
"Apa jadi semalam kalian nggak ***-*** Dian?" suara itu terdengar begitu menggelegar di telinga Diandra, seolah-olah dia mengatakan pada Kiki bahwa dia baru saja bergabung dengan ISIS dan Taliban.
Diandra sampai melonjak kaget, memang setelah peristiwa kemarin, tidak ada lagi yang terjadi kecuali Diandra yang tidak bisa tidur semalaman, dia baru bisa tidur sekitar pukul tiga pagi dan pagi ini, dia mendapati sisi kasur di sebelahnya kosong padahal baru pukul tujuh pagi, kemana sosok suaminya itu pergi? Ah... sebodoh amat deh! yang jelas dia benar-benar menepati janjinya dan Diandra tetap aman!
Mendadak Diandra kembali terbayang dekapan erat Gavin sesaat setelah bibir mereka berpangut, kenapa tubuhnya seolah begitu nyaman dengan dekapan hangat itu? kenapa rasanya....
"Woi Dian, kamu nggak mendadak budek, kan?" kembali Kiki memekik, membuat Diandra terkejut dari lamunannya akan pelukan sang suami kemarin malam.
"Nggak lah! gila aja!" Diandra balas berteriak, matanya membelalak dengan bibir mengerucut, yah walaupun dia tahu Kiki tidak akan bisa melihat pelototan matanya, entah mengapa dia refleks melakukan itu.
"Bagaimana bisa sih kalian nggak melakukan itu? kan udah sah, Dian," nampak suara itu masih belum terima.
"Udah halal kalian mah, kalau mau begituan sehari sepuluh kali pun, kalau kuat ya nggak masalah," ucap Kiki.
Diandra kembali membelalak, sehari sepuluh kali? lah kenapa jadi hyper begini? Astaga... baru tahu Diandra kalau Kiki ternyata se somplak ini!
"Please yah, Ki! kan dia sendiri yang udah janji, ya jadi nggak salah dong kalau kita nggak begituan kemarin," ucap Diandra yang gemas setengah mati dengan makhluk satu ini.
"Lagian kenapa sih kamu ngebet banget aku begituan, heh?" tanya Diandra.
Terdengar helaan nafas panjang dari seberang, membuat Diandra ikut menghela nafas panjang, rasanya dia ingin mematikan saja telepon ini secara sepihak, tapi agaknya Diandra masih ingin mengomeli Kiki atas apa yang dia kirimkan kemarin, video itu membuat Diandra hampir diperkosa! sekarang Diandra sadar bahwa memang peredaran video asusila seperti itu sangat berbahaya.
"Ya iyalah! aku pengen lihat hasil persilangan kalian nanti seunggul apa hasilnya, Dian," ucap Kiki dengan suara yang terdengar begitu menyebalkan sekali di telinga Diandra.
"Eh tunggu!" ucap Kiki.
__ADS_1
Alis Diandra berkerut, tunggu apaan? mau ke mana Diandra memang sampai-sampai Kiki meminta dia menunggu? Diandra masih dengan sabar meladeni Kiki yang entah kenapa jadi begitu absurd.
"Kalau seumpama Dokter Gavin nggak janji sama kamu, kamu juga tetap bakalan nolak dia? tetap nggak bakalan mau ngelayanin dia? tanya Kiki.
Sebuah pertanyaan yang otomatis membuat Diandra tertegun, otaknya langsung membayangkan bagaimana jadinya mereka kemarin kalau Gavin tidak terlanjur berjanji, apakah malam tadi akan mereka habiskan dengan begitu panas? apakah Gavin akan tetap bisa menerima penolakan Diandra atau dia malah berlaku kasar dan memaksa Diandra melayani nafsunya?
Gavin normal, Diandra bisa lihat dan rasakan betapa sorot mata Gavin semalam begitu menginginkan dirinya, terlebih ketika menindih tubuhnya semalam, Diandra bisa merasakan bahwa milik suaminya itu sudah....
"Dian, kamu kenapa sih? sehat kan?" kembali suara Kiki membuat Diandra tersentak.
"Tentulah aku sehat!" ucap Diandra tidak mau ketahuan tengah membayangkan yang tidak-tidak oleh sahabatnya itu.
"Aku cuma mau bilang sesuatu, Dian. Bagaimanapun, tidak peduli kalian nikah cuma karena hal gila yang terjadi pada hidup kalian, kalian ini tetap sah loh suami istri, dan jangan lupa menolak ajakan suami itu dosa loh, Dian," kalimat itu begitu tenang terdengar di telinga Diandra yang makin membuat hatinya jadi tidak karu-karuan, dosa? jadi Diandra sudah berdosa pada suaminya sendiri? tetapi kan Gavin berjanji kepadanya.
