Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Baik-baik saja kan?


__ADS_3

"Kali ini kakak yang bayar, kalau kamu nolak Kakak balikin novel yang kamu kasih tadi," ancam Diandra ketika mereka sedang memesan ayam goreng kenamaan yang terkenal.


Aliya lantas nyengir lebar, dia mengangguk pasrah membiarkan Diandra membayar makanan yang dia pesan, mereka lantas duduk di salah satu meja yang ada di dekat kaca, makan sambil menikmati lalu lalang jalan tentu lebih asik bukan?


"Kak jam balik sekolah dua jam lagi, nanti antar ke sekolah aja yah?" pinta Aliya sebelum potongan kentang goreng itu hendak masuk ke dalam mulut.


Alis Diandra berkerut, mengunyah ayam goreng tepung pilihannya dan menelannya dengan susah payah, gadis itu nampak sudah asik mengunyah kentang yang sudah dia cocol ke saus sambal.


"Kenapa nggak ke rumah?" tanya Diandra dengan alis berkerut, dia tidak keberatan mengantar gadis itu sampai di depan rumah, Diandra tidak akan buka suara perihal membolosnya Aliya tadi, ya meskipun dia tidak yakin pihak sekolah akan diam saja dengan aksi alpa gadis satu ini.


"Aku ada sopir yang tiap hari antar jemput Kak, nanti kalau aku nggak balik sama sopir bisa semalaman kena ceramah," jelasnya dengan senyum kecut.


Wah dia punya sopir pribadi, sepertinya Aliya bukan anak orang biasa, Diandra lantas mengangguk cepat, apa sajalah yang penting dia tidak mengajak atau membawa gadis itu melakukan atau pergi ke tempat yang tidak-tidak.


"Males banget Kak kemana-mana harus dengan sopir kayak nggak bebas gitu," curhat gadis itu dengan mulut penuh kentang.


"Nggak asik yah? kenapa nggak minta bawa motor atau mobil sendiri?" kalau Diandra dulu lebih memilih naik motor sendiri daripada diantar ****** yang biasanya malah sibuk tebar pesona dan modusin teman-teman Diandra di sekolahan.


"Mana boleh anak dua belas tahun bawa motor sendiri Kak?" ucap Aliya.


Diandra hampir saja menyemburkan soda yang memenuhi mulut ketika mendengar pengakuan Aliya yang mengatakan bahwa dia baru dua belas tahun.


"Apa?" mata Diandra membelalak.


"Kamu masih dua belas tahun?" tentu Diandra masih tidak percaya, dua belas tahun sudah SMA? ya walaupun banyak juga anak tiga belas tahun bahkan sudah masuk FK.


Aliya nyengir lebar,, kepala mengangguk pelan, dia bergegas menelan makanan yang ada di dalam mulut begitu mulutnya kosong dia kembali bersuara.

__ADS_1


"Akselerasi kak, Mama ambisi banget sama nilai akademis ku, hal yang bikin aku sebenarnya ingin ikut Papa saja daripada ikut Mama," kembali wajah itu menjadi mendung membuat Diandra tiba-tiba tidak lagi bernafsu maka.


Diandra meletakkan ayam, meneguk soda lalu menatap Aliya dengan seksama.


"Jadi kamu selama ini ikut kelas akselerasi karena tekanan dari Mama kamu?" sebuah pertanyaan yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Aliya.


"Mama sudah atur semua Kak, setelah ini aku ke mana, harus apa, semua sudah diatur sedemikian rupa, sedangkan Papa..." suara itu tercekat nampak mata Aliya memerah membuat Diandra lantas membuka tas dan mengeluarkan tisu.


"Kalau itu berat untuk dipendam dan disimpan sendiri cerita coba sama kakak, meskipun Kakak nggak bisa bantu apa-apa, setidaknya kamu sudah lega karena beban yang kamu simpan berkurang, Aliya," desis Diandra lirih, nampak Aliya menarik tisu untuk menyeka air matanya.


"Sebagai jaminan Kakak nggak bocorin apa yang kamu ceritakan, tidak usah sebut siapa nama orang tua, kerja di mana, jadi kita cukup kenal masing-masing individu, oke?" ucap Diandra lagi.


