
"Kiki!"
Diandra berteriak, setengah berlari mengejar Kiki yang nampak melangkah menyusuri koridor rumah sakit. Kiki menoleh, menatap sahabatnya dengan alis berkerut. Ada apa sih? Nongol langsung teriak-teriak nggak jelas!
"Apaan sih, Dian? Ini rumah sakit, jangan teriak-teriak begitu lah!" Kiki menghela napas panjang, menanti Diandra bicara setelah menetralkan napas.
"Kau ini... Baru aja koas udah ada gandengan! Siapa sih?" Diandra ngos-ngosan. Nampak bulir keringat menempel di dahi Diandra.
Kiki memutar bola matanya dengan gemas. Mendengar pertanyaan itu malah membuat Kiki dongkol. Wajahnya ditekuk, otaknya otomatis memproyeksikan wajah tengil Derren. Membuat mood Kiki yang sudah hampir membaik mendadak kembali hancur lebur.
"Gandengan apaan? Dapat mimpi buruk yang ada!" Desis Kiki sambil mencebik. Dia melanjutkan langkahnya menyusuri koridor rumah sakit.
Diandra mengejar langkah Kiki. Kenapa lagi sahabatnya itu? Kok mukanya jelek begitu? Diandra pun bertanya-tanya, apakah yang dia maksud mimpi buruk itu adalah Derren? Senyum Diandra merekah, dia mengejar langkah Kiki yang nampak tergesa.
"Tadi dijemput siapa sih? Hayo?" Goda Diandra sambil nyengir. Kalau benar Derren, Diandra akan dukung!
"Ah jangan dibahas ah, Dian. Bikin keki yang ada!" Kembali Kiki mencebik, membuat Diandra makin tidak mengerti, sebenarnya Kiki kenapa sih? Baru PMS?
Kiki terus melangkah, diikuti Diandra yang mengekor di belakangnya. Mereka harus segera tiba di bangsal sebelum jadwal visit Dokter Arif dimulai lima menit lagi. Kalau sampai telat? Dokter satu itu tidak akan segan-segan memberi mereka hukuman yang cukup pedih dan menyakitkan!
Diandra penasaran, tapi dia belum berani bertanya lebih lanjut. Sementara Kiki, kembali teringat obrolan mereka di mobil beberapa saat yang lalu.
"Hah, mau jemput tiap hari?" Kiki melonjak kaget, dia menoleh menatap Derren yang nampak begitu santai mengemudi.
"Hoo, aku jemput nanti!" Ulangnya masih begitu santai.
"Ogah!" Tolak Kiki tegas.
"Eh! jarang-jarang nih aku mau jemput cewek! Dan kau malah nolak?" Derren menoleh, matanya melotot kesal.
Kiki balas menoleh dan melotot rasanya dia ingin memukul kepala Derren sampai jatuh pingsan. Tapi masalahnya, Kiki belum bisa nyetir mobil! Siapa nanti yang menyetir kalau Derren pingsan?
"Kalau jemputnya pakai ngomel, pakai kebanyakan protes, pakai main tangan dan pakai ngeledek, aku pilih berangkat sendiri naik motor atau ojek online!" Tegas Kiki dengan suara ditekan.
Derren membisu, hanya melirik Kiki sekilas lalu kembali fokus pada jalanan. Kiki sendiri pun sama. Bersandar santai dengan tangan dilipat di dada.
"Kalau nggak pakai ngomel, protes dan lain-lain, kamu mau dijemput?"
__ADS_1
Kiki melonjak, dia melirik Derren dengan sedikit takut. Kenapa jadi bernafsu sekali Derren hendak menjemput dirinya? Ada maksud dan tujuan apa dibalik semua keinginan dan niat yang Derren punya ini?
"Maksa banget sih? Nggak ada cewek lain yang bisa dan mau dijemput?" Tanya Kiki penasaran.
"Ah! Kau ini!" Derren mendesah.
"Bukan nggak ada dan nggak mau, akunya yang nggak mau! Mereka mah antri deketin aku. Entah kau aja ini yang sentimentil sama aku, heran!"
Kiki mendecih.
"Masalahnya kamu itu ngeselin banget, Mas. Aku jadi males!" Jawab Kiki apa adanya tanpa tedeng aling -aling.