"Kenapa nggak coba lihat Dokter Gavin dari sisi lain? bukan dari pandanganmu tentang dia sebagai Dosen menyebalkan, coba kali ini pandang dia sebagai suami, Dian. Partner hidup kamu!" jelas suara itu dengan lembut.
"Kalian ini perfect couple banget loh, banyak di luar sana gadis yang iri sama kamu, ayolah buka mata, buka hati, Dian" ucap Kiki.
Otak Diandra mendadak blank, dia sama sekali tidak bisa menyusun kalimat balasan untuk tiap kata-kata yang meluncur keluar dari mulut Kiki.
"Jangan sampai penolakan-penolakan menjadi alasan Dokter Gavin buat cari pemuas di tempat lain, ketika kamu nanti sudah menyadari dan jatuh hati sama dia, dia udah terlanjur nyaman sama orang lain, siapa yang menyesal, Dian? banyak! bukan cuma kamu," ucap Kiki.
Iyakah? apakah benar Diandra akan menyesal kalau semua itu terjadi?
"Mama... Papa mu kelihatan bangga banget loh sama suami kamu, mereka bakalan kecewa dan sedih banget kalau rumah tangga kalian kenapa-kenapa, dan bukan hanya mereka, aku juga bakalan ikut sedih, apalagi kalau benar itu terjadi karena kamu yang nggak mau buka hati, nggak mau buka mata dan dengerin nasehat panjang lebar aku ini," ucap Kiki.
__ADS_1
Mata Diandra memanas, bayangan Mama dan Papanya terlintas, bukan hanya bayangan mereka tetapi juga dua Kakaknya semua terlintas dalam benak Diandra sekarang.
"Tapi ya semua kembali ke kamu Dian, kamu yang jalani kan? aku sebagai sahabat kamu cuma bisa kasih saran, dan the last... sebagai sahabat, aku bisa lihat suami kamu itu laki-laki baik, Dian. Jadi tolong jangan sia-siakan, oke?" ucap Kiki.
Tuttttt.....
Sambungan telepon terputus sebelum Diandra sempat membalas semua nasehat yang Kiki lemparkan padanya, pagi ini Diandra bahkan lupa hendak memaki Kiki perihal video tidak bagus yang Kiki kirim ke ponselnya.
Diandra tertegun sesaat, mencoba mencerna semua kalimat yang Kiki katakan padanya tapi jujur di hati kecil Diandra mengakui apa yang Kiki katakan memang ada benarnya, benar banget malah, tapi kenapa sulit hendak mengikuti nasehat itu?
Melihat Gavin dari sisi lain? sisi bahwa sekarang dosen rese itu adalah suaminya? apakah ada sisi lain yang bisa Diandra lihat darinya?
Pintu kamar terbuka, Diandra terkejut dan menatap ke arah pintu, nampak sosok itu muncul dengan kaos dan celana pendek. Masuk di ikuti seorang pegawai hotel yang membawa nampan berisi beberapa piring sajian.
"Taruh meja saja, Mas!" ucap Gavin sambil menunjuk meja dekat sofa.
Diandra tertegun, dia menatap sosok yang pagi itu nampak begitu segar dari semalam, Diandra membisu sampai petugas hotel itu keluar setelah Gavin menjejalkan sesuatu ke tangannya. Gavin mengambil cangkir putih dari meja membawanya ke arah Diandra yang masih membeku di atas tempat tidur.
"Saya bawakan sarapan ke sini dan sebagai permintaan maaf saya buat kejadian semalam, saya harap kamu nggak lantas makin membenci saya kan?" ucap Gavin.
Diandra mendongak, menatap Gavin yang berdiri di tepi ranjang, sosok itu tersenyum membuat mata Diandra lantas berkaca-kacak.
"Dian, kenapa?" bisa Diandra lihat wajah itu langsung panik, dia meletakkan cangkir teh di nakas, duduk di tepi ranjang dan mengelus lembut kepala Diandra.
Entah bisikan dan dorongan dari mana Diandra merengkuh tubuh itu menyembunyikan wajahnya di dada Gavin ketika kemudian tangisnya pecah. Dua lengan kekar itu segera mendekapnya dalam pelukan, membuat rasa hangat itu menjalar ke seluruh tubuh Diandra.
__ADS_1
"Nangis aja dulu, Dian. Nggak papa biar lega, nangis dulu sepuas kamu, saya temenin oke?" ucap Gavin.