Aliya lantas mengangguk, dia ikut mengabaikan kentang gorengnya, fokus pada obrolan yang hendak mereka lakukan, dia menghela nafas dalam menghembuskan perlahan lalu kembali bersuara.


"Papa benar-benar first love nya Aliya Kak, dia benar-benar laki-laki terhebat yang pernah Aliya kenal seumur hidup, Papa nggak pernah maksain belajar, nggak pernah maksain harus tetap jadi nomor satu, Papa selalu bilang lakukan apa yang kamu mau, apa yang kamu suka selama itu positif dan tidak merugikan orang lain, jadi dirimu sendiri karena hidup ini kamu yang menjalani bukan orang lain," ucap Aliya.


"Benar sih, apa yang Papamu katakan itu benar, Kakak setuju," tentu Diandra setuju, dia sudah merasakan bagaimana prinsip itu dalam hidupnya, orang tuanya selalu support bahkan ketika Diandra harus menikah muda, demi menepati sumpahnya Darmawan tidak mempersulit, yah setahu Darmawan kan Diandra menikah atas kemauan dia sendiri, mana calonnya macam Gavin. Bapak mana yang nggak klepek-klepek?


"Tapi Mama nggak kayak gitu Kak, Mama pemikirannya beda," kembali Aliya menyeka air matanya.


Diandra tersenyum, wajar terjadi kalau masalah perbedaan prinsip antara suami istri, tapi kalau begitu ekstrim agaknya jadi begitu sulit, apakah itu yang lantas membuat orang tua Aliya kemudian memilih bercerai?


"Memang terkadang seorang ibu itu terlampau overthinking sama anak, Aliya. Jadi mereka sibuk memikirkan dan merancang sesuatu yang bagi mereka itu yang terbaik untuk anak mereka, ya walaupun terkadang hal itu salah besar," ucap Diandra.


Aliya mengangguk, wajahnya berubah sedih, matanya kembali berkaca-kaca membuat Diandra tersenyum dan meraih tangan Aliya untuk sekedar memberinya semangat.


"Meskipun Papa bukan suami yang baik dia tetap jadi cinta pertama Aliya Kak, dia Ayah terbaik sampai kapanpun itu," Aliya terisak membuat hati Diandra mendadak terenyuh.

__ADS_1


"Kangen Papa pasti? Papa masih di Bali?" tanya Diandra yang tidak tahu harus bilang apa lagi.


Aliya mengangguk, menyeka air mata dan menghirup udara banyak-banyak, dia nampak menegakkan wajah mencoba tetap kuat dan mencoba menghentikan air mata.


"Telepon atau video call coba kalau kangen, Aliya," ucap Diandra.


Aliya tersenyum dengan lelehan air mata, dia menggelengkan kepala.


"Nggak bisa Kak, nomor Papa udah Mama blokir permanen dari ponsel aku, aku nggak punya kontak lagi," ucap Aliya.


Diandra tercengang, apa yang sudah terjadi sampai-sampai Ibu dari gadis ini memblokir akses Aliya untuk sekedar memberi kabar atau menanyakan kabar Ayahnya, kesalahan apa yang sudah Ayah Aliya lakukan?


Tunggu!


Tadi Aliya bilang kalau Papanya bukan suami yang baik, apa jangan-jangan...


"Kenapa begitu?" daripada bertanya-tanya lebih baik bertanya langsung bukan?


"Papa selingkuh Kak, hal yang kemudian membuat Mama memutuskan bercerai," jawab Aliya.


##########


Gavin melirik smartwatch nya lalu meraih ponsel, dia tengah menunggu jadwal operasi yang tinggal beberapa menit lagi, ke mana istrinya? kenapa tidak lagi memberi Gavin kabar? Diandra baik-baik saja bukan?


Gavin mengetik pesan mengeluarkan semua kekhawatirannya melalui pesan yang akan dia kirim ke nomor sang istri, tidak tahukah Diandra kalau Gavin sejak tadi begitu khawatir pada Diandra?


( Dian, baik-baik saja kan? jangan lupa makan siang sayang, Mas sayang kamu )

__ADS_1


__ADS_2