela napas panjang, dia menggelengkan kepalanya perlahan. Bagaimana Diandra mau bercerita kalau tadi ada badai yang tidak sengaja mampir ke IGD dan sialnya tepat berada di depan brankar Diandra?
"Jadi begini ceritanya, Vin...."
###########
Entah untuk yang keberapa kali Aliya nampak terkejut sore ini. Mulutnya setengah terbuka dengan mata melotot. Sudah Diandra duga, gadis itu akan sangat terkejut dengan cerita Diandra perihal masa lalu orang-orang yang mereka sayangi.
"Aku bener-bener nggak nyangka kalau ceritanya macam itu, Kak." Desisnya dengan suara parau.
"Kakak juga nggak nyangka, Aliya. Tapi mau bagaimana lagi? Ceritanya memang seperti itu dan kita tidak bisa merubah sejarah, bukan?"
Aliya tersenyum, dia menyeka air mata yang masih menitik di matanya. Sebenarnya anak seusia Aliya tidak seharusnya tahu dan melihat pertengkaran sengit tadi. Dia masih begitu belia dan belum pantas memikirkan atau bahkan terjun langsung ke dalam masalah ini.
__ADS_1
Tapi apa daya? Keadaan memaksa Aliya harus ikut terlibat. Ikut menelan pil pahit dari perbuatan yang di lakukan Ibunya sendiri.
"Kalau begitu, Om Gavin itu beruntung sekali ya, Kak?" Aliya tersenyum, menatap Diandra yang masih berbaring di atas brankar.
Kini gantian Diandra yang mengerutkan keningnya,
"Beruntung? Beruntung yang bagaimana, Aliya?"
"Iya beruntung." kembali senyum itu tersungging di wajah Aliya.
"Beruntung karena sekarang tidak harus berada di posisi Papa. Beruntung karena kemudian, Om Gavin bisa dapat pengganti yang luar biasa lebih baik seperti Kakak."
Diandra menghela napas panjang, dia benar-benar terenyuh dan iba dengan semua hal yang terjadi pada Aliya. Besar harapan Diandra bahwa kelak Aliya bisa tetap bertumbuh tanpa trauma yang mungkin saja hinggap di dalam benak gadis iu saat ini. Masalah yang dia hadapi bukan masalah sembarangan. Atau mungkin setelah ini sang Papa perlu membawa Aliya ke psikiater? Untuk memulihkan mentalnya dari tekanan yang bertubi-tubi dia dapatkan dan tentu saja untuk membuat Aliya bisa menerima kenyataan bahwa selama ini orang tua yang di matanya begitu sempurna, memaksanya sempurna, tidak terlihat sesempurna yang terlihat selama ini.
############
Mampir ke novel baru ku yah..
__ADS_1
"Pria Pilihan Kakek"
mksh sebelumnya😊🙏