"Gitu ya?"
Kiki mengeram, inhale - exhale. Berulang-ulang Kiki melakukan hal itu. Memastikan suplai oksigen dalam darahnya stabil hingga dia bisa dalam kondisi sadar apapun yang kini tengah dia rasakan. Kiki takut bablas pingsan kalau berurusan dengan lelaki ini!
"Mboh ah, Mas! Karepmu!" Desis Kiki pasrah.
Derren menjentikkan jarinya.
"Besok aku jemput berarti. Itu katanya terserah?"
########
"Dia kayak sentimen banget sama aku, Drian!" Derren bersandar di kursi, siapa lagi yang dia telepon kalau bukan Drian? Mumpung dia belum harus stand di IGD.
"Kamu parah! Kalo kamu kejarnya sampai sebegitu ya dia auto ilfeel, Derren!" Maki Drian dari seberang
Derren mendesah.
"Aku trauma sama kisah ku dengan Diandra, Drian. aku stay kalem dan santai eh taunya dikawinin orang lain sekarang yang ini aku nggak mau lepas pokoknya!"
"Astaga!"
Derren mengetuk pulpen di atas meja. Dia jadi bingung sekarang, memang salah kalau dia langsung mau mepet si Kiki terus? Dia benar-benar takut kalau dia didahului orang! Terlebih pesona residen tentu tidak bisa Derren saingi! Tak peduli si residen sebenarnya sudah beristri.
"Ya tapi nggak gitu juga, Derren! Kau ini bego amat sih urusan kayak gini, heran aku!" Maki Drian kesal.
__ADS_1
"Yang ada kalo kamu terusan kayak gitu, dia lari, Derren!"
"Terus aku harus gimana, Drian?" Derren pasrah sekarang. Dia memang tidak punya pengalaman untuk masalah seperti ini
"Dengar dan ingat ini baik baik. Jalanin dan ikutin, aku jamin dia bakalan luluh!"
Derren membetulkan posisi duduknya, hendak menyimak petuah apa yang akan playboy cap karet itu berikan padanya. Diandra boleh saja lepas. Derren sudah ikhlas toh kesalahan Derren juga di masa lalu tidak terlalu gigih berjuang. Tapi untuk kali ini... Kiki tidak akan Derren biarkan lepas!
"Jadi yang harus kamu lakuin itu...."
########
"Serius? Dia mau jemput kamu tiap hari, Ki?" Mata Diandra berbinar. Agaknya Derren serius hendak membidik Kiki. Baguslah kalau begitu! Diandra bisa tenang sekarang, Bukan hanya dia, Gavin juga pasti akan tenang dan damai.
"Tapi aku ogah, Dian!" Kiki kembali menekuk wajah.
"Ketemu dia aja jujur aku empet, Dian. Kelakuan dia itu loh, aku ilfeel"
Tawa Diandra pecah. Dia terbahak-bahak hal yang membuat Kiki lantas menggebuk gemas punggung Diandra yang terbahak dengan wajah memerah.
"Dian... Aku nggak peduli suami kamu dosen dan mungkin besok jadi konsulen aku di stase bedah, ya, kalo aku nampol ya nampol bener nih!" Ancam Kiki dengan bibir mengerucut.
Diandra mengangguk.
"Ya maaf, habis kamu itu lucu!"
Alis Kiki bertaut.
"Lucu apanya? Serius aku!" Kiki tidak terima, kenapa dia malah ditertawakan Diandra?
"Ya lucu aja. Dulu aku ngerasain hal itu pas masih kesal sama Mas Gavin, eh kamu ketawain! Sekarang mau tau rasanya? Ya kayak gini!"
"Eh!" Alis Kiki berkerut.
"Aku pun sama ilfeel nya sama kayak apa yang kamu rasain. Empet tiap liat Mas Gavin! lifeel banget sama dia. Dan dulu apa tanggapan kamu? Heh?" Balas Diandra dengan seringai lebar.
Kiki melongo, mendadak dia seperti di tampar. Jadi ini macam senjata makan tuan? Eh salah, ini macam bumerang atau malah ini karma dulu Kiki mengejek Diandra di awal kenal dengan suaminya?
__ADS_1
"Ki, ingat omonganku... Kalian jodoh!"