
Kiki menatap cokelat itu sambil rebahan. Sudah cukup lama cokelat itu jadi penghuni rak stock persediaan makanan. Namun dia sama sekali belum berniat untuk membuka dan memakan cokelat itu. Sayang sekali kalau dimakan.
Ingat cokelat itu membuat Kiki kembali teringat sosok lelaki pemberi cokelat. Siapa lagi kalau bukan si kampret tengil Dokter Derren?
Kiki tersenyum, membayangkan wajah Dokter itu, hatinya terasa begitu hangat dan sedikit berbunga bunga. Tetapi kalau ingat bagaimana suara dan sikap menyebalkan lelaki itu... Ah! Kepala Kiki rasanya mau pecah. Kiki membanting cokelat itu di sisi kepalanya. Kesal dan gemas dengan orang yang memberi cokelat. Andai saja orangnya kecil, mungkin akan Kiki banting juga macam cokelat di sisinya ini. Sayangnya badan Derren segede gajah, mana kuat Kiki mengangkat tubuh itu untuk dia banting?
"Kenapa ada sih orang kayak kamu begini?" Gerutu Kiki kesal.
Bayangan sikap dan wajah Derren dalam mode on tengil berkelebat dalam benak Kiki.
Wajah dan suara-suara menyebalkan Derren kembali terngiang, jangan lupa sikap dan kelakuan Derren yang suka ringan tangan dan suka menganiaya dirinya. Ngidam apaan sih dulu emaknya bisa punya anak macam itu? Agaknya dia punya bibit psikopat!
Tangan Kiki terulur meraih kembali cokelat yang tadi dia hempaskan begitu saja. Tidak ada yang spesial dari bungkus cokelat itu. Rasanya pun sama dengan cokelat merk lainnya, bedanya ini lebih lembut, membuat Kiki lebih suka cokelat merk ini daripada merk lain. Dan untuk cokelat yang sedang dia pegang sekarang Kiki rasanya begitu sayang hendak memakannya.
"Apa kayak gini yang dulu Diandra rasain ya?" Kiki mencoba menerawang.
"Dokter Gavin emang ganteng tapi sikapnya ngeselin setengah mati." Desis Kiki sambli memvisualkan bayangan pengantin baru itu.
Alis Kiki berkerut. Apa yang dia pikirkan? Dia berpikir seperti apa yang Diandra pikirkan? Bahwa dia dan Derren berjodoh? Kenapa bisa sampai sana pikiran Kiki ini?
"Nggak! Nggak mungkin!" Kiki menggeleng perlahan.
"Ogah aku jadi bininya, ogah!" Kiki kembali menjatuhkan cokelat itu. Menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tapi dalam hati Kiki tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan sekarang. Dia benci dengan Derren? Sudah jelas iya. Tapi Kiki tidak bisa memungkiri ada secuil rasa kagum yang dia miliki untuk Derren!
"Astaga, aku ini kenapa?"
##########
"Jangan bilang kamu masih berusaha deketin adek ku, Ren!"
Derren mendesah. Kenapa sih Drian jadi su'udzon mulu kepadanya? Memang dulu Derren punya niatan yang seperti itu. Tapi itu kan dulu! dan sekarang...
__ADS_1
"Derren, please dong! Jangan gang..."
"Drian, aku udah nggak minat dan berniat apapun sama adek mu! Serius!" Ujar Derren menegaskan.
Hening.
Mungkin kalau mereka berhadapan sekarang, Derren bisa melihat bagaimana wajah itu masih ternganga dengan mulut setengah terbuka. Drian pasti terkejut, kan? Atau dia masih belum bisa percaya dengan apa yang Derren katakan?
"Aku rasa, aku naksir sama orang Drian. Orang yang bikin ambisi aku ke Diandra lenyap seketika." Entah mengapa, semenjak kecelakaan beberapa hari yang lalu, otak Derren diganggu bayangan gadis itu. Siapa lagi kalau bukan Kiki? Lulusan Kedokteran yang sok-sokan ngaku anak seni tari semester akhir.
Harusnya kemarin Derren uji dulu, suruh dia nari Jaipong kek, Manipuri atau Bondhan juga boleh! Untuk sekedar membuktikan apakah benar dia mahasiswi tingkat akhir Fakultas seni tari bukan asal main percaya dan hampir jantungan ketika melihat gadis itu ada di IGD dengan setelan scrub dan sedang hectic luka pasien. Kurang ajar memang!
"Serius? Baguslah kalo kamu udah move on, Derren!" Suara itu menampakkan kelegaan yang luar biasa. Sudah Derren tebak sih akan begini respon Drian. Dia pasti bahagia Derren sudah tidak lagi berharap pada Diandra, sang adik.
"Aku udah ngomong, kan. Kamu bisa dan mampu move on. Cuma selama ini kamu kepala batu sih, dari dulu udah aku bilangin, Diandra itu susah-susah gampang dan elu ngeyel!"
Derren terkekeh. Memang sih, Drian ada benarnya. Tapi yang jadi masalah, dulu Derren kira Diandra bersikap seperti itu karena dia masih labil. Jadilah Derren pilih memendam semua perasaannya dan pilih menanti Diandra sudah lebih matang sedikit.
Eh... Begitu sudah matang dan siap petik, malah lelaki lain yang panen, kan kurang ajar!
"Tapi aku ada masalah rumit nih, Drian, soal itu cewek."
Senyum Derren lenyap, ini masalah menurutnya begitu serius. Masalah yang membuat dia takut akan kembali ditolak.
"Apa? Jangan bilang kamu naksir bini orang?" Sebuah pertanyaan yang sontak membuat Derren membelalak.
"Sembarangan!" maki Derren kesal.
"Cukup sekali aku naksir bini orang, Drian. Dan itu cukup adek mu." Derren menghela napas panjang, bersiap menceritakan masalah pelik yang membuatnya sedikit parno.
"Lah terus? Dia janda? Takut nyokap sama Bokap mu nggak setuju?"
Derren menepuk jidatnya sambil geleng- geleng kepala. Otak Drian kenapa mikirnya sampai sejauh itu sih? Heran!
__ADS_1
"Please lah, dengerin aku ngomong dulu kenapa sih, daripada kamu punya pikiran yang nggak-nggak kayak gitu!"
Terdengar suara tawa begitu keras dari seberang, membuat Derren rasanya ingin meminjam pintu kemana saja milik Doraemon hanya untuk menghampiri Drian dan menonyor kepalanya keras-keras.
"Aku matiin nih telpon!" Ancam Derren ketika Drian tidak berhenti tertawa.
"Sorry, Sorry!" Desis suara itu tegas meskipun tawa itu masih sedikit terdengar.
"Cerita deh kalo gitu! aku dengerin nih!"
Derren menghela napas, kembali merebahkan tubuh sambil menatap langit -langit kamar.
"Dia anak koas, Drian. Tapi sebelum dia masuk koas, aku udah lebih dulu ketemu sama dia. Dia anaknya rame, ngeselin tapi aku ngerasa klop banget sama dia, di hari pertama aku ketemu dan kenal sama dia," Mata Derren tidak lepas dari langit kamarnya. Benda yang awalnya putil bersih itu mendadak penuh dengan wajah dan senyuman Kiki.
"Wah bagus dong! Sekali ketemu langsung cocok gitu!"
"Tapi masalahnya"
"Apa sih? Dia jelek? Atau kurang bohay?" Kembali Prince memotong.
"Bawa ke sejawat kulit kelamin, kan beres? Atau ke bedah plastik sekalian deh!"
Derren mengeram, dia benar-benar ingin menimpuk dan menghajar Drian saat ini juga. Tapi sayang seribu sayang, jarak mereka terbentang begitu jauh.
"Drian, aku lempar lemari pakaian dari sini mau, lu?" Umpat Derren kesal. Ini anak kesambet apa sih? Kenapa makin somplak begini?
"Lah, terus apa masalah kalian? Dari tadi nggak bilang-bilang!" Gumam suara itu sewot.
"Gimana aku mau lanjut cerita kalo kamu memotong terus, Drian!" Kepala Derren mendadak pusing. Kalau dipikir-pikir memang lebih baik dia tidak jadi nikah sama Diandra. Bisa gila Derren punya kakak ipar model Drian begini. Bersahabat tahunan dengan dia saja sudah bikin kepala Derren kadang berdenyut.
"Ya udah cepetan bilang!"
Derren menghela napas panjang, apa tanggapan Drian ketika tahu masalah apa yang jujur mengganjal di hati Derren.
__ADS_1
"Dia sahabat deket adek mu, Drian. Dia sahabatnya Diandra"